Agen Poker Terpercaya
close

www.3MPOKER1.com Agen Judi Online Terbesar, Terbaik dan Terpercaya. Menyediakan 7 Games 1 ID Menarik Seperti : CEME-KELILING , CAPSA , DOMINO , CEME , OMAHA , SUPER-10 Dan POKER , Bonus Bulanan , Bonus Refferal 10% , Bonus New Member 10% , Bonus harian 5.000 , Bonus Rollingan 0,3 - 0,5% , Support Bank : BCA , BNI , BRI ,CIMB , DANAMON Dan MANDIRI Dan Deposit Via Pulsa XL Dan Telkomsel Dan Ovo Juga Ada .

About

Tampilkan postingan dengan label tidur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tidur. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Juli 2019

ngentot kakakku saat dia tidur


Cerita Sex - Sebelumnya kuperkenalkan diri namaku Budi tinggi 170 cm berat badan 55 kg umurku sekarang 20 tahun asalku dari Sragen sekarang aku telah masuk jenjang perguruan tinggi negeri di kota Solo.

Pengalaman seks yang pertama kualami terjadi sekitar 4 tahun lalu, tepatnya waktu aku masih duduk di bangku SMp kelas 2 berumur 14 tahun. Karena rumahku berasal dari desa maka aku kost dirumah kakakku.

Saat itu aku tinggal bersama kakak sepupuku yang bernama Mbak Fitri berusia 30 tahun yang telah bersuami dan mempunyai 2 orang putri yang masih kecil-kecil, namun di tempat tinggal bukan hanya kami berempat tapi ada 2 orang lagi adik Mbak Fitri yang bernama Wina waktu itu berumur 19 tahun kelas 3 SMK dan adik dari suami Kak Fitri bernama Asih berusia 14 tahun.
Kejadian tersebut terjadi karena seringnya aku mengintip mereka betiga saat mandi lewat celah di dinding kamar mandi. Biarpun salah satu dianatara mereka suadah berumur kepala 3 tapi kondisi tubuhnya sangat seksi dan menggairahkan payudaranya montok, besar dan belahan vaginanya woow..terlihat sangat oh..ooght nggak ku-ku bo..
Saat malam hari saat aku tidur dilantai beralaskan tikar, di ruang tamu yang gelap bersama Mbak Wina, awalnya sich aku biasa-biasa saja tapi setelah lama seringnya aku tidur bersama Mbak Wina maka aku akhirnya tak tahan juga.

Malam-malam pertama saat dia tertidur pulas aku cuma berani mencium kening dan membelai rambutnya yang harum. Malam berikutnya aku sudah mulai berani mencium bibirnya yang seksi mungil, tanganku mulai meremas-remas buah dadanya yang padat berisi lalu memijat-mijat vaginanya yang, oh ternyata empuk bagai kue basah yang..oh..oh.., aku melihat matanya masih terpejam pertanda ia masih tertidur tapi dari mulutnya mendesah dengan suara yang tak karuan.

“Ah..ught..hh..hmm” desahan Mbak Wina mulai terdengar.

Tanganku terus bergerilya menjamah seluruh tubuhnya.saat aku menciumi vaginanya yang masih tertutup calana, ia mulai terbangun aku takut sekali jangan-jangan ia akan berteriak atau marah-marah tapi dugaan ku meleset.

Ia malah berkata, “Dik teruskan.. aku sudah lama mendambakan saat-saat seperti ini ayo teruskan saja..”
Bagai mendapat angin segar aku mulai membuka t-shirt yang ia gunakan kini terpampang buah dada yang seksi masih terbungkus BH. BH-nya lalu kubuka dan aku mulai mengulum putingnya yang sudah mengeras gantian aku emut yang kiri dan kanan bergantian.
“Mbak, maafkan aku tak sanggup menahan nafsu birahiku!”
“Nggak apa-apa kok Dik aku suka kok adik mau melekukan ini pada Mbak karena aku belum pernah merasakan yang seperti ini” jawab Mbak Wina.

Setelah puas kupermainkan payudarnya lalu aku mulai membuka rok bawahannya.biar
pun kedaan gelap gulita aku tahu tempat vagina yang menggiurkan, terus kubuka CD nya, lalu kuciumi dengan lembut.

“Cup..cup..sret.. srett”, suara jilatan lidahku.
“Ought..ought..terus Dik enak..!!”
Karena takut ketahuan penghuni rumah yang lain aku dengan segera mengangkan kedua kakinya lalu kumasukkan penisku yang mulai tegang kedalam vaginanya yang basah.

“Ehmm..oh..ehh.. mmhh”, rintih kakakku keenakan.

Setelah kira-kira setengah jam aku mulai merasakan kenikmatan yang akan segera memuncak demikian juga dengan dia.
“Crot..cret..crett.. crett”, akhirnya spermaku kukeluarkan di dalam vaginanya.
“Oh..”
Rupanya ia masih perawan itu kuketahui karena mencium bau darah segar.
“Terima kasih Dik kamu telah memuaskan Mbak, Mbak sayang padamu lain kali kita sambung lagi yach?”
“Ok deh mbak”, sahutku.
Setelah selesai memakai pakaian kembali aku dan dia tidur berpelukan sampai pagi. Sebenarnya kejadian malam itu kurang leluasa karena takut penghuni rumah yang lain pada tahu, sehingga suatu ketika kejadian itu aku ulang lagi.

Masih ingat dalam ingatan hari itu minggu pagi, saat Mbak Fitri dan adiknya Asih bersama keuarga yang lain pergi ke supermarket yang tidak terlalu jauh dari rumah kami.Karena keadaan rumah yang sepi yang ada hanya aku dan Mbak Wina, aku mulai menutup seluruh pintu dan jendela. Kulihat Mbak Wina sedang menyeterika dengan diam-diam aku memeluknya dengan erat dari balakang.

“Dik jangan sekarang aku lagi nyetrika tunggu sebentar lagi yach.. sayang..!” pinta Kak Wina.

Tapi aku yang sudah bernafsu nggak memperdulikan ocehannya, segera kumatikan setrika, kuciumi bibirnya dengan ganas.
“Hm..eght.. hmm.. eght..!”
Karena masih dalam posisi berdiri sehingga tak leluasa melakukan cumbuan, aku bopong ia menuju ranjang kamar.

Kubaringkan ia di ranjang yang bersih itu lalu segera kulucuti semua pakaiannya dan pakaian ku hinggas kami berdua telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menempel. Wow..tubuh kakakku ini memang benar sempurna tinggi 165 cm berat sekitar 50 kg sungguh sangat ideal, payudaranya membusung putih bagaikan salju dengan puting merah jambu dan yang bikin dada ini bergetar dibawah pusarnya itu lho.. bukit kecil kembar ditengahnya mengalir sungai di hiasai semak-semak yang rimbun.

Kami berdua tertawa kecil karena melihat tubuh lawan jenis masing-masing itu terjadi sebab saat kami melakukan yang pertama keadaan sangat gelap gulita tanpa cahaya. Sehingga tidak bias melihat tubuh masing-masing.
Aku mulai menciumi muka tanpa ada yang terlewatkan, turun ke lehernya yang jenjang kukecupi sampai memerah lalu turun lagi ke payudaranya yang mulai mengeras, kujilati payudara gantian kanan kiri dan kugigit kecil bagian putingnya hingga ia menggelinjang tak karuan.
Setelah puas bermain di bukit kembar tersebut aku mulai turun ke bawah pusar, ku lipat kakinya hingga terpampang jelas seonggok daging yang kenyal di tumbuhi bulu yang lebat.

Lidahku mulai menyapu bagian luar lanjut ke bagian dinding dalam vagina itu, biji klitorisnya ku gigit pelan sampai ia keenakan menjambak rambutku.
“Ught..ugh..hah oh..oh..”desahan nikmat keluar dari mulut Kak Wina.


Setelah kira-kira 15 menit aku permainkan vaginanya rasanya ada yang membanjir di vaginanya rasanya manis asin campur aduk tak karuan kusedot semua cairan itu sampai bersih, rupanya ia mulai orgasme.

Mungkin saking asyiknya kami bercumbu tanpa kami sadari rupanya dari tadi ada yang memperhatikan pergumulan kami berdua, Mbak Fitri dan adik suaminya, Asih sudah berdiri di pinggir pintu. Mungkin mereka pulang berdua tanpa suaminya dan kedua anaknya yang masih mampir ke rumah Pakdhenya mereka ketuk pintu tapi nggak ada sahutan lalu mereka menuju pintu daur yang lupa tak aku kunci.

Aku dan Mbak Wina kaget setengah mati, malu takut bercampur menjadi satu jangan-jangan mereka marah dan menceritakan kejadian ini pada orang lain. Tapi yang terjadi sungguh diluar dugaan kami berdua, mereka bahkan ikut nimbrung sehingga kami menjadi berempat.
“Dik main gituan kok kakak nggak di ajak sich kan kakak juga mau, sudah seminggu ini suami kakak nggak ngajak gituan”, ucap Mbak Fitri.
“Ini juga baru mulai kak!” sahutku.
“Mas aku boleh nyoba seks sama Mas?” tanya Asih.
“Boleh”.
Aku dan Kak Wina selanjutnya menyuruh mereka berdua melepas seluruh pakaiannya.
“Ck.. ck..ck..ck..”, guman ku.




Sekarang aku dikerubung 3 bidadari cantik sungguh beruntung aku ini.
Mbak Fitri tubuhnya masih sangat kencang payudaranya putih agak besar kira-kira 36 B vaginanya indah sekali. Sedangkan Asih tubuhnya agak kecil tapi mulus, dadanya sudah sebesar buah apel ukuranya 34 A vaginanya kelihatan sempit baru ditumbuhi bulu yang belum begitu lebat. Pertama yang kuserang adalah Mbak Fitri karena sudah lama aku membayangkan bersetubuh dengannya aku menciumi dengan rakus pentilnya kuhisap dalam-dalam agar air susunya keluar, setelah keluar kuminum sepuasnya rupanya Mbak Wina dan Asih juga kepingin merasakan air susu itu sehingga kami bertiga berebut untuk mendapatkan air susu tersebut, sambil tangan kami berempat saling remas, pegang dan memasukan ke dalam vagina satu sama lain.


Setelah puas dengan permainan itu, aku meminta agar mereka berbaring baris sehingga kini ada 6 gunung kembar yang montok berada di depanku. Aku mulai mengulum susu mereka satu per satu bergantian sampai 6, aku semakin beringas saat kusuruh mereka menungging semua, dari belakang aku menjilati vagina satu persatu rasanya bagai makan biscuit Oreo di jilat terus lidahku kumasukkan ke dalam vagina mereka.



Giliran mereka mengulum penisku bergantian.
“Hoh.. hoo.. hh.. ehmm”, desah mereka bertiga.
Aku yang dari tadi belum orgasme semakin buas memepermainkan payudara dan vagina mereka, posisi kami sekarang sudah tak beraturan. Saling peluk cium jilat dan sebagainya pokok nya yang bikin puas, hingga mereka memberi isyarat bahwa akan sampai puncak.
“Dik aku mau keluar”
“Mas aku juga”
“Aku hampir sampai”, kata mereka bergantian.
“Jangan di buang percuma, biar aku minum!”, pintaku
“Boleh”, kata Mbak Fitri.
Aku mulai memasang posisi kutempelkan mulutku ke vagina mereka satu persatu lalu kuhisap dalam-dalam sampai tak tersisa, segarnya bukan main.
“Srep.., srep”.
Heran, itulah yang ada di benakku, aku belum pernah nge-sex sama mereka kok udah pada keluar, memang mungkin aku yang terlalu kuat.

