Agen Poker Terpercaya
close

www.3MPOKER1.com Agen Judi Online Terbesar, Terbaik dan Terpercaya. Menyediakan 7 Games 1 ID Menarik Seperti : CEME-KELILING , CAPSA , DOMINO , CEME , OMAHA , SUPER-10 Dan POKER , Bonus Bulanan , Bonus Refferal 10% , Bonus New Member 10% , Bonus harian 5.000 , Bonus Rollingan 0,3 - 0,5% , Support Bank : BCA , BNI , BRI ,CIMB , DANAMON Dan MANDIRI Dan Deposit Via Pulsa XL Dan Telkomsel Dan Ovo Juga Ada .

About

Tampilkan postingan dengan label Polwan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Polwan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juli 2019

Kunikmati Sex dengan Pacar Baruku


Cerita Sex - Ini adalah sebuah cerita dewasa seks, kisah hot ngentot terbaru dan terpanas di awal tahun 2016 yang bisa anda baca karena diangkat dari sebuah kisah nyata. Selengkapnya, simak paparan ceritanya berikut ini!

“Mulai sekarang kamu tak usah menemuiku lagi. Kita putus..!”

Seuntai kalimat meluncur cepat menikam jantungku menghentikan sejenak udara yang mengalir disaluran pernafasanku. Kalimat itu keluar dari bibir seorang gadis cantik yang telah kupacari selama hampir 3 tahun.

Gadis bertubuh semampai dan seksi, dengan rambut panjang sering dibiarkan tergerai itu, sedang memandang tajam padaku dengan wajah dingin dan sorot mata yang mengandung kebencian. Gadis itu berdiri tepat didepanku sambil mengacungkan telunjuknya ke wajahku.

“Ada apa denganmu, Emily ?” Aku mencoba tenang dan mengajukan pertanyaan kepadanya.

Dia masih melototiku. Masih saja memandangku dengan tangan terkepal.

“Tak ada alasan apapun yang perlu kau dengar, Jay“ Ucapnya dingin.

“Setidaknya aku mesti tahu, kenapa kau memutuskan aku begitu saja“ Aku masih saja mencoba mengorek alasannya, meskipun aku tahu tak akan ada jawaban yang kelak keluar dari bibirnya.

Emily memalingkan wajahnya. Seakan tak ingin memandangku sama sekali. Bahkan jariku yang mencoba meraih tangannya ditepiskannya dengan kasar.

“Aku tak ingin berdebat denganmu tentang ini, Jay. Aku sudah bosan dengan hubungan kita. Aku tak bisa melanjutkannya lagi. Itu saja…!“

Dingin…, sangat dingin tatapan mata itu. Sinarnya memancar menyusup lewat mataku yang sedang balas menatapnya, sorot mata itu seakan menusuk tajam dan mengoyak-ngoyak hatiku yang tak pernah lekang mencintainya.

“Dan aku minta mulai sekarang kau tak usah menemuiku…”

Clebbbbbbb

Sakit rasanya. Terasa lebih sakit dari jatuh pada ketinggian 20 kaki saat menolong Emily yang terjebak tebing tinggi dan tak bisa turun saat kami melakukan pendakian minggu lalu. Terasa lebih sakit saat mengalami patah lengan waktu tabrakan dengan sepeda motor ketika hendak menjemputnya yang terjebak hujan deras di halte menunggu jemputan yang tak kunjung tiba sebulan yang lalu. Terasa lebih sakit ketika saat harus menjadi bulan-bulanan preman yang mencoba mengganggunya dua bulan yang lalu. Terasa lebih sakit dari semuanya….

“Aku mohon, Emily. Jangan mengambil keputusan sepihak seperti itu. Jangan lupakan apa yang telah kita lalui bersama, Emily…” Ucapku mencoba memohon.

Saat itu aku sangat berharap Emily akan tersenyum manis kepadaku dan berkata ‘ini hanya candaanku, Jay’. Ya, aku berharap dia mengatakan itu…

“Kisah tentang kita telah berakhir, Jay“ Emily tersenyum sinis. “Dan itu adalah kenangan terburuk dalam hidupku…”

Aku tercekat. Mataku nanar memandangnya. Semua harapanku untuk tetap bersamanya dihempaskannya begitu saja.

“Selamat tinggal, Jay“ Ucapnya datar dan kemudian berlalu dari hadapanku, lalu masuk ke dalam mobil New Kia Picanto berwarna Merah Muda miliknya dengan satu hempasan kuat pada pintu mobilnya.

“Tidak! Aku tak bisa menerima keputusanmu Emily. Aku terlalu mencintaimu…” Jeritku tak peduli dia mendengarnya atau tidak.
Aku masih berdiri terpaku, saat Emily pergi meninggalkanku sendirian di parkiran kampus. Laju mobilnya yang semakin menjauh seakan ikut menyeret separuh hidupku bersamanya. Tak bisa kumengerti keputusan sepihak yang diambilnya.

Sungguh rasanya aku tak ingin mempercayai semua ini. Emily yang sekarang telah berubah 180 derajat. Dia bukan lagi Emily yang ku kenal. Lenyap segala hal indah dan nyaman pada dirinya. Emily yang ku kenal adalah seorang gadis lembut, manja, dan selalu memberi senyum manis untukku, rela mengurai airmata kala aku bersedih, dia selalu ada untukku dengan hati penuh cinta.

Emily yang sekarang benar-benar telah berubah. Entah karena apa.

“Cari non Emily, Den?” Tanya Bi Inah sopan saat aku datang malam itu ke rumah Emily.

“Iya, Bi. Orangnya ada, Bi?“

“Bibi tak melihat pasti Den. Tapi tadi bibi dengar suara Non Emily kayak lagi ngobrol sama seseorang didalam kamarnya…”

Ngobrol dengan seseorang dikamarnya? Dengan siapa Emily dalam kamarnya? Tak biasanya dia mengajak temannya masuk kamarnya. Selama ini tak ada satupun yang boleh masuk ke kamar itu kecuali aku.

Segera aku melangkah masuk. Bibi pembantu yang sedang berdiri menghalangi jalan masuk aku dorong dengan pelan, membuat bibi menjerit kecil saat tanpa sadar tanganku menyentuh gundukan payudaranya. Aku cuek saja, terus melangkah dan menaiki tangga menuju ke lantai atas tempat kamar Emily berada. Tak ada suara apapun kudengar dari dalam kamar. Kutempelkan telingaku ke pintu kamarnya. Hening.

“Emily? Buka pintunya. Ini aku, Jay. Kumohon buka pintunya. Kita harus bicara, Emily“ Tak sabar aku langsung mengetuk pintunya dan mengucapkan kalimat permintaan itu padanya.

Suara langkah kaki terdengar pelan. Lalu gerakan berputar pada hendel pintu, dan seraut wajah cantik yang selalu kurindu muncul dari balik pintu kamar itu.

“Heh??? Kamu??? mau apa kesini?” Suara tak sedap terdengar dari mulut Emily. Wajahnya masam dengan ekspresi yang tak ingin diganggu.

“Kita mesti bicara, Emily.”



“Bicara soal apa..? Apa kamu tak dengar apa yang aku katakan di kampus tadi? Oh, baiklah. Aku akan ulangi. Buka lebar-lebar kuping budekmu itu. Kita Putus. Titik!“ Dan Brakkkk !. Pintu kamar dibantingnya dengan keras.

Aku berdiri terpaku memandang pintu kamar yang hampir saja jebol karena dibanting Emily. Ada apa denganmu Emily? Mengapa kau berubah drastis tanpa alasan yang jelas?
Aku masih tetap berdiri memandang pintu kamar itu ketika pintu kamar itu terbuka lagi, Emily muncul dari balik pintu. Hatiku agak sedikit terhibur dan seberkas harapan muncul disana. Siapa tahu Emily berubah pikiran, memohon maaf atas perlakuannya barusan, lalu kami…

“Sekali lagi kamu menemuiku dan menggangguku…, maka jangan salahkan aku jika berlaku kasar sama kamu! Ingat! Sekali lagi kamu ingat baik-baik, Bodoh! Jangan ganggu aku lagi!” Untuk kedua kalinya pintu kamar itu dibanting, mengeluarkan bunyi benturan keras.

Aku tercenung. Semua sudah terjawab kini. Hati Emily sudah benar-benar terkunci untukku, seperti pintu kamarnya yang telah dikuncinya rapat-rapat.

“Baiklah Emily“ Ucapku setengah berteriak agar dia bisa mendengarnya meski pintu kamarnya tertutup rapat. “Aku merasa tak pernah sekalipun menyakitimu. Aku merasa tak berbuat salah padamu, kecuali atas pradugamu padaku yang tak pernah kau jelaskan padaku. Aku akan pergi, dan tak akan menemuimu lagi. Semua kenangan indah yang pernah kita lalui akan kuhapus dan kutinggalkan didepan pintu kamarmu ini“

Setelah mengucapkan serentetan kalimat itu aku melangkah gontai keluar dari rumah Emily. Rumah yang mungkin tak akan pernah ku injak lagi selamanya.

Ku starter sepeda motorku. Sejenak pandanganku ku arahkan ke kamar Emily, lampunya masih menyala. Namun harapan terakhirku melihat Emily menjulurkan kepalanya keluar dari jendela dan melambaikan tangannya mengucapkan ‘Selamat Jalan Jay’, ternyata itu hanyalah keinginan semu semata.

“Selamat tinggal Emily…” Bisikku pelan diiringi luruhan air mataku membasahi pipi.

Sebuah mobil Honda Jazz warna hitam kulihat diparkir didepan rumah Emily saat malam itu aku melintas lewat di depan rumahnya. Tak tahu itu mobil siapa, yang pasti bukan milik Emily juga bukan milik Papanya.
Mungkinkah ada seseorang yang datang menemui Emily?. Tak mungkin ini tamu Papa Emily, karena aku tahu pasti dari cerita Emily bahwa Papa dan Mamanya sedang berada diluar negeri untuk waktu sebulan.
Ataukah ini mobil pacar baru Emily? Emily punya pacar sekarang?, dan pacarnya itu sedang menemuinya sekarang? Beribu pertanyaan dan praduga berkutat dalam otakku.

Ada perasaan geram dalam hatiku. Inikah penyebab Emily memutuskan aku? Jadi alasannya selama ini sebenarnya bukan seperti apa yang diucapkannya, tetapi alasannya yang sebenarnya adalah karena dia sudah mempunyai seorang pacar yang tajir?
Brengsek ! inikah bukti ikrar yang diucapkannya kala kami masih bersama, tak akan terpisahkan oleh godaan apapun dan tak akan lekang oleh hujaman sengsara sebesar apapun?

Dengan mengendap aku melihat ke dalam rumah melalui jendela. Tak kelihatan siapapun. Lampu dalam rumah temaram. Gagal melihat lewat jendela, aku menuju ke pintu rumah. Aneh. Pintunya tak dikunci. Ada perasaan was-was dalam hatiku. Dengan pelan ku buka pintu dan kupertajam pandanganku ke dalam rumah. Tak ada siapapun.
Segera kuloloskan tubuhku masuk ke dalam lalu menutup kembali pintu. Ku berjalan berjinjit agar tak menimbulkan suara. Sepi. Dimana Emily dan pemilik mobil itu? Jangan-jangan mereka…

Aku melangkah menuju ke arah tangga lalu naik dengan mengendap-ngendap menuju ke arah kamar Emily. Bersyukur Emily teledor kali ini dengan tidak mengunci pintu rumah.
Dengan tetap mengendap-ngendap aku mendekati pintu kamar Emily. Dadaku mulai berdegub kencang. Samar-samar kudengar suara erangan nikmat… Eh bukan…! Itu erangan kesakitan…!
Ada apa ini? Apa yang sedang terjadi pada Emily? Aku makin berdebar.
Kali ini Emily teledor lagi. Pintu kamarnya tak ditutup dengan sempurna. Dengan sangat pelan aku mendorong pintu kamar lalu mencoba mengintip dari celah yang sedikit terbuka. Suara itu semakin jelas terdengar, suara erangan kesakitan…!

