Agen Poker Terpercaya
close

www.3MPOKER1.com Agen Judi Online Terbesar, Terbaik dan Terpercaya. Menyediakan 7 Games 1 ID Menarik Seperti : CEME-KELILING , CAPSA , DOMINO , CEME , OMAHA , SUPER-10 Dan POKER , Bonus Bulanan , Bonus Refferal 10% , Bonus New Member 10% , Bonus harian 5.000 , Bonus Rollingan 0,3 - 0,5% , Support Bank : BCA , BNI , BRI ,CIMB , DANAMON Dan MANDIRI Dan Deposit Via Pulsa XL Dan Telkomsel Dan Ovo Juga Ada .

About

Tampilkan postingan dengan label guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label guru. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Juli 2019

Cerita Sex Rekan Bisnis Memilik Anak Gadis Sexy



Cerita Sex -  Aku merupakan seorang mahasiswa  di salah satu perguruan tinggi di Bandung, dan sekarang sudah semester akhir. Untuk saat ini aku tidak mendapatkan mata kuliah lagi dan hanya mengerjakan skripsi saja. Sebab itu aku jadi sering main ke tempat abangku di Jakarta.

Waktu aku ke Jakarta. Ketika aku sampai mampir ke rumah kakakku, aku melihat ada tamu, ia adalah teman kuliah kakakku waktu dulu. Aku dikenalkan kakakku kepadanya. Rupanya ia sangat ramah dan sopan kepadaku. Usianya 40 tahun dan sebut saja namanya Gading. Ia pun mengundangku untuk main ke rumahnya dan dikenalkan pada anak-istrinya. Istrinya, Merry, 7 tahun lebih muda darinya, dan putrinya, Sherly, duduk di kelas 2 SMP.

Cerita Sex Rekan Bisnis Memilik Anak Gadis Sexy | Cerita Dewasa

Kalau aku ke Jakarta aku sering main ke rumahnya. Dan pada hari Senin, aku ditugaskan oleh Gading untuk menjaga putri dan rumahnya karena ia akan pergi ke Malang, ke rumah sakit untuk menjenguk saudara istrinya. Menurutnya sakit demam berdarah dan dirawat selama 3 hari. oleh karena itu ia minta cuti di kantornya selama 1 minggu. Ia berangkat sama istrinya, sedangkan anaknya tidak ikut karena sekolah.

Setelah 3 hari di rumahnya, suatu kali aku pulang dari rumah kakakku, karena aku tidak ada kesibukan apapun dan aku pun menuju rumah Gading. Aku pun bersantai dan kemudian menyalakan VCD. Selesai satu film. Saat melihat rak, di bagian bawahnya kulihat beberapa VCD porno. Karena memang sendirian, aku pun menontonnya. Sebelum habis satu film, tiba-tiba terdengar pintu depan dibuka. Aku pun tergopoh-gopoh mematikan televisi dan menaruh pembungkus VCD di bawah karpet.

“Hallo, Oom Rendy..!” Sherly yang baru masuk tersenyum.
“Eh, tolong dong bayarin Bajaj.. uang Sherly sepuluh-ribuan, abangnya nggak ada kembalinya.”
Aku tersenyum mengangguk dan keluar membayarkan Bajaj yang cuma dua ribu rupiah..

Saat aku masuk kembali.., pucatlah wajahku! Sherly duduk di karpet di depan televisi, dan menyalakan kembali video porno yang sedang setengah jalan. Mia memandang kepadaku dan tertawa geli.
“Ih! Oom Rendy! Begitu, tho, caranya..? Sherly sering diceritain temen-temen di sekolah, tapi belon pernah liat.”
Gugup aku menjawab, “Sherly.. kamu nggak boleh nonton itu! Kamu belum cukup umur! Ayo, matiin.”
“Aahh, Oom Rendy. Jangan gitu, dong! Tu, liat.. cuma begitu aja! Gambar yang dibawa temen Sherly  di sekolah lebih serem.”



Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, dan khawatir kalau kularang Sherly justru akan lapor pada orangtuanya, aku pun ke dapur membuat minum dan membiarkan Sherly terus menonton. Dari dapur aku duduk-duduk di beranda belakang membaca majalah.

Sekitar jam 7 malam, aku keluar dan membeli makanan. Sekembalinya, di dalam rumah kulihat Sherly sedang tengkurap di sofa mengerjakan PR, dan.. astaga! Ia mengenakan daster yang pendek dan tipis. Tubuh mudanya yang sudah mulai matang terbayang jelas. Paha dan betisnya terlihat putih mulus, dan pantatnya membulat indah. Aku menelan ludah dan terus masuk menyiapkan makanan.