Karena sudah tidak sabar aku mulai memasukkan penisku de dalam vagina Mbak Wina kugenjot naik turun pinggulku agar nikmat, sekitar 5 menit kemudian aku gantian ke Kak Fitri, biarpun sudah beranak 2 tapi vaginanya masih sempit seperti perawan saja.
“Dik enak.. Uh.. oh..teruss!”, desahnya.
“Emang kok Kak.. hh ehmm..”
“Mas giliranku kapan..?”, rupanya Asih juga sudah tak tahan.
“Tunggu sebentar sayang.”
Sekitar 10 menit aku main sama Kak Fitri sekarang giliran Asih, dengan pelan aku masukkin penisku, tapi yang masuk hanya kepalanya.


Mungkin ia masih perawan, baru pada tusukan yang ke 15 seluruh penisku bisa masuk ke liang vaginanya.
“Mas.. sakit.. mas.. oght.. hhohh..”, jerit kecil Asih.
“Nggak apa-apa nanti juga enak, Sih!”, ucapku memberi semangat agar ia senang.
“Benar Mas sekarang nikmat sekali.. oh.. ought..”
Rupanya bila kutinggal ngeseks dengan Asih, Kak Fitri dan Kak Wina tak ketinggalan mereka saling kulum, jilat dan saling memasukkan jari ke vaginanya masing-masing. Posisiku di bawah Asih, di atas ia memutar-mutar pinggulnya memompa naik turun sehingga buah dadanya yang masih kecil terlihat bergoyang lucu, tanganku juga tidak tinggal diam kuremas-remas putingnya dan kusedot, kugigit sampai merah.


Karena sudah berlangsung sangat lama maka aku ingin segera mencapai puncak, dalam posisi masih seperti semula Asih berjongkok di atas penisku, kusuruh Mbak Fitri naik keatas perutku sambil membungkuk agar aku bisa menetek, eh.., bener juga lama-lama air susunya keluar lagi, kuminum manis sekali sampai terasa mual. Mbak Wina yang belum dapat posisi segera kusuruh jongkok di atas mulutku sehingga vaginanya tepat di depan mulutku, dan kumainkan klitorisnya.

Ia mendesah seperti kepedasan.
“Ah.. huah.. hm..!”
Tanganku yang satunya kumasukkan ke vagina Mbak Fitri, kontolku digarap Asih, mulutku disumpal kemaluan Mbak Wina, lengkap sudah.
Kami bermain gaya itu sekitar 30 menit sampai akhirnya aku mencapai puncak kenikmatan.
“Ought.. hmm.. cret.. crot..”
“Enak Mas..!” desah Asih.
Spermaku ku semprotkan kedalam vagina Asih dan keluarlah cipratan spermaku bercampur darah menandakan bahwa ia masih perawan.

Kami berempat sekarang telah mencapai puncak hampir bersamaan, lelah dan letih yang kami rasakan.
Sebelum kami berpakaian kembali sisa-sisa sperma di penisku di jilati sampai habis oleh mereka bertiga. Setelah kejadian itu kami selalu mengulanginya lagi bila ada kesempatan baik berdua bertiga maupun berempat.


Senin, 22 Juli 2019

AKU TERJEBAK DALAM LAUTAN KENIKMATAN



Cerita Sex - Gerimis turun, padahal mentari masih bersinar, membuai orangorang menikmati senja. Saya bergegas pulang. Keramaian taman makin menghilang. Sibuk orangorang menyelamatkan diri dari titiktitik air.

Lalu menyelamatkan yang lainnya, jemuran pakaian dan kasur. Gerimis meningkatkan frekuensinya menjadi lebat, hujan deras.

Di depan flatku seorang wanita muda mengangkati jemurannya yang cukup banyak. Kelihatannya kurang mengantisipasi akibat baru bangun tidur, masih memakai piyama.

Wisnu, bantuin Tante dong!

Tanpa bicara saya membantunya. Sprei, kelambu, baju, tshirt, dan ih, pakaian dalam.

Bawa ke mana, Tante?

Sekalian ke dalam aja!

Tante Ningrum berjalan didepan saya. Menaiki tangga hingga lantai dua. Saya cukup puas menikmati irama pinggulnya yang saya kira agak dibuatbuat. Saat menghadap ke arah terang, siluet tubuhnya jelas membayang.

Seakan telanjang. Kami masuk ke rumahnya. Tante Ningrum menggeletakkan jemuran di sudut kamarnya, saya pun mengikutinya.

Makasih ya? Kamu mau minum apa? tanyanya yang langsung menghentikan maksud saya untuk langsung pulang.

Apa aja deh, Tante. Asal anget

Saya rebahkan diri di sofanya. Hmm, lumayan nyaman. Tante Ningrum belum mempunyai anak. Yang saya tahu, suaminya, Om yang tak saya tahu namanya itu hanya sekalikali pulang.

Dengardengar pekerjaanya sebagai pelaut. Haha, pelaut. Di mana mendarat, di situ membuang jangkar. Sinis sekali saya.

Om belum pulang, Tante? tanyaku basabasi sambil menerima teh hangat.

Belum, nggak tentu pulangnya. Biasanya sih, hari Minggu. Tapi hari Minggu kemarin nggak pulang juga

Tante nggak kemanamana?

Mau kemana, paling cuma di rumah saja. Kalau ada Om baru pergipergi

Eh, kamu nggak ada keperluan lain kan?

Nggak, Tante, jawabku. Mau apa saya di rumah, sendirian, di tengah hujan yang semakin lebat begini.

Temenin Tante ya. Ngobrol

Kami pun terlibat dalam obrolan yang biasa saja. Sekedar ingin tahu kehidupan masingmasing. Dari ucapannya, saya tahu bahwa suaminya yang jarang pulang bernama Om Agus.

Yang cukup membuat darah saya berdesir agak cepat adalah daster itu. Seakan saya bisa melihat dua titik di dadanya, yang timbul tenggelam ketika kami bercengkrama. Tangan Tante Ningrum cukup atraktif.

Entah sengaja atau tidak sering menyentuh tangan saya, atau mampir di paha saya. Makin lama duduknya pun semakin dekat. Hingga

Wisnu, mau nonton film nggak? Tante punya film bagus nih

Wah untunglah. Rumah saya tidak mempunyai vcd player. Tante Ningrum menyalakan TV lalu memasang film. Dan, astaga ternyata dia benar tidak memakai BH dan celana dalam.

Saya bisa melihatnya jelas karena dia cukup lama berdiri menyamping, cahaya TV membuat gaun tidurnya menjadi selaput transparan. Bentuk payudara beserta putingnya beserta rambut di pangkal paha. Saya lebih ternganga lagi karena film itu XXX.

Kembali Tante Ningrum duduk di samping saya, malahan lebih dekat lagi. Tangannya mengusapusap lengan saya dengan lembut.

Filmnya bagus ya? Bisiknya pelan.

Namun terdengar di telinga saya bagaikan rayuan. Saya tak mampu menjawab karena bibir bawah saya menahan ekstasi yang kuat. Entah apa yang harus saya lakukan kini. Mata saya tak lepas dari wanita yang merintih di film itu, yang sudah distel suaranya pelan.

Tante Ningrum menggenggam pergelangan tangan saya. Dan, astaga dibawanya tangan saya ke payudaranya. Didiktenya tangan ini ke daerah yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Begitu pula tangan kiri saya.

Kini masingmasing telapak tangan itu memegang rata masingmasing pasangannya, payudara. Pandangan saya masih ke arah TV. Saya tak berani menatap wajah Tante Ningrum. Tak pernah saya impikan hal ini terjadi. Sementara di TV desahan si gadis yang menghadapi dua batang penis makin membuat hot suasana.

Wisnu, hadap sini dong, ujarnya manja.




Saya hadapkan wajah saya. Saya lihat tatapan pengharapan di sana. Wajah Tante Ningrum cukup cantik, dengan kulit putih dan senyuman manis yang menghiasinya. Saya masih memegang payudara itu, hanya memegang dengan daster yang melapisinya.

Ah, tak terasa daster itu. Hanya payudara besar ini fokus pikiran saya. Tangan saya masih canggung, sementara ada sesuatu yang mulai menggeliat di bawah sana.

Tibatiba dia menghentikan saya, dengan cara yang sempurna. Tangannya merengkuh saya dalam pelukan, sementara bibirnya mencium lembut. Payudaranya menghimpit dada saya, membuat dada saya berdetak hingga saya merasa bisa mendengarnya.

Ciumannya nikmat, berbeda sekali sekali dengan apa yang ada di TV. Seakan ingin mengaliri dengan hangat jiwanya. Kami berciuman lama sekali, tak terasa tangan saya ikut mendekapnya makin erat. Saya lepaskan dekapan saya untuk mulai mengontrol diri kembali. Berakhirlah sesi ciuman itu.

Kenapa Wisnu? Kamu marah ya? tanyanya pelan.

Tapi sialan, suarasuara di TV itu kembali mengacaukan saya. Melumpuhkan saya lagi dalam birahi.

Maafin Tante ya? Tante Wajah itu mengeluarkan prana iba untuk dikasihi.

Dia kembali mencium saya, cukup hangat. Namun tak sehangat tadi saya rasa. Saya pun tak mengharap ciuman kasih sayang, karena dari saya juga tinggal nafsu. Ciumanciuman itu pindah ke leher dan telinga.


Ah, tak pernah saya bayangkan bahwa daerah ini lebih membuat saya bergidik. Saya pun menirunya. Kami saling menciumi leher, bahkan Tante Ningrum sempat mencium keras.

Aduh, Tante

Dia lalu tersenyum dan berdiri. Perlahan dia melepas daster itu, mulai dari tangannya. Satu demi satu tangan daster itu terlepas.

Daster melorot, tertahan sebentar di bulatan payudaranya yang besar. Dia menarik ke bawah lagi daster itu. Terlihat payudara, tanpa BH. Putih, bulat, besar, dengan puting susu berwarna merah muda.

Mulut saya menganga kagum seakan ingin memakannya. Saya menelan ludah.

Diturunkannya lagi. Saya menikmati satu persatu sajian pemandangan itu. Perutnya putih dengan pinggang yang ramping. Pusarnya menjadi penghias di sana. Daster itu tertahan di pinggangnya.

Oh, pantatnya menahan. Saya semakin berdebar, ingin mempercepat proses itu, saya ingin segera melihat kemaluannya. Diturunkan lagi, dan ah vagina itu muncul juga. Dihiasi rambut berbentuk segitiga yang tak begitu lebat. Bibir vaginanya merah segar, sedikit basah.

Untuk pertama kalinya saya melihat wanita bugil. Dengan senyumnya, bangga membuat saya terkagumkagum.

Sekarang, kamu juga buka ya? perintahnya manja.

Saya membuka tshirt saya. Tante Ningrum membuka celana saya, Lepas jins saya, tapi Tante Ningrum tak segera membukanya. Dia jongkok lalu menjilati penis saya dari luar celana dalam.

Tampak noda basah sperma yang makin ditambah oleh air ludah. Penis itu makin membesar dalam celana dalam, rasanya tak enak kerena tertahan. Segera saya buka dan hup keluarlah batang kemaluan diikuti dua bolanya. Tante Ningrum mengecupnya, si penis tampak membesar. Semakin tegaknya penis diikuti dengan jilatanjilatan lidah. Uhh, enak sekali.

Kini gantian tangannya yang bekerja. Pertama dirabanya semua bagian penis, lalu mulai mengocoknya. Setelah kirakira telah utuh bentuknya, tegak dan besar, dimasukkannya ke dalam mulut. Tante Ningrum memandang ke atas, wajahnya berseriseri.

Terus Tante

Lidah Tante Ningrum menjilatjilat, kadang menggelitik penis saya. Lalu mulai memaju mundurkan mulutnya, seakan sebuah vagina menyetubuhi penis. Ini hebat sekali. Sekitar 15 menit permainan itu berlangsung, hingga

Tante, saya mau keluar kata saya terengahengah.