Tubuhku terasa limbung, dadaku terasa panas, saat kulihat dengan jelas apa yang sedang terjadi. Emily sedang terlentang bugil dengan tangan terikat menyatu dengan kepala ranjangnya. Seorang pria yang juga bugil sedang melecutkan cambuk kecil ke tubuhnya. Suara jerit tertahan keluar dari mulut Emily saat cambuk itu mengenai kulit mulusnya. Hampir saja aku menerjang masuk dan menghajar pria itu, namun rasa penasaran dalam hatiku mencegah tindakanku. Aku ingin mengetahui lebih jelas apa yang sebenarnya terjadi.

Satu hal yang membuat aku semakin gemetar menahan rasa marah dan gugup adalah Blazer itu…, Blazer yang tergeletak begitu saja dilantai kamar…! Blazer berwarna cokelat yang kulihat dipakai oleh wanita yang menari bugil ditengah taman semalam, juga tank top itu, rok itu, semuanya adalah yang dikenakan wanita penari bugil semalam.
Artinya? wanita semalam itu adalah Emily…! Ya Emily! Dan mereka pasti melakukan ini sejak semalam hingga sekarang…! Atau setidaknya Emily tidak mengganti bajunya sejak semalam…, apa iya?



huh…….

Nampak pria itu menghentikan pecutan cambuknya ke tubuh Emily yang sudah sangat kesakitan. Ikatan pada tangan Emily dibukanya, lalu dengan kasar dipegangnya kepala Emily, dengan jambakan yang keras pada rambutnya, diseretnya tubuh Emily ke pinggir ranjang hingga pada batas bahu sehingga kepala Emily terjulur ke bawah dengan mulut yang ternganga lebar.

Aku makin melototkan mata melihat apa yang dilakukan pria itu selanjutnya pada Emily. Penis pria itu mengacung dengan tegangnya. Ukurannya lebih besar dan lebih panjang dari penisku.
Sambil membuka mulut Emily, digenggamnya batang penis besarnya, lalu diarahkan ke mulut Emily.

Blesssss…

Penis itu masuk dengan mulus kedalam mulut Emily. Ditekannya penis itu menyusup lebih dalam hingga ke kerongkongan Emily.
Tangan Emily menekan perut si pria, berusaha mendorong tubuh itu, namun sia-sia saja, malah semakin dalam penis itu masuk ke dalam kerongkongannya. Emily tersedak, matanya melotot menahan rasa sakit ditenggorokannya.
Kaki Emily nampak terangkat dan menendang-nendang. Sumpalan penis besar dikerongkongannya membuat jalan nafasnya tersumbat. Pria itu kelihatan menikmati hal itu. Dipompanya penisnya keluar masuk dimulut Emily, lalu ditariknya lepas, mungkin sekedar untuk memberi kesempatan pada Emily mengambil nafas. Air liur kental menetes dari mulut Emily, namun tak berapa lama mulut itu disumpal lagi dengan penis besar milik si pria.

“Ahhkkk…hrrkkkhh…“ Suara Emily terdengar. Entah dia menikmati permainan itu atau tidak, aku tak tahu.

Kembali hujaman-hujaman penis pada tenggorokannya diterimanya lagi. Pria itu memaju mundurkan pinggulnya membuat penis panjang besarnya menggesek kerongkongan Emily. Sekali-sekali tangannya menampar pipi Emily. Jeritan-jeritan kecil terdengar keluar dari mulut Emily, namun terus saja pria itu menghujamkan penisnya ke dalam mulut Emily.

Aku terus saja mengintip dari celah pintu yang terbuka. Entah mengapa saat itu aku seperti menikmati pemandangan yang sedang terjadi di depan mataku. Pacarku…, lebih tepatnya mantan pacarku sedang disetubuhi, bukan lewat vaginanya tapi pada mulutnya.
Aku bisa membayangkan betapa menderitanya Emily dengan hujaman penis besar itu pada tenggorokannya, dan aku mulai menyukai itu…

Kembali ku tajamkan pandanganku. Nampak mereka merubah posisi. Mungkin si pria sudah puas menyetubuhi mulut Emily dan ingin mencoba hal lain.

Emily bangun dengan rambut acak-acakan. Cairan kental nampak meleleh dari mulutnya. Diambilnya tissue di atas meja kecil dekat ranjang lalu dilapnya cairan kental itu. Si Pria lalu mendekati Emily sambil menggenggam batangnya yang masih mengacung keras. Perlahan didorongnya Emily. Seakan faham dengan dorongan pada punggungnya, Emily merubah posisinya menjadi menungging. Kulihat penis besar itu digenggam si pria dan diarahkan ke vagina Emily. Digesek-gesekkannya sebentar, lalu dengan satu dorongan yang kuat ditancapkannya penis itu.

“Awwwwwhhh….., Robert…, pelan-pelan…, shaakkithhh..” Emily menjerit keras ketika penis itu melesak masuk kedalam vaginanya.

Aku makin menajamkan pandanganku dari celah pintu. Sebesar apakah penis pria yang bernama Robert itu sehingga Emily menjerit kesakitan seperti itu?
Kuamati dengan seksama. Robert memompa penisnya dengan irama yang teratur diselingi erangan kesakitan dari mulut Emily. Ketika Robert mencengkeram pundak Emily, otomatis terlihat dengan jelas penisnya yang sedang menancap karena posisi mereka tepat membelakangiku dengan kedua kelamin mereka yang jelas terlihat dari arahku mengintip.

Owh..! Bukan vagina Emily yang dimasuki penis Robert melainkan anusnya. Pantas saja Emily terlihat kesakitan. Tangannya mencengkeram dengan kuat seprei dan tepi ranjang. Kakinya terangkat menandakan rasa sakit yang dialaminya. Kepalanya terhempas kesana kemari seiring dengan pompaan penis Robert pada anusnya yang semakin lama semakin cepat, hingga pada pompaan selanjutnya Robert menekan penisnya dengan kuat, lalu terdiam disertai kejutan-kejutan kecil pada tubuhnya. Robert mengalami orgasme.

Aku tersenyum kecut sambil menggeleng-gelengkan kepala. Inikah Emily yang kukenal? Rela disakiti, rela diperlakukan dengan kasar demi memuaskan seorang pria kasar yang mungkin juga adalah pacar barunya ?

Ohhh…, aku mengerti sekarang. Inikah yang dicari Emily? Inikah yang tak didapatinya dariku? Perlakuan lembut setiap kali bercinta dengannya membuatnya bosan padaku lalu memutuskan hubungan denganku begitu saja?

Aku menutup pintu itu dengan pelan, lalu bergegas turun dari lantai atas dan keluar dari rumah Emily, meninggalkan segala aktivitas mereka yang menyakitkan hatiku. Entah apalagi yang akan mereka lakukan, aku tak mau peduli lagi.

Dengan hati yang tak menentu aku menghenyakkan pantatku ke atas sadel sepeda motor.

“Baiklah, Emily…” Gumamku perlahan penuh rasa benci dan dendam. “Aku akan memberikan itu untukmu…, akan kulakukan itu untukmu nanti…”

Dan ku hidupkan sepeda motorku pergi meluncur dengan kecepatan full…

Tunggulah Emily…! Tunggulah….!

Rasa rindu dan cinta dihatiku untuk Emily perlahan mulai pudar. Tak kusangka Emily ternyata seperti itu. Dia yang selama ini kukenal sebagai wanita anggun dan penuh cinta, kini tak lebih dari seorang wanita liar yang rela disakiti dan dilecehkan oleh seorang pria yang baru dipacarinya kurang dari seminggu.

Tak sanggup aku menyaksikan pergumulan mereka pada malam itu. Rasa sakit dihati bercampur rasa jijik telah melenyapkan rasa rindu yang selama ini tak mau pergi dari hatiku.
Kini…, entah mengapa bayangan Emily yang selama ini selalu menari-nari indah di pelupuk mataku perlahan memudar dan berganti dengan bayangan menjijikkan.

Rasa jijik dan sakit dihatiku kini mulai berubah menjadi rasa dendam. Aku ingin memberikan apa yang diinginkan Emily. Rasa sakit dan derita. Itulah yang diinginkannya, pasti!. Jika tidak, mengapa dia berpindah hati ke seorang pria yang sedikitpun tak memperlakukannya dengan lembut?
Dan … oh…! Tidak! Aku masih ingat. Wanita yang pernah kulihat menari bugil ditengah taman adalah Emily! Brengsek dan liar!
Sebegitu besarkah rasa cinta Emily pada pria itu sehingga dia mau mengorbankan harga dirinya?

“Tunggu aku, Emily…! Akan kuberi apa yang kau inginkan…!” Gumamku dengan geram.

Dengan memakai jaket kulit berwarna hitam, dipadu celana jeans hitam dan sepatu warna hitam, aku memacu sepeda motorku menuju rumah Emily. Malam ini aku akan memberikan sesuatu pada Emily. Sesuatu yang dia inginkan.

Suasana rumah Emily sepi saat aku tiba. Lampu dalam rumah terlihat masih menyala namun sepertinya tak ada aktivitas dalam rumah.
Aku menekan bell dengan lama. Andai Emily yang muncul membukakan pintu untukku, maka aku akan menyeretnya keluar, lalu akan menggelandangnya sepanjang jalan dalam keadaan bugil, seperti yang pernah kulihat dilakukannya di taman malam itu bersama pacar barunya itu.

Tak ada gerak apa-apa dari dalam. Kutekan lagi, berulang kali hingga kemudian pintu terbuka. Lagi-lagi pembantu Emily yang membukakan pintu. Ada rasa kecewa dihatiku, tapi biarlah, mungkin akan lebih bagus jika ini dilakukan dalam rumahnya sendiri.


“Oh, Den Jay. Masuk Den. Non Emily lagi dikamarnya tuh…”

Bibi tahu rupanya bahwa kedatanganku untuk menemui Emily, dan itu wajar karena tak mungkin dia berpikir bahwa aku akan menemui dia.
Tapi tidak untuk malam ini Bi, jika kau melakukan hal yang tak kuinginkan.
Senyum sinis dibibirku tak sempat diperhatikan bibi.

“Aku boleh langsung ke kamarnya, Bi?” Tanyaku sekedar basa-basi sebenarnya.

“Silahkan Den. Bibi mau ke dapur dulu“ Ucap bibi berbalik hendak pergi meninggalkan aku yang masih berdiri di depan pintu.

“Bi, Sebentar Bi…” Aku mencegah bibi untuk pergi “Non Emily sendirian?”

Bibi mengangguk. Aman, pikirku.

Setelah mengunci pintu rumah, akupun langsung menuju kamar Emily. Pintu kamarnya masih tidak dikunci. Aku mendorong sedikit pintu kamar, mengintip kedalam. Tak ada siapa-siapa. Akupun masuk ke dalam. Terdengar bunyi guyuran air dilantai kamar mandi. Emily lagi mandi rupanya.
Dengan santai aku membuka jaket kulitku dan membuangnya begitu saja ke lantai. Ku lepas sepatuku dan melemparnya begitu saja. Santai. Aku langsung melompat ke atas ranjang hingga menimbulkan suara berderit yang cukup keras.Dengan agak sedikit berdebar aku menanti Emily keluar dari kamar mandi. Malam ini aku akan memberikan apa yang kau inginkan, Emily.