Setelah makanan siap, aku memanggil Sherly . Dan.., sekali lagi astaga.. jelas ia tidak memakai BH, karena puting susunya yang menjulang membayang di dasternya. Aku semakin gelisah karena penisku yang tadi sudah mulai “bergerak”, sekarang benar-benar menegak dan mengganjal di celanaku.

Selesai makan, saat mencuci piring berdua di dapur, kami berdiri bersampingan, dan dari celah di dasternya, buah dadanya yang indah mengintip. Saat ia membungkuk, puting susunya yang merah muda kelihatan dari celah itu. Aku semakin gelisah. Selesai mencuci piring, kami berdua duduk di sofa di ruang keluarga.

“Oom, ayo tebak. Hitam, kecil, keringetan, apaan..!”
“Ah, gampang! Semut lagi push-up! Khan ada di tutup botol Fanta! Gantian.. putih-biru-putih, kecil, keringetan, apa..?”
Mia mengernyit dan memberi beberapa tebakan yang semua kusalahkan.
“Yang bener.. Sherly pakai seragam sekolah, kepanasan di Bajaj..!”
“Aahh.. Oom Rendy ngeledek..!”
Mia meloncat dari sofa dan berusaha mencubiti lenganku. Aku menghindar dan menangkis, tapi ia terus menyerang sambil tertawa, dan.. tersandung!

Ia jatuh ke dalam pelukanku, membelakangiku. Lenganku merangkul dadanya, dan ia duduk tepat di atas batang kelelakianku! Kami terengah-engah dalam posisi itu. Bau bedak bayi dari kulitnya dan bau shampo rambutnya membuatku makin terangsang. Dan aku pun mulai menciumi lehernya. Sherly mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya.

Nafas Sherly makin terengah, dan tanganku pun masuk ke antara dua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang.
“Uuuhh.. mmhh..” Sherly menggelinjang.
Kesadaranku yang tinggal sedikit seolah memperingatkan bahwa yang sedang kucumbu adalah seorang gadis SMP, tapi gariahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun menarik lepas dasternya dari atas kepalanya.
Aahh..! Sherly menelentang di sofa dengan tubuh hampir polos!

Aku segera mengulum puting susunya yang merah muda, berganti-ganti kiri dan kanan hingga dadanya basah mengkilap oleh ludahku. Tangan Sherly yang mengelus belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan.. nampaklah bukit kemaluannya yang baru ditumbuhi rambut jarang. Bulu yang sedikit itu sudah nampak mengkilap oleh cairan kemaluan Sherly. Aku pun segera membenamkan kepalaku ke tengah kedua pahanya.

“Ehh.. mmaahh..,” tangan Sherly meremas sofa dan pinggulnya menggeletar ketika bibir kemaluannya kucium.
Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan mengemut perlahan.
“Ooohh.. aduuhh..,” Sherly mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat.
Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku akan membelai kelentitnya dan tubuh Sherly akan terlonjak dan nafas Sherly seakan tersedak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya sedikit membesar dan mengeras.

Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Sherly tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Sherly.
“Mmmhh.. mmhh.. oohhmm..,” ketika Sherly membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku.
Mungkin film tadi masih diingatnya, jadi ia pun mulai menyedot. Tanganku berganti-ganti meremas dadanya dan membelai kemaluannya.

Segera saja kemaluanku basah dan mengkilap. Tak tahan lagi, aku pun naik ke atas tubuh Sherly  dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Sherly dan aroma kemaluan Sherly di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit.



Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Sherly, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Sherly menekan pantatku dari belakang.
“Ohhmm, mam.. msuk.. hh.. msukin.. Omm.. hh.. ehekmm..”
Perlahan kemaluanku mulai menempel di bibir liang kemaluannya, dan Sherly semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku kutekan, tetapi gagal saja karena tertahan sesuatu yang kenyal. Aku pun berpikir, apakah lubang sekecil ini akan dapat menampung kemaluanku yang besar ini. Terus terang saja, ukuran kemaluanku adalah panjang 15 cm, lebarnya 4,5 cm sedangkan Sherly  masih SMP dan ukuran lubang kemaluannya terlalu kecil.

Tetapi dengan dorongan nafsu yang besar, aku pun berusaha. Akhirnya usahaku pun berhasil. Dengan satu sentakan, tembuslah halangan itu. Sherly memekik kecil, dahinya mengernyit menahan sakit. Kuku-kuku tangannya mencengkeram kulit punggungku. Aku menekan lagi, dan terasa ujung kemaluanku membentur dasar padahal baru 3/4 kemaluanku yang masuk. Lalu aku diam tidak bergerak, membiarkan otot-otot kemaluan Sherly terbiasa dengan benda yang ada di dalamnya.