Tante Ningrum malah mempercepat kocokan mulutnya. Saya ikut memegang kepalanya. Dan keluarlah ia. Saya merasa ada 5 semprotan kencang. Tante Ningrum tidak melepasnya, ia menelannya.

Bahkan terus mengocok hingga habis spermanya. Lega rasanya tapi lemas badan saya. Tante Ningrum berdiri, kemudian kami berciuman lagi.

Sekarang gantian ya

Kini saya menghadapi payudara siap saji. Pertama saya rabaraba dengan kedua tangan saya. Remasan itu saya buat berirama. Lalu saya mulai berkonsentrasi pada puting susu. Saya tariktarik hingga payudaranya terbawa dan saya lepaskan.

Hmm, bagaimana rasanya ya? Saya mulai menjilatinya. Enak Jilatan saya pada satu payudara sementara tangan yang lain meremas satunya. Ketika saya hisaphisap putingnya, terasa makin mancung, mengeras, dan tebal puting itu. Saya lakukan pula pada payudara satunya.

Oh, ternyata jika wanita terangsang, yang ereksi adalah puting susunya. Kirakira 5 menit saya melakukannya dengan nikmat.


Kemudian jilatan saya turun, hingga vaginanya. Saya coba dengan jilatanjilatan. Saya sibakkan lagi rambut kemaluannya agar jilatan lebih sempurna.

Ada seperti daging kecil yang menyembul. Yang saya tahu, itu adalah klitoris. Saya hisap seperti menghisap puting susu, eh Tante Ningrum merintih.

Hmm, Wisnu, jangan dihisap. Geli. Tante nggak kuat

Dan Tente Ningrum benarbenar lunglai. Tubuhnya rebah ke sofa. Dia terlentang dengan paha mengangkang memperlihatkan vagina terbuka dan payudara yang berputing tegak. Saya lanjutkan lagi kegiatan ini. Makin lama kemaluannya makin basah. Jilatan dan hisapan saya makin bersemangat, sementara disana Tante meremasremas payudaranya sendiri menahan geli.

Tibatiba pahanya mendekap kepala saya dan, serr seperti ada aliran lendir dari vaginanya. Otot liang itu berkontraksi. Inikah orgasme? Hebat sekali, dan saya melihatnya dari dekat. Tak saya siasiakan lendir yang mengalir, saya hisap dan saya telan. Rasanya lebih enak dari sperma.

Tubuh Tante Ningrum yang bergoyanggoyang akhirnya tenang kembali. Jepitan pahanya mulai melemah namun penis saya mulai ereksi lagi. Saya cium mesra vaginanya seperti saya mencium bibirnya. Tante Ningrum tersenyum. Bibirnya berkata Terima kasih namun tak mengeluarkan suara.

Gambar di film itu merangsang kami. Wanita berpayudara besar terlentang diatas meja kantor. Diatasnya lakilaki dengan penis panjang dan besar menyetubuhi payudaranya. Tangan si wanita menekan payudaranya sendiri agar merapat, dan penis itu melewati celahnya. Saya pikir pasti asyik sekali.

Saya menjilati dulu payudara Tante Ningrum, agar basah dan lengket. Tak lupa dengan hisapanhisapan di putingnya. Setelah merasa cukup, saya duduk di muka payudara itu. Tante Ningrum merapatkan celah payudaranya. Dia tersenyum senang.

Saya mulai dengan pelan memasuki celah payudara, seakan itu adalah liang vagina. Uff, sensasinya luar biasa. Saya mulai memaju mundurkan penis dengan irama. Ujung penis saya terlihat saat saya maju. Kalau klimaks, pasti spermanya sampai ke wajah Tante.

Tangan saya ikut memegang payudara untuk menguatkan hujaman penis. Kadang saya menariknarik puting susu. Saya mencium bibirnya, mengangkat paha di lehernya, kemudian menyerahkan lagi penis saya. Dihisap dan jilat lagi, seperti tak puas saja.

Posisi saya duduk tak enak. Saya tak bisa duduk karena akan menekan lehernya, tangan sayapun tak bisa memaju mundurkan kepalanya. Oh, ada sandaran tangan. Empuk lagi. Apalagi kalau bukan payudara. Sambil saya meremasremasnya, penis seperti diremasremas juga.

Tante Ningrum mengeluarkan kemaluan saya sebentar, mengajak posisi 69. Hm, saya pikir boleh juga. Maka saya berganti posisi lagi. Tubuh saya menghadap Tante Ningrum, tapi saling berlawanan. Penis saya di mulutnya, vaginanya di mulut saya.

Sampai beberapa saat kami melakukan itu. Saya tak tahu apakah Tante mendapat orgasme lagi, tapi dia sempat diam mengulum penis saya, pahanya menekan rapat kepala saya, tapi tak ada cairan yang keluar.

Wisnu, berhenti dulu deh serunya.

Padahal saya sedang asyik dengan posisi ini. Tante Ningrum berdiri menuju ke dapur. Rupanya dia minum air dingin. Tante Ningrum datang membawa dua gelas air es dan menyodorkan dua tablet yang saya duga obat kuat. Kami meminumnya satusatu. Tante memperhatikan saya lalu melihat film itu.

Kita bercumbu beneran, yuk, ajaknya.

Di bathtub yuk.

Dia memegang kemaluan saya seperti memegang tangan saya, untuk mengajak dengan menggandeng penis itu. Kami ke kamar mandinya. Bathtubnya cukup besar, Kami mulai lagi.

Di bawah shower itu berpelukan sambil meraba dan menyabuni. Nikmat sekali menyabuni payudaranya, senikmat disabuni penis saya. Tak ada yang terlewatkan, termasuk vagina dan anus.

Ketika air mulai penuh, kami berendam. Airnya tak diberi busa. Nyaman sekali. Lalu kami mulai saling merangsang, meninggikan tensi kembali. Tante Ningrum mengocok penis saya dalam air, sementara saya merabaraba vaginanya.

Tak berapa lama dia duduk di pinggiran bathtub. Kelihatannya dia ingin vaginanya dijilat. Saya merangkak menjilatinya. Cairannya mulai keluar lagi.

Pakai tangan juga dong, pintanya lanjut.

Saya menuruti saja. Saya kocok dengan telunjuk kanan saya. Saya coba telunjuk dan jari tengah, semakin asyik. Tangan kiri saya mengusap klitorisnya. Tante memejamkan matanya menahan nikmat. Sebelum berlanjut lebih jauh, Tante menghentikan.

Dia membalik badannya menjadi menungging dan membuka pantatnya. Ternyata dari tadi saya belum mengeksplorasi daerah anus. Saya pun mencobanya. Saya jilat anusnya, reaksi Tante mendukung. Saya jilatjilat lagi, dari anus hingga vagina. Lalu saya coba masukkan dua jari saya lagi ke vaginanya dan mengocoknya.

Lidah saya menjilatjilat lagi. Daerah pantat yang menggembung berdaging kenyal seperti payudara. Saya pun suka. Tante Ningrum menunjukkan reaksi seperti akan orgasme lagi. Desahannya mulai keras.

Wisnu, Tante mau keluar lagi nih. Cepat! Pakai kontolmu. Ayo masukin kontolmu. Cumbu Tante, Wisnu jeritnya tertahan putusputus.

Astaga, dirty talk sekali. Membuat saya makin terangsang. Saya siapkan penis saya, walau agak bingung karena tak ada pengalaman. Tante Ningrum mengocok vaginanya sendiri sambil menunggu saya memasukkan penis. Penis sudah saya arahkan ke vagina.

Tante, nggak bisa masuk nih tanya saya bingung.

Tekan saja yang kuat. Tapi pelanpelan

Saya ikuti sarannya, tetap saja susah. Dasar pemula. Jadinya penis saya hanya merangsang mulut vagina saja, mengggosok klitoris, tapi itu malah membuat Tante makin terangsang.

Ayo masukkan, Tante sudah hampir keluar

Dengan tenaga penuh saya coba lagi. Dan, berhasil. Kepala penis saya bisa masuk walau sempit sekali. Tante Ningrum bergoyang untuk merasakan gesekan karena klimaksnya semakin dekat.

Ketika saya coba masukkan lebih dalam lanjut pantat Tante bergoyang hebat. Otot vaginanya seperti meremasremas. Penis saya yang walau baru kepalanya saja menikmati remasan vagina ini. Dan Tantevpun orgasme. Setelah itu dia jatuh dan berbaring dalam bathtub. Saya sudah melepaskan penis saya.

Tante, maafin saya ya kata saya agak menyesal.

Saya belum memasukkan seluruh penis saya dalam vaginanya saat dia orgasme.

Nggak apaapa. Kepala kontolnya sudah nikmat, kok. Ayo kita coba lagi. Sekarang kontol kamu mau dikulum nggak? Tak usah bertanya. Ganti saya yang duduk di tepi bathtub.

Tante merangkak dan mengulum penis saya. Ah, pose seperti ini membuat saya nyaman, seakan saya yang punya kuasa. Di ujung tubuh yang merangkak itu ada pantat.

Wah, empuknya seperti payudara. Sayapun menjamah dan meremasremasnya. Kadang saya membandingkan dengan satu tangan tetap meremas pantat, tangan yang lain meremas payudara. Kenikmatan ganda. Kelihatannya Tante juga menikmati sekali.

Ombak berdebur kecil di bathtub itu. Saya rasakan penis saya mulai megeluarkan tanda akan klimaks. Tumben cukup lama sekali saya bertahan. Mungkin karena obat yang diberikan Tante.

Saya hentikan gerakan Tante, saya turunkan kepala saya ke wajahnya yang masih mengulum penis saya. Tante berdiri, saya mengikutinya. Tante membuka vaginanya, saya mengarahkan penis saya. Saya gosokgosokkan ke vaginanya.

Saya temukan klitosinya. Seperti puting susu, saya masukkan klitoris itu ke dalam lubang penis saya. Rangsangannya kuat, sampaisampai Tante mau jatuh lagi seperti ketika klitorisnya saya hisap kuatkuat.

Ok, sekarang saya mulai memasukkan penis saya. Tante Ningrum menggenggam penis saya, mengarahkan agar bisa masuk. Saya seperti orang bodoh yang harus diajari untuk melakukan gerakan yang saya pikir semua lakilaki juga bisa. Ternyata tidak mudah. Dengan susah payah akhirnya kepala penis saya masuk.

Seperti tadi, saya coba goyang maju mundur untuk membuatnya siap melanjutkan misinya. Suasana begitu sepi, mungkin sudah malam. Tapi hujan masih menetes satusatu. Sunyi. Saat itu, tibatiba ada ketukan di pintu rumah. Toktoktok Dan kami diam seperti hendak dipotret saja.

Ningrum Ningrum, ini aku. Bukain pintu dong teriak seorang lakilaki.

Kami bagai tersambar geledek, mematung dalam badai. Hujan tadi berlanjut menjadi badai akibat suara itu.

Mas Agus bisik Tante Ningrum pelan. Penis saya langsung lemas, keluar begitu saja dari vagina yang telah susah payah berusaha dijebolnya.

Apa yang harus kita lakukan?

Aku akan berpurapura

Kalau saya?

Sembunyi saja.

Dimana? Katakata kami meluncur cepat nyaris tak bersuara. Kami berusaha berfikir. Agak sulit, karena sedari tadi hanya menggunakan nafsu.

Ningrum, kamu tidur ya? Bukain dong, suara Om Agus seakan detikdetik bom waktu yang siap meledak. Wajah Tante Ningrum sedikit cerah.

Aku ada akal

Gimana? tanya saya tak sabar.

Kamu di sini saja dulu. Jangan keluar sebelum kupanggil.

Tante Ningrum merendam lagi dirinya dalam bathtub, kemudian keluar. Saya menutup pintu kamar mandi, tidak terlalu rapat agar bisa melihat keadaan. Saya lihat Tante Ningrum membawa pakaian saya dan menengelamkannya dalam tumpukan jemurannya.