Suara gemericik air berhenti. Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, dan Emily melangkah santai keluar kamar mandi dengan handuk dililitkan pada kepalanya. Selain handuk itu tak ada kain lain yang menutupi tubuhnya. Bugil.

Tubuhnya masih seksi seperti dulu, meskipun kulihat ada banyak guratan merah disekujur tubuhnya. Payudaranya masih menggantung kencang didadanya dengan puting pink yang indah. Lalu vagina tanpa bulu terapit diantara pahanya. Indah benar…

Emily tersentak kaget saat menyadari ada seseorang yang tengah berbaring diatas ranjangnya.

“Waaaaaw! Eh..Ka..Kau???“ Mata Emily melotot kaget melihatku.

“Apa kabar Emily sayang?” Ucapku dengan nada dingin. “Kangen padaku?”

Emily refleks menutupi payudara dan vaginanya dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya memerah disinari lampu kamar yang terang.

“Mau apa kau kesini, cepat keluaaaaar….!” Jerit Emily sambil berjongkok berusaha menutupi area terlarangnya. “Brengsek kau..! Keluaaaaaarrrr…!”

Aku bangun lalu duduk ditepi ranjang. Dengan wajah sinis aku menatap Emily.

“Oh… begitu ya. Baiklah, aku akan keluar dari sini bahkan dari rumah ini. Tapi sebelumnya….”

Emily melotot tajam saat aku mulai membuka pakaianku satu persatu. Tubuhnya yang sedang berjongkok bugil perlahan beringsut sedikit demi sedikit ke arah sudut kamarnya. Emily menggigil menatapku. Andai hati ini belum dipenuhi dendam, mungkin aku akan memeluknya untuk menghilangkan rasa takut yang sedang dialaminya saat ini. Tapi tidak untuk sekarang ini!

“Ini yang kau inginkan Emily? Ini kan?“ Ucapku dengan suara serak. “Kenapa kau tutupi tubuhmu? kau malu aku melihatnya? Bukankah aku sudah sering melihatnya bahkan menikmatinya? Kau lupa itu, Emily? Hahahahahahahaha…“

Emily semakin menyudut. Aku mendekatinya lalu mencengkeram bahunya dengan kasar.

“Kau takut, Emily?” Tanyaku dengan senyum sinis.

Emily mengangguk pelan dan gugup. Matanya mulai berkaca-kaca.

Kucengkeram tubuhnya lalu kuangkat berdiri. Tak ada rasa kasihan dihatiku sedikitpun, semua telah berubah menjadi rasa marah dan dendam.

“Jangan, Jay. Aku mohon jangan lakukan itu…. Aku…Aku….” Suara Emily terbata. Matanya memancarkan sinar permohonan.

“Fuck You Emily…., You’re …JERK ! Air matamu menjijikkan.. Its …. Disgusting!“ Dengusku geram sambil mendorong tubuh Emily hingga terhempas ke atas kasur.

“Ku mohon….., Jay…., Kumohon….“

Aku melangkah mendekati Emily. Tak kupedulikan kata-kata permohonannya. Kuambil handuk yang masih melilit di kepalanya, lalu kugulung dan kugunakan untuk menyumpal mulutnya. Kedua tangannya kuikat ke ranjang menggunakan kaus dan jaketku. Tersisa kedua kakinya yang meronta-ronta menendang kesana kemari membuat vaginanya yang terlihat memar itu kadang terbuka kadang menutup.

“Kau dengan tulus membiarkan pacar barumu yang kaya itu memperlakukanmu dengan kasar. Mengapa denganku kau malah menolak?” Ucapku dingin. “Oh…, karena dia kaya? Sungguh wanita brengsek kau Emily! Dasar pelacur murahan! mata duitan!”

Emily melotot tajam padaku, rona kaget tersirat dari wajahnya. Mungkin dia kaget karena aku tahu semuanya.

“Tenanglah, Emily. Aku tak akan memperkosamu. Tak mungkin aku mengotori penisku dengan vagina busukmu yang telah kotor dengan mani pria lain…”

Kuambil sebuah botol lotion yang berada pada meja riasnya. Botol itu cukup besar sebesar lenganku. Kubuka penutupnya, lalu menuangkan sedikit ke telapak tanganku. Setelah mengoleskan lotion ke botol, aku mendekati Emily yang masih meronta berusaha melepaskan diri.
Ku renggangkan kakinya dengan paksa, lalu kutindih dengan kakiku.
Vagina mulus Emily terpampang. Ku elus sebentar dan kugesek bagian klitnya.

“Tenang Emily sayang. Sebentar lagi kamu akan merasakan sesuatu yang nikmat. Enjoy this game, honey… Ahahahahahaha…”

Tanpa menunggu vagina itu basah dan licin, aku langsung mencolokkan botol lotion ke belahan vaginanya. Botol lotion yang sudah ku olesi dengan lotion itu menancap masuk setengah ke dalam vaginanya. Emily tersentak. Tubuhnya melengkung. Punggungnya terangkat ke atas. Matanya mendelik.

“Nikmat kan sayang?“ Tanyaku sinis tanpa belas kasihan.

Botol lotion yang panjangnya lebih dari sejengkal dengan mulutnya yang tajam itu menancap setengahnya dengan susah payah. Terasa mengganjal dan mentok. Aku tak peduli. Ku tekan lagi botol itu dengan keras.

“Aaaaaawhwhwhwhwhwh…” Andai mulut Emily tak disumpal dengan handuk, pasti suaranya terdengar melengking keras. Hanya matanya mendelik disertai kepalanya yang terangkat keatas. Air matanya meleleh menahan rasa sakit pada belahan vaginanya.

“Nikmatilah sayang…. enjoy this…., arggghhhhh” Aku menggeram tanpa rasa kasihan.

“Uhm…Uhm…Uhmmm…” Suara Emily terdengar kecil. Matanya mendelik. Sebuah isyarat bisa ku tangkap dari gerakan tubuhnya. Emily mungkin ingin aku melepaskan sumpalan pada mulutnya.

“Kau ingin mengatakan sesuatu, Emily? Hehehehehe.., baiklah“

Sumpalan di mulut Emily ku lepaskan.

“Sss…saa..kkkiiitttt…Jay. Aku mohon jangan…. lakukan ini… padaku… Jay…hik…hik…” Emily terisak. Kakinya yang tadi meronta telah berhenti. Rasa sakit itu mungkin telah membuatnya seperti itu.

“Ini belum berakhir, Emily. Masih ada permainan selanjutnya. Nikmatilah sayang…”

“Kumohon Jay…”

“Diam!“ Bentakku keras. Tak peduli hal itu akan memancing kehadiran bibi. “Kau masih ingat berapa kali aku memohon padamu dan berapa kali kau menolaknya, Emily?”

Emily kembali terisak. Botol lotion itu masih menancap divaginanya.

“Sakit, Jay. Vaginaku sakit, Jay…” Suara memelas dari mulut Emily tak sedikitpun menggugah hatiku.

“Kau ingin aku memasukkannya lebih dalam lagi, Emily? Baiklah….”

“Tidak, Jay… Jangan…! Aaaaaaawwwwwhhhhh…..!“ Jeritan Emily melengking tajam saat botol lotion itu ku tekan dengan keras ke dalam vaginanya. Tubuhnya bergetar, punggungnya kembali terangkat ke atas. Darah segar menyembur membasahi botol lotion dan tanganku. Botol itu kucabut dengan tiba-tiba, membuat tubuh Emily kembali terhentak.
Ada bercak darah di badan botol itu.

Kembali kumasukkan dan kutekan dengan sekuat-kuatnya botol lotion ke dalam vagina Emily, kutekan hingga hampir amblas.

“Awwwwwhhhhhhhhhh….!” Jeritan kencang keluar dari mulut Emily seiring dengan semburan darah segar lagi dari vaginanya.

Tok…Tok…Tok…

Suara ketukan pintu membuatku menghentikan aksiku lalu turun dan membukakan pintu. Nampak bibi sedang berdiri depan pintu. Kubiarkan saja bibi masuk menghambur ke dalam kamar, dan lebih cuek lagi aku mendengar suara jeritan bibi yang melihat keadaan Emily.

“Ya Tuhan…, kenapa ini, Non?” Jerit bibi panik.

Emily diam saja memandang bibi yang segera memeluknya disertai isakan tangis. Darah segar meleleh keluar dari vagina Emily. Tubuhnya terlentang tak berdaya. Matanya perlahan meredup hingga akhirnya terpejam.

“Kau apakan Non Emily, hah??!” Bentak bibi sesaat kemudian. Matanya memancarkan amarah.

“Aku memberikan apa yang dia mau…, Bibi mau juga?” Aku malah mengucapkan kalimat yang bikin bibi tambah marah.

“Ada apa denganmu hah?!”

Aku hanya tersenyum sinis menanggapi ucapan bibi. Kulihat Emily diam saja. Matanya terpejam dengan bibir yang melengkung menahan sakit.

“Ughhh…” erangan kesakitan terengar lemah dari mulut Emily.

Bibi yang sedang menatapku dengan penuh amarah segera berbalik dan menghambur ke atas tubuh Emily.

“Non… Bangun, Non… hik..hik..”

Tak ada gerakan apapun di tubuh Emily. Diam, kaku, tak bergerak.

“Noooonnnn…!, bangun non… hik..hik…” Suara Bibi melengking nyaring. Digoyang-goyangkannya tubuh Emily. Kaku dan tak ada respon sama sekali.

Sejenak aku terpana. Kuperhatikan keadaan Emily saat itu. Bibirnya pucat, matanya terpejam. Tiba-tiba aku dihinggapi rasa panik. Bibi yang sedang memeluk tubuh Emily kusingkirkan dengan satu hentakan kuat. Aku memanggil-manggil nama Emily, tak ada jawaban.

“Emily…? Emily…? Emilyyyyyyy….!” Jeritku panik.

Ada apa denganku? Iblis dari mana yang telah merasuk dalam jiwaku sehingga aku tega menyakiti gadis yang selama ini aku cintai? Benar, dia telah menyakitiku…, benar dia telah mengkhianatiku, tapi apa mesti sekejam ini perlakuanku padanya?

“Kau…Kau… Iblis Kau… Biadaaaaaaab!” Jerit Bibi dengan mata melotot dan tangannya terkepal mengacung ke arahku.

Aku tak mempedulikan bibi. Aku panik. Aku mesti segera menolong Emly… Ya menolongnya dari akibat perbuatan bodohku sebelum semuanya terlambat.

Aku masih sendiri, duduk dibangku taman dengan pandangan kosong. 10 Tahun sudah kepergian Emily. Tepatnya tanggal 13 Februari 2005. Dan hari ini, hari kepergian Emily dari sisiku, 13 Februari 2015. Tak ada lagi Emily, dia benar-benar telah pergi membawa derita yang teramat sangat karena kebodohanku.