Sebentar kemudian kernyit di dahi Sherly menghilang, dan aku pun mulai menarik dan menekankan pinggulku. Sherly mengernyit lagi, tapi lama kelamaan mulutnya menceracau.
“Aduhh.. sshh.. iya.. terusshh.. mmhh.. aduhh.. enak.. Oomm..”
Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Sherly, lalu membalikkan kedua tubuh kami hingga Sherly sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak 3/4 kemaluanku menancap di kemaluannya. Tanpa perlu diajarkan, Sherly  segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku berganti-ganti meremas dan menggosok dada, kelentit dan pinggulnya, dan kami pun berlomba mencapai puncak.
Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Sherly makin menggila dan ia pun membungkukkan tubuhnya dan bibir kami berlumatan. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya menyentak berhenti. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku.

Setelah tubuh Sherly melemas, aku mendorong ia telentang. Dan sambil menindihnya, aku mengejar puncakku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Sherly tentu merasakan siraman air maniku di liangnya, dan ia pun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang ke dua.

Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.
“Aduh, Oom.. Sherly lemes. Tapi enak banget.”
Aku hanya tersenyum sambil membelai rambutnya yang halus. Satu tanganku lagi ada di pinggulnya dan meremas-remas. Kupikir tubuhku yang lelah sudah terpuaskan, tapi segera kurasakan kemaluanku yang telah melemas bangkit kembali dijepit liang vagina Sherly yang masih amat kencang.


Aku segera membawanya ke kamar mandi, membersihkan tubuh kami berdua dan.. kembali ke kamar melanjutkan babak berikutnya. Sepanjang malam aku mencapai tiga kali lagi orgasme, dan Sherly.. entah berapa kali. Begitupun di saat bangun pagi, sekali lagi kami bergumul penuh kenikmatan sebelum akhirnya Sherly kupaksa memakai seragam, sarapan dan berangkat ke sekolah.

Kembali ke rumah Boneng, aku masuk ke kamar tidur tamu dan segera pulas kelelahan. Di tengah tidurku aku bermimpi seolah Sherly pulang sekolah, masuk ke kamar dan membuka bajunya, lalu menarik lepas celanaku dan mengulum kemaluanku. Tapi segera saja aku sadar bahwa itu bukan mimpi, dan aku memandangi rambutnya yang tergerai yang bergerak-gerak mengikuti kepalanya yang naik-turun. Aku melihat keluar kamar dan kelihatan VCD menyala, dengan film yang kemarin. Ah! Merasakan caranya memberiku “blowjob”, aku tahu bahwa ia baru saja belajar dari VCD.


Selasa, 02 Juli 2019

Sex Dengan Mantan Murid Kuentot



Cerita Sex - Kisah ini dimulai dengan keberanian manta muridku, Saher. Sepertinya sejak sekolah dasar ia sering mengintip dan memperhatikan tubuhku yang cantik. Sebenarnya kisah hari ini tidak layak diceritakan. Tetapi, apa yang ingin kita katakan adalah bahwa kita telah melakukannya, dan kesenangan yang ingin kita bagi di sini."Aku hampir keluar!" Saher bergumam. Gerakannya segera cepat dan kuat. Saya tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, jadi saya lepaskan, menikmati gemetar keras batang kemaluan Saher. Tanganku mencengkeram seprai dengan kuat.

"Kalau begitu, sayang ..., sungguh ...!" Aku menghela nafas.
"Ooohhh, sangat lezat ..., aku memakainya ..., senang 'bercinta' dengan Ibu!" Saher
"Ibu, juga, Ibu juga, pus jenius Ibu ...!" Saya membalas.
"Aku hampir keluar, Buu ..., vagina ibuku enak, bangeet ..."

 "Mom juga ingin keluar lagi, tunggu dulu! Teruss ... well, aku juga ingin keluar!"

Nama saya Diana, tinggi 160 sentimeter, berat 56 kilogram, lingkar pinggang 65 sentimeter. Secara keseluruhan, sosok saya ketat, garis tubuh saya muncul saat mengenakan pakaian ketat, terutama senam. Saya adalah ibu dari dua anak berusia 44 tahun dan bekerja sebagai guru di sebuah sekolah menengah di kota S.

Orang mengatakan tahi lalat di daguku seperti Berliana Febriyanti, dan bentuk tubuhku mirip dengan minat pada Atmanegara yang tetap cepat pada usia yang semakin menua. Mungkin mereka ada benarnya, tetapi saya memiliki payudara yang lebih besar yang terlihat lebih menarik daripada artis kedua. Saya mendapat semua hadiah itu dengan olahraga teratur.

Sekitar 6 tahun yang lalu ketika saya berusia 38 tahun, salah satu teman saya meninggalkan putranya yang ingin belajar di tempat saya, karena dia adalah teman baik saya dan suami saya tidak keberatan, akhirnya saya setuju. Nama pemuda itu adalah Saher, kulitnya kuning lurus dengan tinggi 173 cm. Tubuhnya kurus dan berotot karena Saher adalah atlet karate di tempatnya. Oh ya, Saher adalah murid saya ketika saya masih seorang guru sekolah dasar.