Mengelap lagi sofa dengan dasternya, melemparkan daster itu ke tumpukan jemuran. Kemudian membuka pintu. Apa yang dilakukannya?

Dia sudah gila? Saya bisa mati jika suaminya tahu kami telah berbuat. Belum sih, tapi hampir menyetubuhi istrinya. Lalu? Adakah mantra untuk menghilang? Saya takut menghadapi kenyataan, saat ini, di tempat ini, dalam keadaan ini, dengan apa yang telah saya lakukan.



Sabtu, 06 Juli 2019

Kunikmati Sex dengan Pacar Baruku


Cerita Sex - Ini adalah sebuah cerita dewasa seks, kisah hot ngentot terbaru dan terpanas di awal tahun 2016 yang bisa anda baca karena diangkat dari sebuah kisah nyata. Selengkapnya, simak paparan ceritanya berikut ini!

“Mulai sekarang kamu tak usah menemuiku lagi. Kita putus..!”

Seuntai kalimat meluncur cepat menikam jantungku menghentikan sejenak udara yang mengalir disaluran pernafasanku. Kalimat itu keluar dari bibir seorang gadis cantik yang telah kupacari selama hampir 3 tahun.

Gadis bertubuh semampai dan seksi, dengan rambut panjang sering dibiarkan tergerai itu, sedang memandang tajam padaku dengan wajah dingin dan sorot mata yang mengandung kebencian. Gadis itu berdiri tepat didepanku sambil mengacungkan telunjuknya ke wajahku.

“Ada apa denganmu, Emily ?” Aku mencoba tenang dan mengajukan pertanyaan kepadanya.

Dia masih melototiku. Masih saja memandangku dengan tangan terkepal.

“Tak ada alasan apapun yang perlu kau dengar, Jay“ Ucapnya dingin.

“Setidaknya aku mesti tahu, kenapa kau memutuskan aku begitu saja“ Aku masih saja mencoba mengorek alasannya, meskipun aku tahu tak akan ada jawaban yang kelak keluar dari bibirnya.

Emily memalingkan wajahnya. Seakan tak ingin memandangku sama sekali. Bahkan jariku yang mencoba meraih tangannya ditepiskannya dengan kasar.

“Aku tak ingin berdebat denganmu tentang ini, Jay. Aku sudah bosan dengan hubungan kita. Aku tak bisa melanjutkannya lagi. Itu saja…!“

Dingin…, sangat dingin tatapan mata itu. Sinarnya memancar menyusup lewat mataku yang sedang balas menatapnya, sorot mata itu seakan menusuk tajam dan mengoyak-ngoyak hatiku yang tak pernah lekang mencintainya.

“Dan aku minta mulai sekarang kau tak usah menemuiku…”

Clebbbbbbb

Sakit rasanya. Terasa lebih sakit dari jatuh pada ketinggian 20 kaki saat menolong Emily yang terjebak tebing tinggi dan tak bisa turun saat kami melakukan pendakian minggu lalu. Terasa lebih sakit saat mengalami patah lengan waktu tabrakan dengan sepeda motor ketika hendak menjemputnya yang terjebak hujan deras di halte menunggu jemputan yang tak kunjung tiba sebulan yang lalu. Terasa lebih sakit ketika saat harus menjadi bulan-bulanan preman yang mencoba mengganggunya dua bulan yang lalu. Terasa lebih sakit dari semuanya….

“Aku mohon, Emily. Jangan mengambil keputusan sepihak seperti itu. Jangan lupakan apa yang telah kita lalui bersama, Emily…” Ucapku mencoba memohon.

Saat itu aku sangat berharap Emily akan tersenyum manis kepadaku dan berkata ‘ini hanya candaanku, Jay’. Ya, aku berharap dia mengatakan itu…

“Kisah tentang kita telah berakhir, Jay“ Emily tersenyum sinis. “Dan itu adalah kenangan terburuk dalam hidupku…”

Aku tercekat. Mataku nanar memandangnya. Semua harapanku untuk tetap bersamanya dihempaskannya begitu saja.

“Selamat tinggal, Jay“ Ucapnya datar dan kemudian berlalu dari hadapanku, lalu masuk ke dalam mobil New Kia Picanto berwarna Merah Muda miliknya dengan satu hempasan kuat pada pintu mobilnya.

“Tidak! Aku tak bisa menerima keputusanmu Emily. Aku terlalu mencintaimu…” Jeritku tak peduli dia mendengarnya atau tidak.
Aku masih berdiri terpaku, saat Emily pergi meninggalkanku sendirian di parkiran kampus. Laju mobilnya yang semakin menjauh seakan ikut menyeret separuh hidupku bersamanya. Tak bisa kumengerti keputusan sepihak yang diambilnya.

Sungguh rasanya aku tak ingin mempercayai semua ini. Emily yang sekarang telah berubah 180 derajat. Dia bukan lagi Emily yang ku kenal. Lenyap segala hal indah dan nyaman pada dirinya. Emily yang ku kenal adalah seorang gadis lembut, manja, dan selalu memberi senyum manis untukku, rela mengurai airmata kala aku bersedih, dia selalu ada untukku dengan hati penuh cinta.

Emily yang sekarang benar-benar telah berubah. Entah karena apa.

“Cari non Emily, Den?” Tanya Bi Inah sopan saat aku datang malam itu ke rumah Emily.

“Iya, Bi. Orangnya ada, Bi?“

“Bibi tak melihat pasti Den. Tapi tadi bibi dengar suara Non Emily kayak lagi ngobrol sama seseorang didalam kamarnya…”

Ngobrol dengan seseorang dikamarnya? Dengan siapa Emily dalam kamarnya? Tak biasanya dia mengajak temannya masuk kamarnya. Selama ini tak ada satupun yang boleh masuk ke kamar itu kecuali aku.

Segera aku melangkah masuk. Bibi pembantu yang sedang berdiri menghalangi jalan masuk aku dorong dengan pelan, membuat bibi menjerit kecil saat tanpa sadar tanganku menyentuh gundukan payudaranya. Aku cuek saja, terus melangkah dan menaiki tangga menuju ke lantai atas tempat kamar Emily berada. Tak ada suara apapun kudengar dari dalam kamar. Kutempelkan telingaku ke pintu kamarnya. Hening.

“Emily? Buka pintunya. Ini aku, Jay. Kumohon buka pintunya. Kita harus bicara, Emily“ Tak sabar aku langsung mengetuk pintunya dan mengucapkan kalimat permintaan itu padanya.

Suara langkah kaki terdengar pelan. Lalu gerakan berputar pada hendel pintu, dan seraut wajah cantik yang selalu kurindu muncul dari balik pintu kamar itu.

“Heh??? Kamu??? mau apa kesini?” Suara tak sedap terdengar dari mulut Emily. Wajahnya masam dengan ekspresi yang tak ingin diganggu.

“Kita mesti bicara, Emily.”



“Bicara soal apa..? Apa kamu tak dengar apa yang aku katakan di kampus tadi? Oh, baiklah. Aku akan ulangi. Buka lebar-lebar kuping budekmu itu. Kita Putus. Titik!“ Dan Brakkkk !. Pintu kamar dibantingnya dengan keras.

Aku berdiri terpaku memandang pintu kamar yang hampir saja jebol karena dibanting Emily. Ada apa denganmu Emily? Mengapa kau berubah drastis tanpa alasan yang jelas?
Aku masih tetap berdiri memandang pintu kamar itu ketika pintu kamar itu terbuka lagi, Emily muncul dari balik pintu. Hatiku agak sedikit terhibur dan seberkas harapan muncul disana. Siapa tahu Emily berubah pikiran, memohon maaf atas perlakuannya barusan, lalu kami…

“Sekali lagi kamu menemuiku dan menggangguku…, maka jangan salahkan aku jika berlaku kasar sama kamu! Ingat! Sekali lagi kamu ingat baik-baik, Bodoh! Jangan ganggu aku lagi!” Untuk kedua kalinya pintu kamar itu dibanting, mengeluarkan bunyi benturan keras.

Aku tercenung. Semua sudah terjawab kini. Hati Emily sudah benar-benar terkunci untukku, seperti pintu kamarnya yang telah dikuncinya rapat-rapat.

“Baiklah Emily“ Ucapku setengah berteriak agar dia bisa mendengarnya meski pintu kamarnya tertutup rapat. “Aku merasa tak pernah sekalipun menyakitimu. Aku merasa tak berbuat salah padamu, kecuali atas pradugamu padaku yang tak pernah kau jelaskan padaku. Aku akan pergi, dan tak akan menemuimu lagi. Semua kenangan indah yang pernah kita lalui akan kuhapus dan kutinggalkan didepan pintu kamarmu ini“

Setelah mengucapkan serentetan kalimat itu aku melangkah gontai keluar dari rumah Emily. Rumah yang mungkin tak akan pernah ku injak lagi selamanya.

Ku starter sepeda motorku. Sejenak pandanganku ku arahkan ke kamar Emily, lampunya masih menyala. Namun harapan terakhirku melihat Emily menjulurkan kepalanya keluar dari jendela dan melambaikan tangannya mengucapkan ‘Selamat Jalan Jay’, ternyata itu hanyalah keinginan semu semata.

“Selamat tinggal Emily…” Bisikku pelan diiringi luruhan air mataku membasahi pipi.

Sebuah mobil Honda Jazz warna hitam kulihat diparkir didepan rumah Emily saat malam itu aku melintas lewat di depan rumahnya. Tak tahu itu mobil siapa, yang pasti bukan milik Emily juga bukan milik Papanya.
Mungkinkah ada seseorang yang datang menemui Emily?. Tak mungkin ini tamu Papa Emily, karena aku tahu pasti dari cerita Emily bahwa Papa dan Mamanya sedang berada diluar negeri untuk waktu sebulan.
Ataukah ini mobil pacar baru Emily? Emily punya pacar sekarang?, dan pacarnya itu sedang menemuinya sekarang? Beribu pertanyaan dan praduga berkutat dalam otakku.

Ada perasaan geram dalam hatiku. Inikah penyebab Emily memutuskan aku? Jadi alasannya selama ini sebenarnya bukan seperti apa yang diucapkannya, tetapi alasannya yang sebenarnya adalah karena dia sudah mempunyai seorang pacar yang tajir?
Brengsek ! inikah bukti ikrar yang diucapkannya kala kami masih bersama, tak akan terpisahkan oleh godaan apapun dan tak akan lekang oleh hujaman sengsara sebesar apapun?

Dengan mengendap aku melihat ke dalam rumah melalui jendela. Tak kelihatan siapapun. Lampu dalam rumah temaram. Gagal melihat lewat jendela, aku menuju ke pintu rumah. Aneh. Pintunya tak dikunci. Ada perasaan was-was dalam hatiku. Dengan pelan ku buka pintu dan kupertajam pandanganku ke dalam rumah. Tak ada siapapun.
Segera kuloloskan tubuhku masuk ke dalam lalu menutup kembali pintu. Ku berjalan berjinjit agar tak menimbulkan suara. Sepi. Dimana Emily dan pemilik mobil itu? Jangan-jangan mereka…

Aku melangkah menuju ke arah tangga lalu naik dengan mengendap-ngendap menuju ke arah kamar Emily. Bersyukur Emily teledor kali ini dengan tidak mengunci pintu rumah.
Dengan tetap mengendap-ngendap aku mendekati pintu kamar Emily. Dadaku mulai berdegub kencang. Samar-samar kudengar suara erangan nikmat… Eh bukan…! Itu erangan kesakitan…!
Ada apa ini? Apa yang sedang terjadi pada Emily? Aku makin berdebar.
Kali ini Emily teledor lagi. Pintu kamarnya tak ditutup dengan sempurna. Dengan sangat pelan aku mendorong pintu kamar lalu mencoba mengintip dari celah yang sedikit terbuka. Suara itu semakin jelas terdengar, suara erangan kesakitan…!