Emily telah menjauh dariku ke tempat yang tak terjangkau, meninggalkan pesan tegas tentang rasa cinta yang dimilikinya untukku.
10 Tahun lalu dia meninggalkan aku, dan masih terbayang jelas saat dia meregang nyawa dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Masih terngiang suara erangan kesakitan dari mulutnya…

Aku baru tahu alasannya kenapa Emily memutuskan hubungan denganku dari cerita Bibi. Menurut bibi, Emily melakukan semuanya karena terpaksa. Ayah Emily terlilit hutang pada Robert, seorang pengusaha muda yang dulu kuanggap pacar baru Emily.
Ayah Emily mendekam di balik jeruji besi karena tak sanggup membayar hutangnya pada Robert meskipun telah menjual seluruh aset perusahaannya. Hanya ada satu cara yang bisa mengeluarkan Ayah Emily dari dalam penjara. Emily mesti berkorban. Dia harus mau melayani kebutuhan sex Robert yang seorang sadismine. Sayang sekali, sebelum semuanya selesai, aku telah merusak semuanya. Aku telah membuat Emily gagal menolong ayahnya sekaligus membuatnya gagal menjelaskan alasannya memutuskan hubungan denganku.
Sesungguhnya dengan perlakuanku itu, apa bedanya aku dengan Robert? Bahkan mungkin aku lebih buruk dari Robert!

Aku telah menerima balasan atas kebodohanku. Aku mendekam dalam sel tahanan selama 5 Tahun. Aku menjalaninya dengan ikhlas, sebagai hukuman atas kebodohanku.
Selama lima tahun kemudian pula aku menyesalinya. Tak akan pernah habis penyesalan ini dalam hatiku. Dan setiap tanggal 13 Februari aku duduk di bangku taman ini, entah untuk apa dan menunggu siapa, karena aku tahu dan aku sadari bahwa tak mungkin lagi ada Emily yang akan menemuiku disini, di bangku taman yang sering kami jadikan tempat memadu kasih.

Aku masih terus bermimpi, tentang harapan akan bertemu Emily disini, harapan yang akupun menyadarinya bahwa itu mustahil. Aku akan terus menunggu hingga besok dan berharap ada keajaiban yang bisa mengembalikan Emily ke kehidupanku.

13 Februari, hari yang terasa berat kulalui.
Dibangku taman ini, sebuah sandiwara kekerasan kembali berputar dalam kenanganku. Sebuah kenangan pahit. Aku telah membuat Cinta Sejatiku pergi menjauh dariku. Pergi kesuatu tempat yang jauh dan tak tergapai.

Aku tak pernah menghitung hari, tapi aku tahu hari ini tanggal 13 Februari, karena setiap tanggal ini pasti banyak pasangan muda membicarakan tentang sebuah hari, hari dimana mereka saling mengungkapkan rasa kasih pada keesokan harinya. Hari yang mereka sebut dengan Valentine.

“Ughhh…hufffhhh..”

Lara hatiku semakin dalam setiap kali sang surya memasuki peraduannya, digantikan sang Dewi Malam yang memancarkan cahaya terang menjelang purnama, lalu esoknya Sang Raja Siang kembali keluar dengan cahaya terangnya di hari Kasih Sayang, 14 Februari. Hari yang semakin meluruhkan airmataku.
Entah sampai kapan aku disini…, menanti Emily.

Semestiinya kau ada disini
Menemaniku menyambut hari kasih sayang ini…
Ah…
Sungguh aku tak mengerti,
Aku tak faham apa itu Valentine..
Kata orang itu hari Kasih Sayang…

Tapi itu bukan untukku kan ?

Emily….
Tak ada Valentine untukku..
Karena setiap hari, setiap saat…
Valentine itu ada bersamaku…

Seluruh hariku terasa hampa…
Aku masih terlalu merindukanmu…
Aku selalu mengasihimu, meskipun kata orang itu terlambat…
Tapi biarlah.
Aku akan terus mengasihimu
Hingga Tuhan memanggilku
Untuk mempertemukanku denganmu
Di sana… Di SurgaNya…


Selasa, 02 Juli 2019

Saya dengan Polwan Cantik Yang Merebut Keperjakaanku



Cerita Sex - Kisah ini terjadi sekitar tahun 2014, ketika saya masih kuliah mencari pekerjaan sampingan untuk biaya kuliah. dan pada waktu itu saya ditawari untuk bekerja sebagai operator di warnet yang saya pikir cukup bagus untuk biaya kuliah tambahan

Pada saat itu saya menyimpan warung internet Malem sendirian, saya seharusnya sendirian, tapi itu normal untuk lupa menghilang. Yang mengejutkan, adalah warung internet sangat sunyi (walaupun ketika orang jarang memiliki modem sendiri, warung internet tidak pernah sepi, lho). Jadi saya santai sambil melihat-lihat materi kuliah, sambil slonjor-slonjor dan mur kacang.
Sekitar jam 9 motor berhenti di luar. Hah, akhirnya ada juga pengunjung. Pintu terbuka, gadis itu muncul, tubuhnya tinggi, wajahnya lucu, rambutnya dipotong pendek dan dia mengenakan jaket dan celana panjang.Apakah Anda ingin bersih, kawan? Dia bertanya.
Oh, tolong, sis, ini kosong. Pilihan apa pun. Aku menjawab dengan ramah sambil menatap wajah imut itu.
Terima kasih, kawan, aku sudah di sudut jalan? dia kemudian menuju ke ruang sudut, terus melepas sepatu dan duduk (semua stan warnetnya). Saya melihat sepatu sepatu kulit, seperti bukan gadis biasa. Setelah duduk, ia membuka jaketnya, ternyata di balik jaketnya ia mengenakan seragam polisi, pangkat Segitiga Kuning adalah satu biji, oh pangkat Sersan Dua. Ohh ... polisi yang manis, pikirku.

Bro, apa nama pengguna dan kata sandi ?? dia bertanya, menatapku.

 Ehh ... ohh, gratis, bro, aku hanya bilang, itu agak gagap karena aku terpana dan kaget ...
Oke terima kasih

Beberapa menit saat browsing saya mencuri melihat polisi wanita sebelumnya. Setelah sekian lama, ditemukan kembali beberapa kali menatap pemandangan. Akhirnya saya tidak berani mengingatnya. Saya mengalihkan konsentrasi ke monitor komputer saya. Karena saya bosan dengan materi kuliah, saya mulai menjelajahi situs-situs panas.
Setengah jam berlalu, tiba-tiba saya terkejut ketika wanita itu ada di samping saya.
Mas, ajari aku membuat email, katanya

Uhh, ehhhh, ehhh ya saya panik, karena monitor saya penuh dengan pasangan adegan panas. Ayolah, Kak, aku mengajariku untuk berdiri dan membawa polisi wanita itu ke kamarnya (supaya aku tidak mati & terlalu lama duduk di depan komputerku).

Saya mulai belajar cara membuat email dari dasar-dasar. Sambil membaca lirik saya membaca namanya, sebut saja Dewi. Dewi tampak antusias mendengar penjelasan saya, kemudian mulai mencoba berlatih langkah demi langkah. Saya masih gugup, kenapa saya tidak, dia seorang polisi wanita ?? haiiiii. Tapi sepertinya dia mencoba melelehkan suasananya.
Mas, sudah lama bekerja? Dia bertanya
Wow, kenapa begitu, kakak. Ini juga untuk menambah biaya kuliah sambil mencoba tersenyum, tetapi masih kaku. Sial.
Wow, betapa kerennya itu, bersih? Ehh, jangan panggil aku, kawan. Di sini, nama saya sudah ditampilkan dengan jelas. Panggil saja Dewi? Jika Anda menyebutkannya, kawan?

Saya Andri Mbak .. Wow, saya tidak berani menelepon, mbak. Tidak sopan menjawab saya saat menggerakkan mouse.
Tidak apa-apa, jadi saya kenal. Lagipula, kita seusia dengan kita. Umur saya dua puluh tiga tahun, kenapa penjelasannya blak-blakan, jarang gadis yang terus terang

Ya, sis, eh Dewi, jika saya baru berusia dua puluh dua tahun, Kak, orang tua, kakak, ngomong-ngomong, saya masih memakai dines. Selesaikan tugasnya ya? Saya bertanya sambil memiliki kesempatan untuk melihat wajahnya yang manis (buehhh, sangat manis)
ya, saya ambil bagian dalam keamanan di balai kota, ada demo siswa. Jadi polisi turun semua.

Saya melihat. Kenapa Ms. Dewi kenapa kamu tidak pulang saja? Saya bertanya lagi
Tidak, saya melihat warnet jadi saya ingin mampir. Semua belajar
Emang mbak Dewi di mana rumahnya?
Di perumahan ****, itu agak jauh. jawabnya sambil tersenyum manis.
Kenapa, kamu sudah menikah, kakak? (dia bertanya, dia tidak mulai khawatir karena senyum itu) Sudah, pernikahan sudah berumur satu tahun. Suamiku sopan, bekerja di ekspedisi. Tapi ini rumit lagi, kan?
Um, maaf, pertanyaan Ms. Sassy.
Tidak, bagaimana jika Anda memilikinya? Lhahh, jawabnya
Tidak, bro, pacar tidak ada. Kemudian
Ohh, meskipun penampilan mendukungnya, dia menjawab dengan tersenyum lagi. Aku mati kedinginan segera. Terutama tangannya sambil menyenggol bahuku.




Ahh, kenapa kamu bisa. Ehh ... suamiku terlalu huh. Nyonya, yang secantik ini, dalam mengkhianati, sedikit bingung dengan jawaban saya
Hahaha, seberapa cantik? Itu normal, sementara tangannya disentuh di pundakku lagi. Tapi hati saya sangat sedih, jadi terkadang ketika saya pulang kerja saya tidak langsung pulang. Tapi kemana kamu pergi dulu?
Anda tahu, cantik, sungguh, sis, manis dan tinggi dan ramping, meskipun dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, dia terlihat sedikit memerah. Senyumnya mengembang.

Ehmm ... terima kasih. Eh ... menurut Anda di mana situs tersebut? dia bertanya agak malu-malu
Ehhh, yang mana ya? Saya menjawab berpura-pura bodoh
Yang tadi, kamu tahu, di komputer, mas.

Ohh, ehh, bukankah itu tidak apa-apa, Sis? Di sini saya menemukan alamatnya, saya mulai mengetik alamatnya, dan gambar-gambar orang yang bercinta muncul lagi. Saya melihat matanya menatap monitor dengan penuh semangat. Ini cukup klik pada tautannya. Berapa lama kemudian? Ketika saya pergi, saya ingin kembali ke tempat operator.
Ehh, dimana mas? Tunggu aku, siapa tahu nanti bahwa ada lebih banyak masalah. Saat dia meraih tanganku dan menarikku untuk duduk lagi. Di sini ... dan aku mengangguk pelan.
Kami berdua mulai menjelajahi situs xxx atau Cerita Panas, dan saya merasa seperti duduk bersama. Mata Dewi tidak luput dari monitor, napasnya terdengar agak memburu (aku seperti itu, hahaha). Rasanya seperti tubuh saya menyentuhnya, hangat. Tangannya diletakkan di atas kepalaku, membuat konty-ku meluap (saat itu aku masih benar-benar perawan), menggosok pahaku. Aku dengan berani memeluk pinggangnya yang ramping dan aku menempelkan tubuhnya ke tubuhku.

Bro, saya sudah seperti ini di komputer atau tidak? dia bertanya dengan lembut, agak berbisik. Wajahnya sangat rapat dengan wajahku, membuatku melihat ke depan.
Belum, bro, pacar tidak punya, ciuman, aku tidak pernah menjawab dengan jujur.
Ehmmm, kalau begitu, maka berdiri lalu berjalan ke pintu depan. Pintu dikunci olehnya, maka pos yang ditutup terbalik. Kemudian dia kembali ke tempat saya duduk, lagi-lagi memeluk saya yang benar-benar panas dan dingin.