Tubuhku terasa limbung, dadaku terasa panas, saat kulihat dengan jelas apa yang sedang terjadi. Emily sedang terlentang bugil dengan tangan terikat menyatu dengan kepala ranjangnya. Seorang pria yang juga bugil sedang melecutkan cambuk kecil ke tubuhnya. Suara jerit tertahan keluar dari mulut Emily saat cambuk itu mengenai kulit mulusnya. Hampir saja aku menerjang masuk dan menghajar pria itu, namun rasa penasaran dalam hatiku mencegah tindakanku. Aku ingin mengetahui lebih jelas apa yang sebenarnya terjadi.

Satu hal yang membuat aku semakin gemetar menahan rasa marah dan gugup adalah Blazer itu…, Blazer yang tergeletak begitu saja dilantai kamar…! Blazer berwarna cokelat yang kulihat dipakai oleh wanita yang menari bugil ditengah taman semalam, juga tank top itu, rok itu, semuanya adalah yang dikenakan wanita penari bugil semalam.
Artinya? wanita semalam itu adalah Emily…! Ya Emily! Dan mereka pasti melakukan ini sejak semalam hingga sekarang…! Atau setidaknya Emily tidak mengganti bajunya sejak semalam…, apa iya?



huh…….

Nampak pria itu menghentikan pecutan cambuknya ke tubuh Emily yang sudah sangat kesakitan. Ikatan pada tangan Emily dibukanya, lalu dengan kasar dipegangnya kepala Emily, dengan jambakan yang keras pada rambutnya, diseretnya tubuh Emily ke pinggir ranjang hingga pada batas bahu sehingga kepala Emily terjulur ke bawah dengan mulut yang ternganga lebar.

Aku makin melototkan mata melihat apa yang dilakukan pria itu selanjutnya pada Emily. Penis pria itu mengacung dengan tegangnya. Ukurannya lebih besar dan lebih panjang dari penisku.
Sambil membuka mulut Emily, digenggamnya batang penis besarnya, lalu diarahkan ke mulut Emily.

Blesssss…

Penis itu masuk dengan mulus kedalam mulut Emily. Ditekannya penis itu menyusup lebih dalam hingga ke kerongkongan Emily.
Tangan Emily menekan perut si pria, berusaha mendorong tubuh itu, namun sia-sia saja, malah semakin dalam penis itu masuk ke dalam kerongkongannya. Emily tersedak, matanya melotot menahan rasa sakit ditenggorokannya.
Kaki Emily nampak terangkat dan menendang-nendang. Sumpalan penis besar dikerongkongannya membuat jalan nafasnya tersumbat. Pria itu kelihatan menikmati hal itu. Dipompanya penisnya keluar masuk dimulut Emily, lalu ditariknya lepas, mungkin sekedar untuk memberi kesempatan pada Emily mengambil nafas. Air liur kental menetes dari mulut Emily, namun tak berapa lama mulut itu disumpal lagi dengan penis besar milik si pria.

“Ahhkkk…hrrkkkhh…“ Suara Emily terdengar. Entah dia menikmati permainan itu atau tidak, aku tak tahu.

Kembali hujaman-hujaman penis pada tenggorokannya diterimanya lagi. Pria itu memaju mundurkan pinggulnya membuat penis panjang besarnya menggesek kerongkongan Emily. Sekali-sekali tangannya menampar pipi Emily. Jeritan-jeritan kecil terdengar keluar dari mulut Emily, namun terus saja pria itu menghujamkan penisnya ke dalam mulut Emily.

Aku terus saja mengintip dari celah pintu yang terbuka. Entah mengapa saat itu aku seperti menikmati pemandangan yang sedang terjadi di depan mataku. Pacarku…, lebih tepatnya mantan pacarku sedang disetubuhi, bukan lewat vaginanya tapi pada mulutnya.
Aku bisa membayangkan betapa menderitanya Emily dengan hujaman penis besar itu pada tenggorokannya, dan aku mulai menyukai itu…

Kembali ku tajamkan pandanganku. Nampak mereka merubah posisi. Mungkin si pria sudah puas menyetubuhi mulut Emily dan ingin mencoba hal lain.

Emily bangun dengan rambut acak-acakan. Cairan kental nampak meleleh dari mulutnya. Diambilnya tissue di atas meja kecil dekat ranjang lalu dilapnya cairan kental itu. Si Pria lalu mendekati Emily sambil menggenggam batangnya yang masih mengacung keras. Perlahan didorongnya Emily. Seakan faham dengan dorongan pada punggungnya, Emily merubah posisinya menjadi menungging. Kulihat penis besar itu digenggam si pria dan diarahkan ke vagina Emily. Digesek-gesekkannya sebentar, lalu dengan satu dorongan yang kuat ditancapkannya penis itu.

“Awwwwwhhh….., Robert…, pelan-pelan…, shaakkithhh..” Emily menjerit keras ketika penis itu melesak masuk kedalam vaginanya.

Aku makin menajamkan pandanganku dari celah pintu. Sebesar apakah penis pria yang bernama Robert itu sehingga Emily menjerit kesakitan seperti itu?
Kuamati dengan seksama. Robert memompa penisnya dengan irama yang teratur diselingi erangan kesakitan dari mulut Emily. Ketika Robert mencengkeram pundak Emily, otomatis terlihat dengan jelas penisnya yang sedang menancap karena posisi mereka tepat membelakangiku dengan kedua kelamin mereka yang jelas terlihat dari arahku mengintip.

Owh..! Bukan vagina Emily yang dimasuki penis Robert melainkan anusnya. Pantas saja Emily terlihat kesakitan. Tangannya mencengkeram dengan kuat seprei dan tepi ranjang. Kakinya terangkat menandakan rasa sakit yang dialaminya. Kepalanya terhempas kesana kemari seiring dengan pompaan penis Robert pada anusnya yang semakin lama semakin cepat, hingga pada pompaan selanjutnya Robert menekan penisnya dengan kuat, lalu terdiam disertai kejutan-kejutan kecil pada tubuhnya. Robert mengalami orgasme.

Aku tersenyum kecut sambil menggeleng-gelengkan kepala. Inikah Emily yang kukenal? Rela disakiti, rela diperlakukan dengan kasar demi memuaskan seorang pria kasar yang mungkin juga adalah pacar barunya ?

Ohhh…, aku mengerti sekarang. Inikah yang dicari Emily? Inikah yang tak didapatinya dariku? Perlakuan lembut setiap kali bercinta dengannya membuatnya bosan padaku lalu memutuskan hubungan denganku begitu saja?

Aku menutup pintu itu dengan pelan, lalu bergegas turun dari lantai atas dan keluar dari rumah Emily, meninggalkan segala aktivitas mereka yang menyakitkan hatiku. Entah apalagi yang akan mereka lakukan, aku tak mau peduli lagi.

Dengan hati yang tak menentu aku menghenyakkan pantatku ke atas sadel sepeda motor.

“Baiklah, Emily…” Gumamku perlahan penuh rasa benci dan dendam. “Aku akan memberikan itu untukmu…, akan kulakukan itu untukmu nanti…”

Dan ku hidupkan sepeda motorku pergi meluncur dengan kecepatan full…

Tunggulah Emily…! Tunggulah….!

Rasa rindu dan cinta dihatiku untuk Emily perlahan mulai pudar. Tak kusangka Emily ternyata seperti itu. Dia yang selama ini kukenal sebagai wanita anggun dan penuh cinta, kini tak lebih dari seorang wanita liar yang rela disakiti dan dilecehkan oleh seorang pria yang baru dipacarinya kurang dari seminggu.

Tak sanggup aku menyaksikan pergumulan mereka pada malam itu. Rasa sakit dihati bercampur rasa jijik telah melenyapkan rasa rindu yang selama ini tak mau pergi dari hatiku.
Kini…, entah mengapa bayangan Emily yang selama ini selalu menari-nari indah di pelupuk mataku perlahan memudar dan berganti dengan bayangan menjijikkan.

Rasa jijik dan sakit dihatiku kini mulai berubah menjadi rasa dendam. Aku ingin memberikan apa yang diinginkan Emily. Rasa sakit dan derita. Itulah yang diinginkannya, pasti!. Jika tidak, mengapa dia berpindah hati ke seorang pria yang sedikitpun tak memperlakukannya dengan lembut?
Dan … oh…! Tidak! Aku masih ingat. Wanita yang pernah kulihat menari bugil ditengah taman adalah Emily! Brengsek dan liar!
Sebegitu besarkah rasa cinta Emily pada pria itu sehingga dia mau mengorbankan harga dirinya?

“Tunggu aku, Emily…! Akan kuberi apa yang kau inginkan…!” Gumamku dengan geram.

Dengan memakai jaket kulit berwarna hitam, dipadu celana jeans hitam dan sepatu warna hitam, aku memacu sepeda motorku menuju rumah Emily. Malam ini aku akan memberikan sesuatu pada Emily. Sesuatu yang dia inginkan.

Suasana rumah Emily sepi saat aku tiba. Lampu dalam rumah terlihat masih menyala namun sepertinya tak ada aktivitas dalam rumah.
Aku menekan bell dengan lama. Andai Emily yang muncul membukakan pintu untukku, maka aku akan menyeretnya keluar, lalu akan menggelandangnya sepanjang jalan dalam keadaan bugil, seperti yang pernah kulihat dilakukannya di taman malam itu bersama pacar barunya itu.

Tak ada gerak apa-apa dari dalam. Kutekan lagi, berulang kali hingga kemudian pintu terbuka. Lagi-lagi pembantu Emily yang membukakan pintu. Ada rasa kecewa dihatiku, tapi biarlah, mungkin akan lebih bagus jika ini dilakukan dalam rumahnya sendiri.


“Oh, Den Jay. Masuk Den. Non Emily lagi dikamarnya tuh…”

Bibi tahu rupanya bahwa kedatanganku untuk menemui Emily, dan itu wajar karena tak mungkin dia berpikir bahwa aku akan menemui dia.
Tapi tidak untuk malam ini Bi, jika kau melakukan hal yang tak kuinginkan.
Senyum sinis dibibirku tak sempat diperhatikan bibi.

“Aku boleh langsung ke kamarnya, Bi?” Tanyaku sekedar basa-basi sebenarnya.

“Silahkan Den. Bibi mau ke dapur dulu“ Ucap bibi berbalik hendak pergi meninggalkan aku yang masih berdiri di depan pintu.

“Bi, Sebentar Bi…” Aku mencegah bibi untuk pergi “Non Emily sendirian?”

Bibi mengangguk. Aman, pikirku.

Setelah mengunci pintu rumah, akupun langsung menuju kamar Emily. Pintu kamarnya masih tidak dikunci. Aku mendorong sedikit pintu kamar, mengintip kedalam. Tak ada siapa-siapa. Akupun masuk ke dalam. Terdengar bunyi guyuran air dilantai kamar mandi. Emily lagi mandi rupanya.
Dengan santai aku membuka jaket kulitku dan membuangnya begitu saja ke lantai. Ku lepas sepatuku dan melemparnya begitu saja. Santai. Aku langsung melompat ke atas ranjang hingga menimbulkan suara berderit yang cukup keras.Dengan agak sedikit berdebar aku menanti Emily keluar dari kamar mandi. Malam ini aku akan memberikan apa yang kau inginkan, Emily.

Suara gemericik air berhenti. Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, dan Emily melangkah santai keluar kamar mandi dengan handuk dililitkan pada kepalanya. Selain handuk itu tak ada kain lain yang menutupi tubuhnya. Bugil.

Tubuhnya masih seksi seperti dulu, meskipun kulihat ada banyak guratan merah disekujur tubuhnya. Payudaranya masih menggantung kencang didadanya dengan puting pink yang indah. Lalu vagina tanpa bulu terapit diantara pahanya. Indah benar…

Emily tersentak kaget saat menyadari ada seseorang yang tengah berbaring diatas ranjangnya.

“Waaaaaw! Eh..Ka..Kau???“ Mata Emily melotot kaget melihatku.

“Apa kabar Emily sayang?” Ucapku dengan nada dingin. “Kangen padaku?”

Emily refleks menutupi payudara dan vaginanya dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya memerah disinari lampu kamar yang terang.

“Mau apa kau kesini, cepat keluaaaaar….!” Jerit Emily sambil berjongkok berusaha menutupi area terlarangnya. “Brengsek kau..! Keluaaaaaarrrr…!”

Aku bangun lalu duduk ditepi ranjang. Dengan wajah sinis aku menatap Emily.

“Oh… begitu ya. Baiklah, aku akan keluar dari sini bahkan dari rumah ini. Tapi sebelumnya….”

Emily melotot tajam saat aku mulai membuka pakaianku satu persatu. Tubuhnya yang sedang berjongkok bugil perlahan beringsut sedikit demi sedikit ke arah sudut kamarnya. Emily menggigil menatapku. Andai hati ini belum dipenuhi dendam, mungkin aku akan memeluknya untuk menghilangkan rasa takut yang sedang dialaminya saat ini. Tapi tidak untuk sekarang ini!

“Ini yang kau inginkan Emily? Ini kan?“ Ucapku dengan suara serak. “Kenapa kau tutupi tubuhmu? kau malu aku melihatnya? Bukankah aku sudah sering melihatnya bahkan menikmatinya? Kau lupa itu, Emily? Hahahahahahahaha…“

Emily semakin menyudut. Aku mendekatinya lalu mencengkeram bahunya dengan kasar.

“Kau takut, Emily?” Tanyaku dengan senyum sinis.

Emily mengangguk pelan dan gugup. Matanya mulai berkaca-kaca.

Kucengkeram tubuhnya lalu kuangkat berdiri. Tak ada rasa kasihan dihatiku sedikitpun, semua telah berubah menjadi rasa marah dan dendam.

“Jangan, Jay. Aku mohon jangan lakukan itu…. Aku…Aku….” Suara Emily terbata. Matanya memancarkan sinar permohonan.

“Fuck You Emily…., You’re …JERK ! Air matamu menjijikkan.. Its …. Disgusting!“ Dengusku geram sambil mendorong tubuh Emily hingga terhempas ke atas kasur.

“Ku mohon….., Jay…., Kumohon….“

Aku melangkah mendekati Emily. Tak kupedulikan kata-kata permohonannya. Kuambil handuk yang masih melilit di kepalanya, lalu kugulung dan kugunakan untuk menyumpal mulutnya. Kedua tangannya kuikat ke ranjang menggunakan kaus dan jaketku. Tersisa kedua kakinya yang meronta-ronta menendang kesana kemari membuat vaginanya yang terlihat memar itu kadang terbuka kadang menutup.

“Kau dengan tulus membiarkan pacar barumu yang kaya itu memperlakukanmu dengan kasar. Mengapa denganku kau malah menolak?” Ucapku dingin. “Oh…, karena dia kaya? Sungguh wanita brengsek kau Emily! Dasar pelacur murahan! mata duitan!”

Emily melotot tajam padaku, rona kaget tersirat dari wajahnya. Mungkin dia kaget karena aku tahu semuanya.

“Tenanglah, Emily. Aku tak akan memperkosamu. Tak mungkin aku mengotori penisku dengan vagina busukmu yang telah kotor dengan mani pria lain…”

Kuambil sebuah botol lotion yang berada pada meja riasnya. Botol itu cukup besar sebesar lenganku. Kubuka penutupnya, lalu menuangkan sedikit ke telapak tanganku. Setelah mengoleskan lotion ke botol, aku mendekati Emily yang masih meronta berusaha melepaskan diri.
Ku renggangkan kakinya dengan paksa, lalu kutindih dengan kakiku.
Vagina mulus Emily terpampang. Ku elus sebentar dan kugesek bagian klitnya.

“Tenang Emily sayang. Sebentar lagi kamu akan merasakan sesuatu yang nikmat. Enjoy this game, honey… Ahahahahahaha…”

Tanpa menunggu vagina itu basah dan licin, aku langsung mencolokkan botol lotion ke belahan vaginanya. Botol lotion yang sudah ku olesi dengan lotion itu menancap masuk setengah ke dalam vaginanya. Emily tersentak. Tubuhnya melengkung. Punggungnya terangkat ke atas. Matanya mendelik.

“Nikmat kan sayang?“ Tanyaku sinis tanpa belas kasihan.

Botol lotion yang panjangnya lebih dari sejengkal dengan mulutnya yang tajam itu menancap setengahnya dengan susah payah. Terasa mengganjal dan mentok. Aku tak peduli. Ku tekan lagi botol itu dengan keras.

“Aaaaaawhwhwhwhwhwh…” Andai mulut Emily tak disumpal dengan handuk, pasti suaranya terdengar melengking keras. Hanya matanya mendelik disertai kepalanya yang terangkat keatas. Air matanya meleleh menahan rasa sakit pada belahan vaginanya.

“Nikmatilah sayang…. enjoy this…., arggghhhhh” Aku menggeram tanpa rasa kasihan.

“Uhm…Uhm…Uhmmm…” Suara Emily terdengar kecil. Matanya mendelik. Sebuah isyarat bisa ku tangkap dari gerakan tubuhnya. Emily mungkin ingin aku melepaskan sumpalan pada mulutnya.

“Kau ingin mengatakan sesuatu, Emily? Hehehehehe.., baiklah“

Sumpalan di mulut Emily ku lepaskan.

“Sss…saa..kkkiiitttt…Jay. Aku mohon jangan…. lakukan ini… padaku… Jay…hik…hik…” Emily terisak. Kakinya yang tadi meronta telah berhenti. Rasa sakit itu mungkin telah membuatnya seperti itu.

“Ini belum berakhir, Emily. Masih ada permainan selanjutnya. Nikmatilah sayang…”

“Kumohon Jay…”

“Diam!“ Bentakku keras. Tak peduli hal itu akan memancing kehadiran bibi. “Kau masih ingat berapa kali aku memohon padamu dan berapa kali kau menolaknya, Emily?”

Emily kembali terisak. Botol lotion itu masih menancap divaginanya.

“Sakit, Jay. Vaginaku sakit, Jay…” Suara memelas dari mulut Emily tak sedikitpun menggugah hatiku.

“Kau ingin aku memasukkannya lebih dalam lagi, Emily? Baiklah….”

“Tidak, Jay… Jangan…! Aaaaaaawwwwwhhhhh…..!“ Jeritan Emily melengking tajam saat botol lotion itu ku tekan dengan keras ke dalam vaginanya. Tubuhnya bergetar, punggungnya kembali terangkat ke atas. Darah segar menyembur membasahi botol lotion dan tanganku. Botol itu kucabut dengan tiba-tiba, membuat tubuh Emily kembali terhentak.
Ada bercak darah di badan botol itu.

Kembali kumasukkan dan kutekan dengan sekuat-kuatnya botol lotion ke dalam vagina Emily, kutekan hingga hampir amblas.

“Awwwwwhhhhhhhhhh….!” Jeritan kencang keluar dari mulut Emily seiring dengan semburan darah segar lagi dari vaginanya.

Tok…Tok…Tok…

Suara ketukan pintu membuatku menghentikan aksiku lalu turun dan membukakan pintu. Nampak bibi sedang berdiri depan pintu. Kubiarkan saja bibi masuk menghambur ke dalam kamar, dan lebih cuek lagi aku mendengar suara jeritan bibi yang melihat keadaan Emily.

“Ya Tuhan…, kenapa ini, Non?” Jerit bibi panik.

Emily diam saja memandang bibi yang segera memeluknya disertai isakan tangis. Darah segar meleleh keluar dari vagina Emily. Tubuhnya terlentang tak berdaya. Matanya perlahan meredup hingga akhirnya terpejam.

“Kau apakan Non Emily, hah??!” Bentak bibi sesaat kemudian. Matanya memancarkan amarah.

“Aku memberikan apa yang dia mau…, Bibi mau juga?” Aku malah mengucapkan kalimat yang bikin bibi tambah marah.

“Ada apa denganmu hah?!”

Aku hanya tersenyum sinis menanggapi ucapan bibi. Kulihat Emily diam saja. Matanya terpejam dengan bibir yang melengkung menahan sakit.

“Ughhh…” erangan kesakitan terengar lemah dari mulut Emily.

Bibi yang sedang menatapku dengan penuh amarah segera berbalik dan menghambur ke atas tubuh Emily.

“Non… Bangun, Non… hik..hik..”

Tak ada gerakan apapun di tubuh Emily. Diam, kaku, tak bergerak.

“Noooonnnn…!, bangun non… hik..hik…” Suara Bibi melengking nyaring. Digoyang-goyangkannya tubuh Emily. Kaku dan tak ada respon sama sekali.

Sejenak aku terpana. Kuperhatikan keadaan Emily saat itu. Bibirnya pucat, matanya terpejam. Tiba-tiba aku dihinggapi rasa panik. Bibi yang sedang memeluk tubuh Emily kusingkirkan dengan satu hentakan kuat. Aku memanggil-manggil nama Emily, tak ada jawaban.

“Emily…? Emily…? Emilyyyyyyy….!” Jeritku panik.

Ada apa denganku? Iblis dari mana yang telah merasuk dalam jiwaku sehingga aku tega menyakiti gadis yang selama ini aku cintai? Benar, dia telah menyakitiku…, benar dia telah mengkhianatiku, tapi apa mesti sekejam ini perlakuanku padanya?

“Kau…Kau… Iblis Kau… Biadaaaaaaab!” Jerit Bibi dengan mata melotot dan tangannya terkepal mengacung ke arahku.

Aku tak mempedulikan bibi. Aku panik. Aku mesti segera menolong Emly… Ya menolongnya dari akibat perbuatan bodohku sebelum semuanya terlambat.

Aku masih sendiri, duduk dibangku taman dengan pandangan kosong. 10 Tahun sudah kepergian Emily. Tepatnya tanggal 13 Februari 2005. Dan hari ini, hari kepergian Emily dari sisiku, 13 Februari 2015. Tak ada lagi Emily, dia benar-benar telah pergi membawa derita yang teramat sangat karena kebodohanku.

Emily telah menjauh dariku ke tempat yang tak terjangkau, meninggalkan pesan tegas tentang rasa cinta yang dimilikinya untukku.
10 Tahun lalu dia meninggalkan aku, dan masih terbayang jelas saat dia meregang nyawa dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Masih terngiang suara erangan kesakitan dari mulutnya…

Aku baru tahu alasannya kenapa Emily memutuskan hubungan denganku dari cerita Bibi. Menurut bibi, Emily melakukan semuanya karena terpaksa. Ayah Emily terlilit hutang pada Robert, seorang pengusaha muda yang dulu kuanggap pacar baru Emily.
Ayah Emily mendekam di balik jeruji besi karena tak sanggup membayar hutangnya pada Robert meskipun telah menjual seluruh aset perusahaannya. Hanya ada satu cara yang bisa mengeluarkan Ayah Emily dari dalam penjara. Emily mesti berkorban. Dia harus mau melayani kebutuhan sex Robert yang seorang sadismine. Sayang sekali, sebelum semuanya selesai, aku telah merusak semuanya. Aku telah membuat Emily gagal menolong ayahnya sekaligus membuatnya gagal menjelaskan alasannya memutuskan hubungan denganku.
Sesungguhnya dengan perlakuanku itu, apa bedanya aku dengan Robert? Bahkan mungkin aku lebih buruk dari Robert!