Mau seperti itu ?? setengah membisikkan dewi di dekat telingaku, seluruh tubuhku meringis. Bibirnya menempel di telingaku. Anjrriiiiittttt, saya tidak bisa mengatakan apa-apa. Tanpa menunggu jawabanku, tangannya menarik tangan kiriku, tertempel di dadanya. Tidak terlalu besar, tangan saya dibimbing untuk melakukan gerakan membelai dan meremas. Setelah saya bisa bergerak sendiri, tangan saya dilepaskan. Lalu tangan kanan Dewi menelusuri bajuku, meremas dan memutar putingku. Tubuhku seperti semua kejang.

ML Dengan Polwan Cantik Ini Buatku Makin Ketagihan
Mas, apakah kamu menyukai Dewi? Suatu malam aku milikmu, suaranya mendesah di telingaku. Mulutnya menangkap bibirku, lidahnya dengan liar memasuki mulutku. Sementara saya menghela nafas dengan mudah (pengalaman pertama) tangan saya semakin aktif meremas keranjang mereka. Tangan Dewi kemudian membuka beberapa kancing baju resminya, ehhh ternyata masih ada kemeja di dalamnya. Kaos dalam dia mendorongnya, lalu dia juga mendorong BH ke atas. Tanganku ditarik lagi untuk memerasnya, aku mulai bersemangat. Kisah Pemerkosaan

Tangan Dewi menelusuri celanaku, penisku sudah bengkak, ahhhhhh. Judulnya seperti meledak. Sementara Dewi terus menggigit mulut dan lidahku. Kebutuhan baju saya terangkat di atas, bibir Dewi kemudian bergerak untuk menjelajahi dadaku. Lidahnya menjilat putingku. Huuuuhhhhhh, sementara sesekali gigitan kecil sering membuatku kaget. Rasanya seluruh dada saya tersapu oleh lidahnya ... betapa nyamannya itu, lidahnya mulai jatuh menjilati pusar saya. Kakak, aku hanya berjalan kesana kemari.

Perlahan tangannya membuka celanaku terangkat, turun ke lutut. Di dalam cd, kontol ini mulai terasa berputar-putar, sementara Dewi dengan kejam mencium batang kejantanan saya. Tak lama kemudian, cd saya jatuh ke lutut juga.
Kakak, burungnya lumayan besar hmmm emmm ?? sambil mengelus dan meremas-remas koperku.
Uhhhh, seberapa besar itu ??? Saya bertanya sambil menyapu melek huruf
Tidak terlalu besar, tapi seperti ini

Dewi menjawab sementara tangannya mulai mengguncang belalangku. Massss. Saya tidak tahu burung itu ??
Ya, kakak, saya belum berkonsentrasi, Dewi kemudian mulai menyedot kepalanya dan batang perlahan. Sangat lembut, tangan kanan saya dengan panik meremas rambutnya yang pendek, rapi dan hemmmm, sangat harum. Dan tangan Kiriki meremas keranjang di balik pakaian resminya, sangat kenyal.

Semakin lama kuluman semakin cepat, semakin aku mengayun dan meremas.
Ohhhh, Wii ... Dewiii .. sudahhhhhhhhh, saya tidak tahu ?? Saya banyak bercanda. Ini pertama kalinya aku mengambilnya, seperti gadis manis lagi. Wow, benar, pangkal koperku mulai terasa berkedut.



Dewiii ... ohhh itu tidak bisa menahannya lebih erat dan akhirnya merasakan sesuatu yang menggelegak ... crottt. Sperma saya keluar di mulut dewi. Tapi ... Dewi tidak melepaskan batangku, masih bengkak dan tersedot. Rasanya itu bukan hal yang baik sekarang, tapi itu menghibur, tidak macet.
sudah, menghiburku ... sementara tanganku mencoba melepaskan kepala dewi dari dadaku. Tidak lama kemudian dia melepaskan mulutnya dari dadaku, uhhhhhh. Seluruh tubuh terasa lemas tanpa tulang. Dewi tersenyum padaku, kulihat mulutnya terasa sedikit.
Ehhh mbak, spermaku, bro, huh ?? saya bertanya

Ya, tidak apa-apa. Sehat, rasanya agak asin. Lagi pula, semprotkan di mana-mana, bisakah itu mengenai sesuatu? Dewi menjawab dengan senyum nakal. Tangannya mulai gerilya lagi mengejar batang saya yang sudah mulai menyusut. Diadakan dan mulai dibelai lagi ??, saya masih menggeliat geli ?? Mulutnya kembali ke mulutku, kami berciuman dengan ganas. Saya mulai bisa mengikuti permainan.

Ya, mbak, apakah saya puas, bro? tangan saya dibimbing untuk melepas celana dinas cokelatnya. Saya menekannya ke lutut. Celana hitam yang menutupi benjolan. Saya tidak sabar saya sedang ploroting pakaian dalamnya. Rambut tebal yang terlihat menghiasi gundukan daging. Tanganku mulai menggosok dan mencoba membuka rambutnya, mencari sesuatu seperti itu di situs-situs porno.

Tangannya dengan lembut menuntun tanganku, dan mengarahkan mulutku ke arah vaginanya. Hanya karena celana itu hanya diregangkan sampai ke lutut, agak sulit untuk sampai ke vagina. Akhirnya lidahku bisa menjangkau vaginanya, kujilat sedikit dan terasa agak basah (hihihi, baunya seperti keringat, tidak peduli apa). Dewi mulai menghela nafas dengan lembut, aku menambahkan iramanya.

Massa, ayo masuk saja, tidak bisa berdiri sekarang ... Dewi bersuara pelan.
Ya sis aku berdiri lagi dan bersiap-siap dengan dadaku. Tapi aku bingung, dengan posisi celanaku yang sebatas lutut dan Dewi yang sama dengan kami berdua yang tampak sama-sama bingung.
Bu, bagaimana dengan entri?
Ehh ... ya, bro, bagaimana dari belakang? Saya sedikit gila
Ya ... terserah Ibu. Saya masih bingung ... Lalu Dewi berbalik dan merangkak, pahanya membentang sehingga vaginanya terlihat sedikit terbuka.

Ayo, kawan, masukkan, tusuk di sini, dan tangannya meraih dan memegang belalai saya, ditarik perlahan ke arah vagina yang agak basah. Sesaat kemudian, kepala saya yang bengkak tersapu ke vaginanya, sangat lezat
Saya mulai mendorong batang sedikit, vagina saya terputus. Perlahan, batangnya mulai meresap ke dalam vagina. Tanganku mulai meremas-remas pantat Dewi. (Gila, benar-benar bulat, keledai polisi, sangat keras lagi. Banyak olahraga, ya?). Terkadang tangan saya menyusup ke pakaiannya yang resmi dan meremas-remas keranjangnya dan memilin susu. Dewi menghela nafas dengan mudah.
Bagaimana dengan massa ??? Enakkk? terus bolak-balik.

Ya, Kak, enak sekali. Bu benar-benar panas, itu sudah pantat montok, dan aku jujur
Ahh, bro, itu mungkin. Kenapa maskotnya bagus juga, benar-benar kuat, meski baru keluar semua tadi? itu genit. bagaimana perasaan Anda tentang goyang seorang polisi ??

Ehhh, sedikit bersemangat juga sementara pinggulku mendorong kembali batang di vaginanya. Sementara mataku melihat jam dinding, 10:30. tanganku mulai terbiasa dengan lekuk tubuh Dewi. Pundak Dewi kemudian diturunkan, sekarang pantatnya benar-benar mati rasa, napasnya mulai memburu tidak teratur.
Ahhhh massa, enakkkkk, teruss tubuhnya menggeliat, sesekali dia melihat pantatnya yang bundar bergerak-gerak. ohhhh Ohhhhh ... ahhhhhhhh seluruh tubuh Dewi berkedut untuk sementara waktu dan kemudian santai perlahan. Cerita Sex Dewasa Bergairah

Saya telah mengalami orgasme masal, mari kita lanjutkan sampai matanya keluar sedih tetapi tatapan manja pada saya. Ingin mengubah gayanya? Hanya menyendok ya? Mas, pasti lho
Ya, kakak saya perlahan pingsan dengan Dewi. Posisi itu sekarang menyendok, aku memeluk Dewi dari belakang sementara aku menusuk pistolku berulang kali dan dengan sekuat tenaga.
Ahh, ahhh, Dewi menjerit pelan, aku terus memompa
Ahhhh, mungkin, aku keluar dari tubuhku yang bergerak-gerak dan selangkangan. Sperma saya keluar untuk kedua kalinya. Lenganku ke Dewi tampak mencengkeram sampai Dewi tampak kesulitan bernapas.
Massa, puas, katanya lembut dan manja, aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Saya melirik jam dinding ... jam 23.15.

Ada apa, bro, bagaimana Anda melihat jam ??? Tidak suka Dewi mengerutkan kening
mbak ..., tapi sudah jam setengah dua belas, teman saya yang terus menjaga segera datang, jelas saya
Ohhh, mungkin ... senyumnya manja, lalu kepalanya menoleh ke wajahku dan mulai menggigit mulutku lagi. ya, kita harus bersihkan dulu. Saya melepas koper saya yang mulai melemah dari vagina, saya mengambil tisu untuk menahan dan membersihkan cairan di sekitar vagina.

Terima kasih, kawan, ketika ia merapikan seragam polisi wanita itu. Merapikan rambut pendeknya lagi, aku suka melihatnya.
Bu, ini sangat indah
massa ahhh. terimakasih juga. Sama-sama, saya juga sangat menikmati ini. Jika memungkinkan lain kali kita bertemu lagi, saya yakin Anda masih merespons dengan nada manja. Ehh, bisakah saya meminta nomor ponsel, kawan, supaya saya bisa bertemu lagi

Tentu saja mbak, Ms. well. Pertarungan saya diambil oleh Ms. Lhoo ... Saya sedikit tersipu
Ohhh, maaf. Setelah saya akhirnya tiba, saya harap Anda menyukainya dan tidak menyerah setelah rapi, ia memakai sepatu dan ingin membayar untuk internet. tidak perlu ketinggalan, pembayaran ini sangat mengapa saya menjawab
Ahhh sudah. Terima kasih ... Setelah bertukar nomor ponsel, Dewi membuka pintu dan mengambil kissbye, yang aku lebih intim.

Dan sejak itu saya sesekali bertemu dengan Dewi di berbagai tempat. Beberapa minggu kemudian Dewi menceraikan suaminya. Hubungan saya dengan Dewi hingga 2015. Pada tahun itu dewi memiliki suami baru, seorang perwira polisi. Saya tidak berani bertemu lagi, dan Dewi sepertinya sangat mencintai suaminya sekarang. Saya hanya bersyukur.


Kamis, 23 Mei 2019

KuKentot Polwan Manis Dan Sexy




Cerita Sex - Saya ingin menceritakan kisahku yang terjadi tahun 2005, dikala aku masih kuliah dan berusaha cari kerja sampingan untuk membiayai kuliahku. Kebetulan adanya temen ibuku yang mempunyai warnet di kota ini, jadi aku kerja sebagai penjaga warnet. Saya biasa jaga malam dari jam 7 hingga jam 12 malam, tetapi teman kadang tidak bisa gantikan shiftku jadi kadang saya terpaksa jaga hingga pagi hari.Saat saya jaga sendirian yang harusnya berdua, namun teman ada aja alasannya buat ngilang. Saya sangat heran, warnet yang biasanya sangat rame dimalam hari, tumben banget sepi kali.