Aku telah menerima balasan atas kebodohanku. Aku mendekam dalam sel tahanan selama 5 Tahun. Aku menjalaninya dengan ikhlas, sebagai hukuman atas kebodohanku.
Selama lima tahun kemudian pula aku menyesalinya. Tak akan pernah habis penyesalan ini dalam hatiku. Dan setiap tanggal 13 Februari aku duduk di bangku taman ini, entah untuk apa dan menunggu siapa, karena aku tahu dan aku sadari bahwa tak mungkin lagi ada Emily yang akan menemuiku disini, di bangku taman yang sering kami jadikan tempat memadu kasih.

Aku masih terus bermimpi, tentang harapan akan bertemu Emily disini, harapan yang akupun menyadarinya bahwa itu mustahil. Aku akan terus menunggu hingga besok dan berharap ada keajaiban yang bisa mengembalikan Emily ke kehidupanku.

13 Februari, hari yang terasa berat kulalui.
Dibangku taman ini, sebuah sandiwara kekerasan kembali berputar dalam kenanganku. Sebuah kenangan pahit. Aku telah membuat Cinta Sejatiku pergi menjauh dariku. Pergi kesuatu tempat yang jauh dan tak tergapai.

Aku tak pernah menghitung hari, tapi aku tahu hari ini tanggal 13 Februari, karena setiap tanggal ini pasti banyak pasangan muda membicarakan tentang sebuah hari, hari dimana mereka saling mengungkapkan rasa kasih pada keesokan harinya. Hari yang mereka sebut dengan Valentine.

“Ughhh…hufffhhh..”

Lara hatiku semakin dalam setiap kali sang surya memasuki peraduannya, digantikan sang Dewi Malam yang memancarkan cahaya terang menjelang purnama, lalu esoknya Sang Raja Siang kembali keluar dengan cahaya terangnya di hari Kasih Sayang, 14 Februari. Hari yang semakin meluruhkan airmataku.
Entah sampai kapan aku disini…, menanti Emily.

Semestiinya kau ada disini
Menemaniku menyambut hari kasih sayang ini…
Ah…
Sungguh aku tak mengerti,
Aku tak faham apa itu Valentine..
Kata orang itu hari Kasih Sayang…

Tapi itu bukan untukku kan ?

Emily….
Tak ada Valentine untukku..
Karena setiap hari, setiap saat…
Valentine itu ada bersamaku…

Seluruh hariku terasa hampa…
Aku masih terlalu merindukanmu…
Aku selalu mengasihimu, meskipun kata orang itu terlambat…
Tapi biarlah.
Aku akan terus mengasihimu
Hingga Tuhan memanggilku
Untuk mempertemukanku denganmu
Di sana… Di SurgaNya…


Jumat, 07 Juni 2019

Kakak & Adik Yang Hobi Bercinta




Cerita Sex - Hampir 2 bulan aku jadian sama Fitri, aq nggak tau pacar fitri yg nomor berapahkah aq ini, aq juga nggak tau sudah berapa banyak laki-laki yg tidur sama Fitri. Dipikiranku hanya satu, yaitu aq dapat teman tidur dan dapat menyalurkan hasrat sexku kapan aq butuh kepadanya. Sepertinya Fitri juga menikmati hal tersebut.

Ibu Fitri sudah kenal baik denganku, demikian pula mbak Sinta, mbak Santi dan kedua anaknya serta suami-suami mereka. Pernah mbak Sinta sekali memergoki aq dan Fitri saat kami bersetubuh di kamar Fitri. Namun bagi mbak Sinta sudah bukan hal yg luar biasa lagi melihat adiknya tidur dengan laki-laki di kamarnya, kamar mbak Sinta dan Fitri bersebelahan, mungkin rintihan dan desahan Fitri saat kami besetubuh terdengar dari kamar mbak Sinta.

Dikeluarganya aq sudah di anggap seperti keluarga sendiri, di rumah itu aq merasa seperti di rumah sendiri. Kadang aq tidur di rumah keluarga tersebut, biasanya aq tidut di kamar Fitri.
Jika suami mbak Sinta tdk di rumah biasanya Fitri tidur bersama mbak Sinta atau bersama ibu jika suami mbak Sinta di rumah. Namun saat mereka semua sudah terlelap tidur, Fitri diam-diam mengendap masuk ke kamarnya dimana aq tidur. Dan tentu saja, malam itu kami manfaatkan untuk bercinta sepuas hati.

Pada suatu hari, saat aq lewat depan rumah Fitri untuk berangkat kuliah, terdengar suara mbak Sinta memanggilku. Aq segera membelokkan arah langkahku menuju rumah Fitri, saat aq masuk kerumah kudapatkan rumah dalam keadaan sepi, hanya mbak Sinta sendiri di rumah. Mbak Sinta memnitaku memperbaiki saklar listrik yg rusak.

Saklar listrik yg kuperbaiki tersebut terletak di ruang belakang, mbak Sinta berdiri di sampingku menungguiku memperbaiki saklar listrik. Saat aq hendak mengambil obeng di meja, tak sengaja tangan mbak sinta tersentuh olehku. Mbak Sinta diam saja, tiba-tiba timbul isengku, kupegang dan kuremas tangan mbak Sinta, ternyata mbak Sinta tak menarik tanganya, sehingga timbul keberanian dan kenekatanku. Kupeluk pinggangnya dan tubuhnya kutarik merapat ketubuhku, langsung mulutku melumat bibirnya. Mungkin mbak Sinta tak akan mengira dengan kenekatanku itu, namun ternyata mbak Sinta tdk menolak bahkan membalas lumatanku.



Mendapat reaksi seperti itu aq pun tak ragu-ragu lagi, segera tanganku menjelajah kian kemari. Menyingkap daster bagian depan dan menyelipkan tangan ke balik CD nya. Kemaluanya terasa hangat, segera jariku bermain di dalam kemaluanya, membuat mbak Sinta medesah.., mendekap tubuhku semakin erat. Kubuka kancing daster, dan segera kulepaskan dasternya, sihingga tubuhnya hanya tertutup Bra dan celana dalam saja. Tampaklah dua gundukan besar yg tertutup oleh Bra. Kulepas kancing Bra nya dan langsung kuhisap putingnya. Mbak Sinta sudah nggak bisa mengendalikan diri lagi, didekapnya kepalaku kencang didadanya, sementara tanganku terus bermain di kemaluanya. Akhirnya kami berciuman, daster dan Bra mbak Sinta sudah terlepas, sehingga bagian yg paling rahasia saja yg masih tertutup celana dalam.

Setelah beberapa saat direnggangkan dekapanya, lalu cepat diraihnya daster, untuk menutupi tubuhnya alakadarnya dan ditariknya tanganku menuju kamarnya. Di dinding kamar mbak Sinta terpasang foto mbak Sinta dan suami, namun foto itu sudah tak berarti lagi manakala mbak Sinta sudah terbuai oleh nafsu birahi yg menggelora.

Segera dilepas CD nya, dan segera dia tidur terlentang di atas ranjang sambil mengangkangkan lebar pahanya. Terlihat jelas celah kemaluanya yg menantang, siap menerima kehadiran batang kemaluanku. Merah merekah kemaluan mbak Sinta membuat batang kemaluanku tegang mengeras siap menghujam lubang nikmat it, mbak Sinta menunggu dengan tak sabar. Perlahan-lahan kulucuti pakaianku, mata mbak Sinta tak lepas mengawasiku saat aq melucuti pakaianku.

Begitu CD ku terlepas, dan namapak batang kemaluanku tegang mengeras, maka segera mbak Sinta bangkit menarik tubuhku menindihnya, dengan buas dipegang batang kemaluanku dan langsung dibimbingnya masuk ke lubang kemaluanya. Kuikuti sata kemauan mbak Sinta, langsung kuhentakkan batang penisku hingga langsung amblas ke dalam lubang kemalauan mbak Sinta yg memang sudah basah kujarah tadi. Kukocok keras dan cepat, luar biasa rintihan dan erangannya.., Terlihat sekali mbak Sinta sangat menikmati, gerakan tubuhnya sangat luar biasa binalnya. Pinggulnya digoyang naik turun, kadang diputar-putar, wah.. sungguh nikmat sekali.







20 menit sudah kami bergumul, tiba-tiba tubuhnya mengejang hebat, pertanda dia telah meraih orgasme, diiringi dengusan dan erangan yg tak beraturan didekapnya tubuhku erat. Terasa cairan hangat melumasi lubang memeknya dan membuat batang kemaluanku semakin mudah bergerak.

Kutarik keluar batang kemaluanku dari lubang kemaluanya dan kubalik tubuhnya, dalam posisi merangkak kusodokkan batang kemaluanku ke lubang kemaluanya, langsung kukocok keras-keras dan kembali kami berciuman, tanpa menghentikan kocokanku di lubang kemaluannya.

Kuremas-remas toketnya dari balik punggungnya, padat dan kenal, semakin kupercepat kocokkanku, batang kemaluanku mulai berkedut-kedut pertanda pejuhku akan menyembur.., Diluar lubang kemaluannya terlihat cairan berbusa, hal itu karena lendir kemaluanya yg tadi sudah keluar kukocok dengan batang kemaluanku.

Sesaat kudian kurubah posisi, mbak Sinta menindihku. Digiygkan pantatnya naik turun, aq mengimbangi dengan gerakan yg sama namun berlawanan. Tubuh mbak Sinta bergoyang-goyang, kadang membungkuk dan menciumku, kadang tegak sambil tangan kanannya memegangi batang kemaluanku untuk tetap tegak dan masuk ke dalam lubang kemaluannya. Kembali Orgsame diraihnya, terasa dinding kemaluannya semakin basah, sehingga batang kemaluanku semakin lancar bergerak di dalamnya.

Kutarik keluar kemaluanku, kuambil tissue dan ku lap bagian dalam kemaluan mbak Sinta, kuterlentangkan tubuh mbak Sinta, kutindih lagi tubuhnya, kudekap erat tubuhnya, lalu kukocok kemaluannya cepat dan sepenuh tenaga. Reaksi mbak Sinta sangat luar biasa, dia mengerang, bhakan kadang menjerit lirih pertanda diapun menikmati permainan itu. Tiba-tiba keuhentikan kocokkanku, mbak Sinta sepertinya sudah tak sabar, digerakkan pahanya ke atas, sepertinya mengejar kemana batang kemalaunku pergi. Benar-benar mbak Sinta menikmati sekali permainan itu, tak henti-hentinya mulutnya meracau.



“oooghhhh… Angga.. tteruss… angga… ohhhh… ohhh.. nikmatt… aaahhhh…” Kutekan dan kukocok terus batang kemaluanku dengan cepat ke dalam lubang kemaluannya.

Terdengar desahan dan erangan mbak Sinta semakin menambah gairahku, bunyi berkelapak akibat benturan tubuh kami saat aq menekan masuk batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan mbak Sinta.., seirama dengan goyang dan gerakan yg kami lakukan.

Tak lama kemudian kembali mbak Sinta mengerang keras, “Aaagghhhh… Anggaa… terusss… ohhhh… ohhhh.. terussss… oohhhh…” Dan tubuhnya kembali mengejang hebat pertanda meraih orgasme lagi.

Aq sudah tak dapat membendung lagi keinginanku untuk menyemburkan pejuhku, sehingga aq percepat kocokkanku, akhirnya lepas dan menyemburlah pejuhku dengan semburan yg kuat sehingga pejuhku masuk jauh ke dalam lubang kemaluan mbak Sinta, terasa sebagian pejuhku melelh keluar dari lubang kemaluan mbak Sinta, membasahi sprei hingga terlihat noda bercak pejuhku bercampur pejuh mbak Sinta.