Pekerjaanku pun menjadi sangat santai dan saya memutuskan untuk browsing materi kuliah, bersetara dengan slonjor-slonjor serta nyamil kacang Sekitar pukul 9 adanya bunyi motor stop diluar. Hah, kesudahannya adanya pengunjung juga. Pintu sesudah itu dibuka, Kelihatan cewek masuk, bodynya tinggi, wajahnya mungil sih, rambut potong pendek serta pake sweater serta celana panjang

“Ingin nge-net adanya mas?” tanyanya “Oh, silahkan mbak…, kosong kok. Bebas milih mana saja”. Jawabku ramah bersetara dengan menatap wajah mungil hal yang demikian “Makasih mas, saya dipojok situ aja” ia seketika menuju bilik yang pojok, terus nglepas sepatu serta duduk (bilik warnetnya lesehan seluruh).

Aku lihat sepatunya sepatu kulit, kayak-kayaknya bukan cewek awam nih. sehabis duduk, ia membuka sweater, riilnya dibalik jaketnya ia menerapkan seragam polisi, pangkatnya Segitiga Kuning satu biji, ohh Sersan Dua pangkatnya. Ohh,. polwan manis pikirku “Mas, nama sama password penggunanya apa nih??” tanyanya, bersetara dengan menoleh ke saya “Ehh,. ohh,. bebas kok mbak, seketika aja” kataku jadi sedikit gagap gara-gara terpana plus terkejut “Okey mas, makasih”





“Gak papa,. kalo mas sendiri?” Lhahh, ia balas nanya
“Belum mbak, pacar aja gak adanya. Nanti-nanti lah”
“Ohh, meski penampilan mensupport lhoh” ia menjawab bersetara dengan tersenyum lagi. Matek saya… panas dingin seketika. terutama jikalau tangannya bersetara dengan menyenggol bahuku… beuhhh “Ahh, mbak bisa aja. Ehh,. suami mbak keterlaluan juga ya. Masa khianati mbak secantik gini …” agak gombal jawabku.

“Hahaha…, menawan gimana? Awam aja ah” bersetara dengan tangannya disenggolkan ke bahuku lagi. “Tetapi, hatiku sedih sekali, makanya adakalanya kalo pulang kerja aku ndak seketika kerumah. namun jalan kemana dahulu gitu”

“Lho, mbak cantik dan manis betul lho plus tinggi langsing lagi…” kukeluarkan kata-kata gombal yang entah kudapat darimana, tapi tampak ia agak malu. Senyumnya kian mengembang “Ehmm,. makasih ya. Eh,. ngliat web-web yang kayak tadi dimana ya?” tanyanya agak malu-malu.

Ehhh,. yang mana ya mbak?” jawabku pura-pura goblok
“Ingin tadi itu lho, yang dikomputernya mas” “Ohh,. ehh gak papa ya mbak? Ini aku carikan domisilinya” aku mulai mengetik domisili, serta muncul gambar-gambar orang lagi bercumbu berat. aku lihat matanya memandang monitor penuh asa. “ini tinggal di klik tautan-tautan yang adanya. Nanti banyak yang keluar kok” jawabku yang hendak pergi untuk kembali ke meja operator.

“Ehh, kemana mas? Temenin aku dong, siapa tau nanti adanya kesulitan lagi”. katanya sambil meraih tanganku dan menarikku untuk kembali duduk lagi. “Disini aja ya”. serta aku mengangguk perlahan Kami berdua mulai berselancar web-web xxx, serta aku merasa duduk kian merapat. Mata Dewi tak lepas dari monitor, napasnya terdengar agak memburu (saya juga demikian sihh hehehehe…). berasa tubuhku mulai bersentuhan dengannya, hangat dehh.

Tangannya ditumpangkan kepahaku, bikin konty ku meluap meronta-ronta (waktu itu aku masih betul-betul perjaka… bayangkeunn), diusap-usap pahaku. aku beranikan memeluk pinggangnya yang ramping serta aku rapatkan badannya ke tubuhku.
“Mas, udah pernah kayak yang dikomputer ini ndak?” tanyanya perlahan, agak berbisik. Wajahnya betul-betul rapat dengan wajahku, membikin aku gelagepan “Belum mbak, pacar aja gak punya, kecupan juga belum pernah…” jawabku jujur “Ehmmm…, jikalau gitu…” di berdiri sesudah itu berjalan kepintu depan. Pintu dikunci oleh ia, sesudah itu artikel closed dibalik. seketika ia kembali ke tempatku duduk, kembali memeluk aku yang sudah betul-betul panas dingin.

“Ingin nggak kayak gitu??” separuh berbisik dewi nanya didekat telingaku, seluruh badanku jadi merinding. Bibirnya ditempel ke telingaku. Anjrriiiiittttt……, aku gak bisa ngomong apa-apa. dengan tak menunggu jawabanku tangannya menarik tangan kiriku, ditempel ke toketnya. Gak terlampau besar sih, tanganku diberi pengarahan buat bikin gerakan mengusap serta meremas. sehabis aku bisa gerak sendiri, tanganku dilepaskan. sesudah itu tangan kanan Dewi menelusup kedalam kaosku, meremas serta memilin-milin putingku. Badanku kayak kejang semua jadinya.



“Mas, berkeinginan kan berimbang Dewi? Hanya malam ini, saya jadi milikmu sepenuhnya masss” katanya sambil keluarkan suara desahan ditelingaku. Mulutnya memagut bibirku, lidahnya liar masuk kemulutku. padahal aku mendesah-ndesah keenakan (pengalaman pertama …) tanganku makin aktif meremas toketnya. Tangan Dewi sesudah itu membuka beberapa kancing pakaian dinasnya, ehhh… riilnya masih adanya t-shirt dalam. Kian dalam ia sibakkan ke atas, sesudah itu BH juga ia sibakkan ke atas. Tanganku ditarik lagi untuk meremas-remas toketnya, aku mulai termotivasi.

Tangan Dewi menelusup ke celanaku, ****** yang udah sembab diremas-remas…, ahhhhhh. Ubun-ubun kayak berkeinginan meledak. padahal Dewi terus memagut seisi mulut serta lidahku. Perlhan kaosku dinaikkan keatas, bibir Dewi sesudah itu pindah menjelajahi dadaku. Lidahnya menjilati putingku…. Huuuuuhhhhh, bersetara dengan kadang kala berasa gigitan-gigitan kecil yang sering kali membikin aku terkejut. berasa seluruh dadaku disapu lidahnya,. rasanya nikmat gitu dan lidahnya mulai menjilati pusarku. Karuan aja aku mengelinjang kesana-kemari.

Tapi tangannya membuka risluting celanaku, diwariskan sebatas lutut. Didalam cd, kontolku ini mulai berasa berdesir-desir, padahal Dewi dengan buas menciumi batang kejantananku. Kemudian, kolorku diturunkan hingga sebatas lutut.

“Mas, kontolnya lumayan gede juga ya” katanya sambil mengelus-elus batangku dengan tangannya “Uhhhh…, memang besar kali ya mbak??” tanyaku bersetara dengan merem melek.

“Nggak terlampau besar sih, namun tepat segini nih…”
Dewi menjawabku samblil mengocok kontolku. “Masss…,. kontolmu aku emut yaa??”

“Iya mbak…”. aku udah gak konsen, Dewi seketika mulai mengulum kepala serta batang burungku perlahan-perlahan. Lembut banget, tangan kananku dengan gemas meremas-remas rambutnya yang pendek, rapi serta hemmmm…,. sungguh-sungguh wangi. serta tangan kiriki meremas toket dibalik pakaian dinasnya…, kenyal banget Dipegang lama kulumannya makin kencang, aku makin menggelinjang serta kelojotan “Ohhhh…, Wii,. Dewiii,. sudahhhh…, sudahhh, aku nggak tahannnnn” aku menceracau sejadi-jadinya.

Baru pertama kali diemut, berimbang cewk manis lagi…. Wahhhh benar saja, kontolku mulai merasa ingin keluarkan“Dewiii,. ohhh gak bendung mbakkk…” senut-senutnya makin cepat serta kesudahannya berasa adanya sebuah menggelegak… crottt,. crottt. Spermaku keluar didalam mulut Dewi.

Tetapi…,. aduhhhh Dewi nggak melepas batang burungku, konsisten dikulum-kulum serta disedot. berasa bukan nikmat yang kini, melainkan jadi geli gak terbendung “telah mbakkk…, geli saya”. bersetara dengan tanganku berusaha melepas kepala Dewi dari burungku. tak berapa lama dia melepas mulutnya dari burungku…, uhhhhhh. seluruh tubuh lemas serasa tak bertulang. Dewi yang melihaku senyum-senyum saja, sementara saya melihat mulutnya yang keluarkan sedikit sperma “Ehhh mbak, telan spermaku ya??” tanyaku.

“Iya, nggak papa kok. bugar tuh, rasanya emang agak asin sihh. Lagian alih alih nyemprot kemana-mana, bisa idap macem-macem tuhh…”. Dewi menjawab bersetara dengan tersenyum genit. Tangannya mulai nakal dengan kembali memegang kontolku yang sudah berkerut. Tampak serta mulai dielus lagi…, aku masih menggelinjang geli…, namun lama-lama mulai berasa hangat serta nikmat lagi. Mulutnya kembali memagut mulutku, kami berkecupan dengan ganas. aku mulai bisa mengimbangi permainannya.



“Mas, sehabis ini giliranku yang diberikan kenikmatan ya?” bersetara dengan napasnya mulai tersengal-sengal
“Ok mbak, akan kupuasin mbak” jawabku sambil diberi arahan sambil berusaha lepaskan celana kerja warna cokelat miliknya. aku plorotkan sampai sebatas lutut. Akibatnya celana dalam warna hitam yang menutupi gundukan. Nggak tabah sekaligus aku plorotin celana dalamnya. Saya jembut tebal menghiasi gundukan daging. Tanganku mulai mengusap serta berusaha menyibak jembutnya, menyusuri sebuah layaknya yang adanya di web-web porno.

Dengan lembut tangan Dewi memberi nasehat tanganku, serta memberi nasihat mulutku kea rah memeknya. cuma pasal celana cuma dilorot sebatas lutut, tersebutkan agak sulit buat hingga ke memeknya. Perlahan lidahku dapat menjangkau memeknya, kujilat dikit-dikit serta berasa agak berair (hihihi…, agak bau peluh ya,. nggak papa). Saya mendengar desahan rintih dewi dan menambah  ritmeku “Masss…, masukan saja…, sudah gak tahan nih”. Dewi bersuara lirih.

“Ok mbak” saya berdiri dan menyiapkan kontoku. namun aku keder, dengan posisi celanaku yang sebatas lutut serta Dewi yang juga berimbang kami berdua keliatannya sama-sama linglung “Mbak…, masukinnya gimana nih??”
“Ehh,. iya ya mas…,. gimana jikalau dari belakang saja? aku agak nungging ya…”

“Ya deh,. terserah mbak. aku masih linglung nih”. seketika Dewi berbalik serta posisi merangkak, kedua pahanya direnggangkan sehingga memeknya sedikit kelihatan membuka “Sini mas, masukkan…, tikam ke yang sini yaa…” tangannya menjangkau serta mengendalikan batangku, ditarik perlahan-perlahan kearah lubang memeknya yang agak berair. Kemudian kepala kontolku digesek-gesek di memeknya, rasanya sungguh nikmat sekali…

Tampak mulai sedikit memaksa batang burungku kelubang memeknya. Saya-perlahan, batangnya mulai ambles kedalam memek. Tanganku mulai meremas-remas bokong Dewi…. (edan, bulat banget nih bokong polwan, kenceng banget lagi. Banyak work out kali ya?). kadang tanganku menyusup kedalam pakaian dinasnya serta meremas-remas toketnya dan memilin putting susunya. Dewi mendesah-ndesah keenakan.

“Gimana masss??? Enakkk?… terus mas maju mundur aja…” “Ya mbak, nikmat. Mbak seksi banget yahh, udah langsing bokongnya montok lagi” pujiku jujur
“Ahhh mas, bisa aja. Burung mas juga enak kok…, kuat banget, meski baru keluar habis-habisan lho tadi…” godanya genit. “gimana mas perasaannya nggoyang polwan??”

“Saya sangat berdebar-debar.." pinggulku kugoyangkan dan rasanya nikmat sekali di dalam memek dewi. bersetara dengan mataku lihat pukul dinding, 22.30 tanganku makin tenar dengan lekuk-lekuk badan Dewi. Pundak Dewi sesudah itu merendah, bokongnya sekarang benar-benar nungging, napasnya mulai memburu tak teratur

“Hmm…, nikmattt kaliii, lanjutkann mass…” tubuhnya menggeliat-geliat dan kadang mengejang. “ohhhh…. Ohhhhh…,. ahhhhhhhh” Akibatnya seluruh tubuh Dewi mengejang beberapa dikala serta sesudah itu mengendur perlahan-perlahan “Tampak dah mau orgasme mass…,. teruskan saja mas sampe keluar spermanya” minta dewi dengan manja. “Ingin ganti gaya ya mas?? Spooning aja ya? Mas pasti tau dehh… yukk”

“Ya mbak” aku perlahan-perlahan rebah bersama Dewi. Posisi spooning kini, aku peluk Dewi dari belakang bersetara dengan sku sodokkan burungku berulang-ulang serta sekuat energi “ahh…, ahhh…, ahhh” Dewi menjerit perlahan, aku terus memompa

“Ahhhh mbakkk…, akuu keluarrrrr…” tubuhku mengejang serta crott…crottt. Spermaku keluar buat kedua kalinya… Pelukanku ke Dewi bagai mencengkeram hingga Dewi sepertinya sulit bernapas “masss…,. puas kalikan” tanyanya dengan lembut di telingaku…, aku hanya mengangguk bersetara dengan tersenyum. aku melirik pukul dinding,. sudah pukul 2315 “Ada apakah sih mas, kok lihat jam??? Nggak menyukai ya?” Dewi merengut

“nggak mbak,. namun udah hamper pukul separuh dua belas, temenku yang aplusan jaga bentar lagi dating” jelasku

“Ohhh… kirain”. senyumnya manja sesudah itu kepalanya menoleh ke wajahku serta mulai memagut mulutku lagi. “ya udah…, kita beres-beres dahulu yuk”

Tampak melepas batangku yang mulai lemas dari memeknya, kuambil tisu buat membendung serta membersihkan cairan disekitar memeknya “Makasih ya mas” bersetara dengan ia memberesi kembali seragam polwannya. Merapikn lagi rambutnya yang pendek…, aku menyukai sekali memandangnya “Mbak menawan banget dehhh”

“ahhh mass…,. makasih juga. Sama-sama, aku juga sungguh-sungguh merasakan ini kok.  bisa lain kali kita ketemuan lagi…, aku percaya kau kok” balasnya masih dengan nada manja. “Ehh…, boleh meminta nomer telepon seluler ya mas…, supaya bisa ketemuan lagi”

“Tentu mbak, mbak bagus banget. Perjakaku diambil mbak lhooo…”. aku sedikit tersipu
“Ohhh…, maaf ya. Habis aku pngen banget sihhhh… semoga kau menyukai serta nggak jera” sehabis rapi, ia menerapkan sepatu serta berkeinginan membayar dunia maya
“ndak usah mbak,. ini upahnya sudah sungguh-sungguh berlebih kok” jawabku
“Ahhh… yaudah. Makasih ya ”. sehabis tukar menggantikan nomer telepon seluler, Dewi membuka pintu serta meluangkan kissbye yang

aku bales dengan lebih mesra Dan dari dikala itu kadang-kadang aku ketemuan dengan Dewi diberbagai tempatBeberapa. pekan sehabis itu Dewi bercerai dengan suaminya. Hubunganku dengan Dewi sampai tahun 2004. Tahun itu dewi udah mempunyai suami baru, seorang perwira polisi. aku ndak berani ketemuan lagi, serta Dewi kayaknya sekarang betul-betul sayang berimbang suaminya. aku ikut berterima kasih saja.




Senin, 06 Mei 2019

Kisah Seks Saya dengan Polwan Cantik Yang Merebut Keperjakaanku




Cerita Sex -  Kisah ini terjadi sekitar tahun 2014, ketika saya masih kuliah mencari pekerjaan sampingan untuk biaya kuliah. dan pada waktu itu saya ditawari untuk bekerja sebagai operator di warnet yang saya pikir cukup bagus untuk biaya kuliah tambahan

Pada saat itu saya menyimpan warung internet Malem sendirian, saya seharusnya sendirian, tapi itu normal untuk lupa menghilang. Yang mengejutkan, adalah warung internet sangat sunyi (walaupun ketika orang jarang memiliki modem sendiri, warung internet tidak pernah sepi, lho). Jadi saya santai sambil melihat-lihat materi kuliah, sambil slonjor-slonjor dan mur kacang.
Sekitar jam 9 motor berhenti di luar. Hah, akhirnya ada juga pengunjung. Pintu terbuka, gadis itu muncul, tubuhnya tinggi, wajahnya lucu, rambutnya dipotong pendek dan dia mengenakan jaket dan celana panjang.

Apakah Anda ingin bersih, kawan? Dia bertanya.
Oh, tolong, sis, ini kosong. Pilihan apa pun. Aku menjawab dengan ramah sambil menatap wajah imut itu.
Terima kasih, kawan, aku sudah di sudut jalan? dia kemudian menuju ke ruang sudut, terus melepas sepatu dan duduk (semua stan warnetnya). Saya melihat sepatu sepatu kulit, seperti bukan gadis biasa. Setelah duduk, ia membuka jaketnya, ternyata di balik jaketnya ia mengenakan seragam polisi, pangkat Segitiga Kuning adalah satu biji, oh pangkat Sersan Dua. Ohh ... polisi yang manis, pikirku.

Bro, apa nama pengguna dan kata sandi ?? dia bertanya, menatapku.





Ehh ... ohh, gratis, bro, aku hanya bilang, itu agak gagap karena aku terpana dan kaget ...
Oke terima kasih

Beberapa menit saat browsing saya mencuri melihat polisi wanita sebelumnya. Setelah sekian lama, ditemukan kembali beberapa kali menatap pemandangan. Akhirnya saya tidak berani mengingatnya. Saya mengalihkan konsentrasi ke monitor komputer saya. Karena saya bosan dengan materi kuliah, saya mulai menjelajahi situs-situs panas.
Setengah jam berlalu, tiba-tiba saya terkejut ketika wanita itu ada di samping saya.
Mas, ajari aku membuat email, katanya

Uhh, ehhhh, ehhh ya saya panik, karena monitor saya penuh dengan pasangan adegan panas. Ayolah, Kak, aku mengajariku untuk berdiri dan membawa polisi wanita itu ke kamarnya (supaya aku tidak mati & terlalu lama duduk di depan komputerku).

Saya mulai belajar cara membuat email dari dasar-dasar. Sambil membaca lirik saya membaca namanya, sebut saja Dewi. Dewi tampak antusias mendengar penjelasan saya, kemudian mulai mencoba berlatih langkah demi langkah. Saya masih gugup, kenapa saya tidak, dia seorang polisi wanita ?? haiiiii. Tapi sepertinya dia mencoba melelehkan suasananya.
Mas, sudah lama bekerja? Dia bertanya
Wow, kenapa begitu, kakak. Ini juga untuk menambah biaya kuliah sambil mencoba tersenyum, tetapi masih kaku. Sial.
Wow, betapa kerennya itu, bersih? Ehh, jangan panggil aku, kawan. Di sini, nama saya sudah ditampilkan dengan jelas. Panggil saja Dewi? Jika Anda menyebutkannya, kawan?

Saya Andri Mbak .. Wow, saya tidak berani menelepon, mbak. Tidak sopan menjawab saya saat menggerakkan mouse.
Tidak apa-apa, jadi saya kenal. Lagipula, kita seusia dengan kita. Umur saya dua puluh tiga tahun, kenapa penjelasannya blak-blakan, jarang gadis yang terus terang

Ya, sis, eh Dewi, jika saya baru berusia dua puluh dua tahun, Kak, orang tua, kakak, ngomong-ngomong, saya masih memakai dines. Selesaikan tugasnya ya? Saya bertanya sambil memiliki kesempatan untuk melihat wajahnya yang manis (buehhh, sangat manis)
ya, saya ambil bagian dalam keamanan di balai kota, ada demo siswa. Jadi polisi turun semua.

Saya melihat. Kenapa Ms. Dewi kenapa kamu tidak pulang saja? Saya bertanya lagi
Tidak, saya melihat warnet jadi saya ingin mampir. Semua belajar
Emang mbak Dewi di mana rumahnya?
Di perumahan ****, itu agak jauh. jawabnya sambil tersenyum manis.
Kenapa, kamu sudah menikah, kakak? (dia bertanya, dia tidak mulai khawatir karena senyum itu) Sudah, pernikahan sudah berumur satu tahun. Suamiku sopan, bekerja di ekspedisi. Tapi ini rumit lagi, kan?
Um, maaf, pertanyaan Ms. Sassy.
Tidak, bagaimana jika Anda memilikinya? Lhahh, jawabnya
Tidak, bro, pacar tidak ada. Kemudian
Ohh, meskipun penampilan mendukungnya, dia menjawab dengan tersenyum lagi. Aku mati kedinginan segera. Terutama tangannya sambil menyenggol bahuku.

Ahh, kenapa kamu bisa. Ehh ... suamiku terlalu huh. Nyonya, yang secantik ini, dalam mengkhianati, sedikit bingung dengan jawaban saya
Hahaha, seberapa cantik? Itu normal, sementara tangannya disentuh di pundakku lagi. Tapi hati saya sangat sedih, jadi terkadang ketika saya pulang kerja saya tidak langsung pulang. Tapi kemana kamu pergi dulu?
Anda tahu, cantik, sungguh, sis, manis dan tinggi dan ramping, meskipun dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, dia terlihat sedikit memerah. Senyumnya mengembang.

Ehmm ... terima kasih. Eh ... menurut Anda di mana situs tersebut? dia bertanya agak malu-malu
Ehhh, yang mana ya? Saya menjawab berpura-pura bodoh
Yang tadi, kamu tahu, di komputer, mas.

Ohh, ehh, bukankah itu tidak apa-apa, Sis? Di sini saya menemukan alamatnya, saya mulai mengetik alamatnya, dan gambar-gambar orang yang bercinta muncul lagi. Saya melihat matanya menatap monitor dengan penuh semangat. Ini cukup klik pada tautannya. Berapa lama kemudian? Ketika saya pergi, saya ingin kembali ke tempat operator.
Ehh, dimana mas? Tunggu aku, siapa tahu nanti bahwa ada lebih banyak masalah. Saat dia meraih tanganku dan menarikku untuk duduk lagi. Di sini ... dan aku mengangguk pelan.
Kami berdua mulai menjelajahi situs xxx atau Cerita Panas, dan saya merasa seperti duduk bersama. Mata Dewi tidak luput dari monitor, napasnya terdengar agak memburu (aku seperti itu, hahaha). Rasanya seperti tubuh saya menyentuhnya, hangat. Tangannya diletakkan di atas kepalaku, membuat konty-ku meluap (saat itu aku masih benar-benar perawan), menggosok pahaku. Aku dengan berani memeluk pinggangnya yang ramping dan aku menempelkan tubuhnya ke tubuhku.