Sungguh puaasss…, benar-benar hebat.. pergumulan yg hebat dan cukup melelahkan.., perlahan kurebahkan tubuhku di samping mbak Sinta, namun sebelum niatku kesampaian mbak Sinta menahanku, dan memintaku tetap dalam posisi menindihnya, sementara batang kemaluanku tetap menancap dalam kemaluanya.

ubuh kami penuh peluh, sprei sudah berantakan, dan bercak-bercak akibat tetesan pejuh kami mengotori sprei itu.. toket mbak Sinta, semakin mengkilat terkena keringat dan benar-benar merupakan pemandangan yg sangat menggairahkan. Segera kuhisap dan kuremas toketnya,

“oohh… nikmat angga… nikmattt…”

Kami tidur bersampingan, aq terlentang dan mbak Sinta memelukku. Kaki kiri mbak Sinta disilangkan di atas tubuhku, sedangkan kepalanya disandarkan didadaku. Terasa hangat dan berlendir kemaluanya, menempel diperutku.





Matanya menatapku penuh mesra, tangan kirinya tak henti-hentinya mengelus batang kemaluanku. Kami berbicara pelan sambil bercanda mesra, dia bertanya kepadaku, kenapa aq begitu berani memeluk dan menciumnya. Kujawab bahwa kemaluanya yg mengajak dan memintaku berbuat begitu.., mbak Sinta tertawa geli sambil nyubit perutku.. Mbak Sinta bilang, bahwa mbak Sinta memang menunggu kesempatan seperti ini, mbak Sinta bilang sangat terangsang mengintip aq dan Fitri saat bersetubuh. Mbak Sinta selalu terbayang dengan kejadian itu.. dan saat keadaan rumah sepi, timbul ide untuk mengajakku berbuat itu.., apalagi sudah hampir 3 bulan suami mbak Sinta tak memberinya nafkah batin. Katnya permainanku sangat hebat, baru kali ini mbak Sinta merasakan nikmat bersetubuh.., selama ini dengan sang suami tdk pernah dia peroleh klimaks yg dia rasakan bersamaku.

15 menit kemudian, batang kemaluanku terasa mulai mengeras lagi. Tanpa banyak kata segera kutindih tubuhnya dan kumasukkan batang kemaluanku di lubang kemaluanya. Kami bergumul dan bercumbu tanpa ada rasa was-was dan khawatir.., akhirnya setelah 2 kali menikmati orgasme, kusemburkan lagi pejuhku ke dalam kemaluannya.. Pergumulan itu kami ulangi lagi beberapa saat kemudian, hingga terdengar lonceng jam berdentang 12 kali. Segera mbak Sinta memintaku untuk mengenakan pakaianku. Setelah selesai kami berpakaian dan merapikan tempat tidur kembali kami keluar kamar menuju ruang tamu, sambil berangkulan.

Kami duduk berdampingan di kursi sofa ruang tamu, tubuh kami rapat dan saling berangkulan. Bibir mbak Sinta kucium dalam-dalam.., saat kami sedang bermesraan di ruang tamu itu.. dengan tiba-tiba pintu sebelah terbuka. Mbak Santi masuk sambil bawa tas belanjaan, melihat apa yg kami lakukan mbak Sinta sempat terkejut sejenak, namun mbak Santi segera menguasai diri langsung pergi menuju ke dapur. Nampak di wajah mbak Sinta terbesit rasa khawatir, kuusap dan kubisikkan bahwa jangan khawatir, semuanya pasti akan beres.. kataku menentramkan hatinya.

Kukejar mbak Santi ke dapur, kulihat mbak Santi sedang menaruh tas belanjaannya di meja dapur. Segera kudekati dan langsung kudekap dari belakang, mbak Santi terkejut dan langsung membalikkan tubuhnya menghadapku, tangan mbak Santi berusaha mendorong tubuhku dan mencoba melepaskan diri dari dekapanku.



Tapi aq tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, kupeluk mbak Santi lebih erat dan langsung kulumat bibirnya, mulanya mbak Santi meronta mau melepaskan diri.., namun akhirnya mbak Santi menyerah.. bahkan saat jari tanganku menyelinap masuk ke dalam celana dalamnya dan langsung kumasukkan ke lubang kemaluannya dia merintih lirih dan mendekap erat tubuhku, rupanya mbak Santi menikmati apa yg aq lakukan kepadanya.

Kugendong tubuh mbak Santi, dan langsung kubawa masuk ke kamar mbak Sinta, yg baru saja aq dan mbak Sinta pakai bermesraan. Segera kurebahkan tubuh mbak Santi di atas ranjang dan aq langsung menindihnya. Aq nggak mau mengambil resiko, langsung kulepas cd mbak Santi dan juga celanaku, langsung kutusukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya, mbak Santi melenguh dan mengerang….

“Aaagghhh.. Angga… uughhhh… Angga… jangannn… oohhhh…” kugerakan pantatku naik turun. Mulanya sulit kugerakkan batang kemaluanku memasuki lubang kemaluannya, namun sesaat kemuidan mbak Santi semakin terangsang dan kemaluannya semakin basah, hingga semakin mudah batang kemaluanku melesak ke lubang kemaluannya.., dan akhirnya bebas merdeka… menjelajahi bagian dalam lubang kemaluannya..

Mbak Santi mendesah-desah menikmati kocokkanku di kemaluannya, sambil tetap mengocok kulepas bajunya dan Bra nya, lalu ku lempar ke lantai.., kujilati puting susunya dan keremas-remas toketnya, semakin menggila gerakkannya..

Lubang kemaluan mbak Santi lebih longgar di banding mbak Sinta, barangkali ini akibat mbak Santi pernah melahirkan.., namun kulit mbak Santi lebih halus dan wajahnya lebih cantik dan muluss.., mungkin semua itu mbak Santi rajin merawat tubuh dan wajahnya.., di samping itu mbak Santi lebih berada.., sehingga ada biaya untuk perawatan tubuh dan wajah.

Saat aq sedang berpacu mengumbar birahi di atas tubuh mbak Santi, pintu kamar terbuka dan kulihat mbak Sinta berdiri di sana melihat apa yg sedang kami lakukan. Sesaat mbak Sinta berdiri mengawasi kami, lalu mbak santi tersenyum dan pergi menuju ruang tamu, untuk memberi kami kesempatan untuk berasyik-asyikan..

Hentakkan-hentakkan tubuhku semkain kencang dan bertenaga.., kepala mbak Santi bergoyang-goyang, tanganya semakin kencang meremas sprei.., akhirnya mbak Santi nggak tahan… diangkat pantatnya ke atas untuk menyambut kocokkanku, dan akhirnya dihempaskan diiringi erangan dan jeritan keras…



“Aagghhh… Angga… oghhhhh… Angga.. terusss… terussss… aaghhhhhhh…, mengejang kuat tubuhnya, tanganya memeluk erat kepalaku dan membenamkan di anatara kedua toketnya…, serr.. srett.. srett.. terasa sesuatu hygat melumuri batang kemaluanku…

Kugerakkan perlahan batang kemaluanku.., belum terasa denyutan pertanda pejuh bakal nyembur.., perlahan dan penuh perasaan kukocok batang kemaluanku… mbak Santi merengkuh kepalaku dan segera melumat bibirku.., sambil mendesah mbak Santi berkata…

Kamu kurang ajar banget Angga.. kurang ajar oogghhhh… sshhhhh.. ooghh, begitu katanya saat kubekap mulutnya dengan mulutku dan kehentakkan kencang batang kemaluanku di lubang kemaluannya.

Cairan keputihan meleleh, jatuh ke rok bawahnya, yg belum sempat kulepas…

Tak lama kemudian ku balik posisi, mbak Santi di atas tubuhku, tdk lupa kulepas rok bawahnya dan kelempar ke lantai. Ku tempelkan batang kemaluanku di bibir kemaluannya, dan segera ku tusukkkan ke dalam lubang kemaluannya.., kembali mbak Santi mengerang..



“Aagghhh… Angga kamuuhh.. jahattt.. oghhhh….”

Aq tak memperdulikan ocehannya.., kukocokkan batang kemaluanku keluar masuk kemaluannya, menggesek dinding dalam kemaluan mbak Santi.., kuremas-remas toketnya.. jari-jari tangan kanan mbak Santi, memainkan bibir kemaluannya..

“Emhhhh… sshhhh.. aagghhh.. Angga.. emmhhh.. nikmaattt.. teruss Anggaaa… terussss…”

Semakin kencang dan keras.. kocokkanku…, tubuh mbak Santi terlonjak-lonjak di atas tubuhku.., seperti sedang menunggang kuda yg binal.., suara erangan nikmat terus keluar dari mulutnya.. dan rintihan.. mbak Santi benar-benar menikmati.. , bahkan sesaat kemudian tubuhnya aktif bergerak mengglepar-glepar semakin kencang.. sambil mengerang… merintih.. kembali lagi tubuhnya menelungkup di atas tubuhku… dan akhirnya kembali tubuhnya mengejang hebat.. meraih orgasme untuk kedua kalinya.. batang kemaluanku terasa mulai berkedut.. hampir kehilangan kontrol…

Kudorong tubuh mbak Santi.. dan kuatur dalam posisi merangkak, kutusukkan batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluannya.., mudah terasa.., karena sudah licin oleh cairan kenikmatan mbak Santi. Kedut batang kemaluanku semakin terasa.., kubalik lagi tubuh mbak Santi, keterlentangkan.. kukangkangkan lebar kedua kakinya dan ku hujam lagi lubang kemaluanya dengan batang kemaluanku, langsung kencang dan keras.., terdengar erangan dari mulutnya.., tak kupedulikan.. kukocok-kocok terus lubang kemaluannya.. kemaluanku bertambah keras berkedut.. dan akhirnya dengan satu hentakan kencang kusemburkan pejuhku ke dalam rahim mbak Santi.., terasa cukup banyak pejuh yg kesemburkan.., dan sebagian meleleh keluar jatuh mengotori sprei.. kudekap erat dan kucium bibir mbak Santi.

Selesai pergumulan kami babak pertama, kubiarkan batang kemaluanku tetap di dalam lubang kemaluan mbak Santi.., kuciumi sekujur wajahnya.. kujelajahi mulutnya dengan lidahku.., mbak Santi membiarkan saja ulahku.., hal demikian berlangsung hampir sepuluh menitan. Dengan mengerasnya kembali batang kemaluanku, segera kumulai babak kedua permainanku..

Mbak Santi pasarah keprlakukan demikian.., nampak benar dia menikmati saat-saat kebersamaan kami.., hingga akhirnya meraih kembali orgasme beberapa kali.. sebelum akhirnya pejuhku menyembur lagi ke lubang kemaluannya.. Setelah permainan babak kedua selesai.., terasa benar tubuhku lemas dan tak bertenaga rasanya.. tenagaku benar-benar terkuras habis.. melayani 2 perempuan kembar tersebut.



Mbak Sinta denga kemanjaanya dan suka rela melayaniku, sedangkan mbak Santi yg semula kupaksa akhirnya menikmati juga permainanku..

Setealah cukup melepas lelah, kami segera mengenakan kembali pakaian kami dan keluar kamar menuju ruang tamu.. dimana mbak Sinta menunggu…

Melihat mbak Sint5a, mbak Santi tersenyum malu dan segera duduk di dekatnya. Sejenak mereka berdua saling berdiam diri tak tau apa yg akan mereka bicarakan. Aq datang langsung duduk diantara mereka, kupeluk dan kucium mereka berdua bergantian. Kubisikkan bahwa mulai hari ini kami bertiga menjadi kekasih.., kami harus menjaga rapat-rapat rahasia ini.

Tanpa malu-malu kusingkap rok depan mereka, tangan kanan dan kiriku segera menyusup masuk ke dalam celana dalam mereka, jari-jari nakalku beraksi memainkan klitoris dan mulutku aktif menciumi mulut mereka secara bergantian.., sungguh nikmat luat biasa… cerita mesum, cerita ngentot

Sejak kejadian itu kami bertiga sering melakukan, paling sering kami lakukan di rumah mbak Santi saat suami mbak Santi ke kantor, dirumah kontrakanku dan kadang di losmen. Rahasia itu kami jaga rapat-rapat.., hingga Fitri pun tak tau apa yg telah kami perbuat selama ini..