Bro, saya sudah seperti ini di komputer atau tidak? dia bertanya dengan lembut, agak berbisik. Wajahnya sangat rapat dengan wajahku, membuatku melihat ke depan.
Belum, bro, pacar tidak punya, ciuman, aku tidak pernah menjawab dengan jujur.
Ehmmm, kalau begitu, maka berdiri lalu berjalan ke pintu depan. Pintu dikunci olehnya, maka pos yang ditutup terbalik. Kemudian dia kembali ke tempat saya duduk, lagi-lagi memeluk saya yang benar-benar panas dan dingin.

Mau seperti itu ?? setengah membisikkan dewi di dekat telingaku, seluruh tubuhku meringis. Bibirnya menempel di telingaku. Anjrriiiiittttt, saya tidak bisa mengatakan apa-apa. Tanpa menunggu jawabanku, tangannya menarik tangan kiriku, tertempel di dadanya. Tidak terlalu besar, tangan saya dibimbing untuk melakukan gerakan membelai dan meremas. Setelah saya bisa bergerak sendiri, tangan saya dilepaskan. Lalu tangan kanan Dewi menelusuri bajuku, meremas dan memutar putingku. Tubuhku seperti semua kejang.

ML Dengan Polwan Cantik Ini Buatku Makin Ketagihan
Mas, apakah kamu menyukai Dewi? Suatu malam aku milikmu, suaranya mendesah di telingaku. Mulutnya menangkap bibirku, lidahnya dengan liar memasuki mulutku. Sementara saya menghela nafas dengan mudah (pengalaman pertama) tangan saya semakin aktif meremas keranjang mereka. Tangan Dewi kemudian membuka beberapa kancing baju resminya, ehhh ternyata masih ada kemeja di dalamnya. Kaos dalam dia mendorongnya, lalu dia juga mendorong BH ke atas. Tanganku ditarik lagi untuk memerasnya, aku mulai bersemangat. Kisah Pemerkosaan

Tangan Dewi menelusuri celanaku, penisku sudah bengkak, ahhhhhh. Judulnya seperti meledak. Sementara Dewi terus menggigit mulut dan lidahku. Kebutuhan baju saya terangkat di atas, bibir Dewi kemudian bergerak untuk menjelajahi dadaku. Lidahnya menjilat putingku. Huuuuhhhhhh, sementara sesekali gigitan kecil sering membuatku kaget. Rasanya seluruh dada saya tersapu oleh lidahnya ... betapa nyamannya itu, lidahnya mulai jatuh menjilati pusar saya. Kakak, aku hanya berjalan kesana kemari.

Perlahan tangannya membuka celanaku terangkat, turun ke lutut. Di dalam cd, kontol ini mulai terasa berputar-putar, sementara Dewi dengan kejam mencium batang kejantanan saya. Tak lama kemudian, cd saya jatuh ke lutut juga.
Kakak, burungnya lumayan besar hmmm emmm ?? sambil mengelus dan meremas-remas koperku.
Uhhhh, seberapa besar itu ??? Saya bertanya sambil menyapu melek huruf
Tidak terlalu besar, tapi seperti ini

Dewi menjawab sementara tangannya mulai mengguncang belalangku. Massss. Saya tidak tahu burung itu ??
Ya, kakak, saya belum berkonsentrasi, Dewi kemudian mulai menyedot kepalanya dan batang perlahan. Sangat lembut, tangan kanan saya dengan panik meremas rambutnya yang pendek, rapi dan hemmmm, sangat harum. Dan tangan Kiriki meremas keranjang di balik pakaian resminya, sangat kenyal.

Semakin lama kuluman semakin cepat, semakin aku mengayun dan meremas.
Ohhhh, Wii ... Dewiii .. sudahhhhhhhhh, saya tidak tahu ?? Saya banyak bercanda. Ini pertama kalinya aku mengambilnya, seperti gadis manis lagi. Wow, benar, pangkal koperku mulai terasa berkedut.

Dewiii ... ohhh itu tidak bisa menahannya lebih erat dan akhirnya merasakan sesuatu yang menggelegak ... crottt. Sperma saya keluar di mulut dewi. Tapi ... Dewi tidak melepaskan batangku, masih bengkak dan tersedot. Rasanya itu bukan hal yang baik sekarang, tapi itu menghibur, tidak macet.
sudah, menghiburku ... sementara tanganku mencoba melepaskan kepala dewi dari dadaku. Tidak lama kemudian dia melepaskan mulutnya dari dadaku, uhhhhhh. Seluruh tubuh terasa lemas tanpa tulang. Dewi tersenyum padaku, kulihat mulutnya terasa sedikit.
Ehhh mbak, spermaku, bro, huh ?? saya bertanya

Ya, tidak apa-apa. Sehat, rasanya agak asin. Lagi pula, semprotkan di mana-mana, bisakah itu mengenai sesuatu? Dewi menjawab dengan senyum nakal. Tangannya mulai gerilya lagi mengejar batang saya yang sudah mulai menyusut. Diadakan dan mulai dibelai lagi ??, saya masih menggeliat geli ?? Mulutnya kembali ke mulutku, kami berciuman dengan ganas. Saya mulai bisa mengikuti permainan.

Ya, mbak, apakah saya puas, bro? tangan saya dibimbing untuk melepas celana dinas cokelatnya. Saya menekannya ke lutut. Celana hitam yang menutupi benjolan. Saya tidak sabar saya sedang ploroting pakaian dalamnya. Rambut tebal yang terlihat menghiasi gundukan daging. Tanganku mulai menggosok dan mencoba membuka rambutnya, mencari sesuatu seperti itu di situs-situs porno.

Tangannya dengan lembut menuntun tanganku, dan mengarahkan mulutku ke arah vaginanya. Hanya karena celana itu hanya diregangkan sampai ke lutut, agak sulit untuk sampai ke vagina. Akhirnya lidahku bisa menjangkau vaginanya, kujilat sedikit dan terasa agak basah (hihihi, baunya seperti keringat, tidak peduli apa). Dewi mulai menghela nafas dengan lembut, aku menambahkan iramanya.

Massa, ayo masuk saja, tidak bisa berdiri sekarang ... Dewi bersuara pelan.
Ya sis aku berdiri lagi dan bersiap-siap dengan dadaku. Tapi aku bingung, dengan posisi celanaku yang sebatas lutut dan Dewi yang sama dengan kami berdua yang tampak sama-sama bingung.
Bu, bagaimana dengan entri?
Ehh ... ya, bro, bagaimana dari belakang? Saya sedikit gila
Ya ... terserah Ibu. Saya masih bingung ... Lalu Dewi berbalik dan merangkak, pahanya membentang sehingga vaginanya terlihat sedikit terbuka.

Ayo, kawan, masukkan, tusuk di sini, dan tangannya meraih dan memegang belalai saya, ditarik perlahan ke arah vagina yang agak basah. Sesaat kemudian, kepala saya yang bengkak tersapu ke vaginanya, sangat lezat
Saya mulai mendorong batang sedikit, vagina saya terputus. Perlahan, batangnya mulai meresap ke dalam vagina. Tanganku mulai meremas-remas pantat Dewi. (Gila, benar-benar bulat, keledai polisi, sangat keras lagi. Banyak olahraga, ya?). Terkadang tangan saya menyusup ke pakaiannya yang resmi dan meremas-remas keranjangnya dan memilin susu. Dewi menghela nafas dengan mudah.
Bagaimana dengan massa ??? Enakkk? terus bolak-balik.

Ya, Kak, enak sekali. Bu benar-benar panas, itu sudah pantat montok, dan aku jujur
Ahh, bro, itu mungkin. Kenapa maskotnya bagus juga, benar-benar kuat, meski baru keluar semua tadi? itu genit. bagaimana perasaan Anda tentang goyang seorang polisi ??

Ehhh, sedikit bersemangat juga sementara pinggulku mendorong kembali batang di vaginanya. Sementara mataku melihat jam dinding, 10:30. tanganku mulai terbiasa dengan lekuk tubuh Dewi. Pundak Dewi kemudian diturunkan, sekarang pantatnya benar-benar mati rasa, napasnya mulai memburu tidak teratur.
Ahhhh massa, enakkkkk, teruss tubuhnya menggeliat, sesekali dia melihat pantatnya yang bundar bergerak-gerak. ohhhh Ohhhhh ... ahhhhhhhh seluruh tubuh Dewi berkedut untuk sementara waktu dan kemudian santai perlahan. Cerita Sex Dewasa Bergairah

Saya telah mengalami orgasme masal, mari kita lanjutkan sampai matanya keluar sedih tetapi tatapan manja pada saya. Ingin mengubah gayanya? Hanya menyendok ya? Mas, pasti lho
Ya, kakak saya perlahan pingsan dengan Dewi. Posisi itu sekarang menyendok, aku memeluk Dewi dari belakang sementara aku menusuk pistolku berulang kali dan dengan sekuat tenaga.
Ahh, ahhh, Dewi menjerit pelan, aku terus memompa
Ahhhh, mungkin, aku keluar dari tubuhku yang bergerak-gerak dan selangkangan. Sperma saya keluar untuk kedua kalinya. Lenganku ke Dewi tampak mencengkeram sampai Dewi tampak kesulitan bernapas.
Massa, puas, katanya lembut dan manja, aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Saya melirik jam dinding ... jam 23.15.

Ada apa, bro, bagaimana Anda melihat jam ??? Tidak suka Dewi mengerutkan kening
mbak ..., tapi sudah jam setengah dua belas, teman saya yang terus menjaga segera datang, jelas saya
Ohhh, mungkin ... senyumnya manja, lalu kepalanya menoleh ke wajahku dan mulai menggigit mulutku lagi. ya, kita harus bersihkan dulu. Saya melepas koper saya yang mulai melemah dari vagina, saya mengambil tisu untuk menahan dan membersihkan cairan di sekitar vagina.

Terima kasih, kawan, ketika ia merapikan seragam polisi wanita itu. Merapikan rambut pendeknya lagi, aku suka melihatnya.
Bu, ini sangat indah
massa ahhh. terimakasih juga. Sama-sama, saya juga sangat menikmati ini. Jika memungkinkan lain kali kita bertemu lagi, saya yakin Anda masih merespons dengan nada manja. Ehh, bisakah saya meminta nomor ponsel, kawan, supaya saya bisa bertemu lagi

Tentu saja mbak, Ms. well. Pertarungan saya diambil oleh Ms. Lhoo ... Saya sedikit tersipu
Ohhh, maaf. Setelah saya akhirnya tiba, saya harap Anda menyukainya dan tidak menyerah setelah rapi, ia memakai sepatu dan ingin membayar untuk internet. tidak perlu ketinggalan, pembayaran ini sangat mengapa saya menjawab
Ahhh sudah. Terima kasih ... Setelah bertukar nomor ponsel, Dewi membuka pintu dan mengambil kissbye, yang aku lebih intim.

Dan sejak itu saya sesekali bertemu dengan Dewi di berbagai tempat. Beberapa minggu kemudian Dewi menceraikan suaminya. Hubungan saya dengan Dewi hingga 2015. Pada tahun itu dewi memiliki suami baru, seorang perwira polisi. Saya tidak berani bertemu lagi, dan Dewi sepertinya sangat mencintai suaminya sekarang. Saya hanya bersyukur.