Saher sangat sopan dan sadar diri. Dia banyak membantu pekerjaan rumah dan sering menemani atau mengantar kedua anak saya jika mereka ingin bepergian. Dalam sebulan dia telah bersatu dengan keluarga saya, bahkan suami saya sering mengundangnya bermain tenis bersama. Saya juga menjadi terbiasa dengan kehadirannya, pada awalnya saya sangat menjaga penampilan saya ketika berada di depannya. Saya tidak malu lagi mengenakan T-shirt ketat dengan dada agak rendah, Saher juga menunjukkan sikap yang masuk akal jika saya mengenakan pakaian yang agak menonjolkan keindahan garis tubuh saya.

Sekitar 3 bulan setelah kedatangannya, suami saya menerima tugas sekolah S-2 di luar negeri selama dua tahun. Saya sangat berat melepaskannya, karena saya bingung bagaimana menyalurkan kebutuhan seks saya yang masih menyala. Meskipun saya tidak muda lagi, saya rutin melakukannya dengan suami saya, setidaknya 5 kali seminggu. Mungkin karena olahraga itulah saya selalu berlari, sehingga keinginan tubuh saya masih seperti anak muda. Dan sekarang dengan lenyapnya otomatis aku harus menahan diri.

Awalnya itu normal, tetapi setelah 2 bulan kesepian itu sangat menyerangku. Itu membuat saya marah dan menjadi malas. Seperti Minggu pagi itu, meskipun jam sudah menunjukkan angka 9. Karena kemarin dua anak saya diminta untuk bermalam di rumah nenek mereka, jadi hari ini saya ingin tidur sepuasnya. Setelah makan, saya kemudian berbaring di sofa di depan TV. Segera suara pintu terbuka dari kamar Saher.

Saya mendengar suara langkahnya mendekati saya.

"Nyonya Asmi ...?" Suaranya berbisik, aku hanya diam saja. Aku menutup mataku lebih erat. Setelah beberapa saat hening, tiba-tiba aku tersedak ketika merasakan sesuatu di pahaku. Aku mengintip dari sudut mataku, ternyata Saher berdiri di sebelah tempat tidurku, dan matanya tertuju pada tubuhku, tangannya memegangi bagian bawah bajuku, aku lupa bahwa aku mengenakan baju tidur tipis, apa lain sedang tidur di punggungku. Jantungku berdegup kencang, aku terus berpura-pura tertidur.

"Nyonya Asmi ...?" Suara Saher keras, saya pikir dia ingin memastikan apakah tidur saya benar-benar baik atau tidak.



Saya memutuskan untuk pura-pura tidur. Saya merasa baju tidur saya mengungkapkan semua kepada pelaut.

Lalu aku merasakan Saher mengelus bibirku, jantungku seperti melompat, aku berusaha tetap tenang agar pemuda itu tidak curiga. Saya merasakan lagi bahwa tangan sedang membelai ketiak saya, karena tangan saya memasuki bantal secara otomatis ketiak saya terlihat. Saya melihat lagi, wajah pemuda itu sangat dekat dengan wajah saya, tetapi saya yakin dia tidak tahu bahwa saya berpura-pura menjadi selembut mungkin.

Lalu aku merasakan tangannya menelusuri leherku, rambut di leherku meregang geli, aku mencoba bertahan, aku ingin tahu apa yang ingin dia lakukan dengan tubuhku. Segera aku merasakan tangannya menyentuh payudaraku yang masih tertutup bra hitam, awalnya dia hanya membelai, aku tetap diam sambil menikmati kesenangannya, lalu aku merasakan payudaraku mulai diperas, aku merasa ada sesuatu yang bergolak di tubuhku, Saya telah lama merindukan sentuhan pria dan kekasaran seorang pria. Saya memutuskan untuk tetap diam sampai waktu yang tepat tiba.

Sekarang tangan Saher sedang mencoba membuka kancing BH saya dari depan, tak lama kemudian saya merasakan tangan dingin pemuda itu menekan dan memutar puting saya. Aku ingin mengeluh, tetapi kemudian amalah membuatnya takut, jadi aku merasakan himpitan dalam diam. Aku merasakan tangannya gemetar saat dia meremas putingku, terselip perlahan, kulihat Saher mendekatkan wajahnya ke payudaraku. Kemudian dia menjilat puting susu saya, tubuh saya ingin menggeliat dan merasakan kenikmatan mengisapnya, saya terus bertahan. Ketika puting merah gelap saya berkilauan oleh air liur mereka, mulut mereka terus menghisap puting saya dengan gigitan kecil. Perasaan saya campur aduk, enak, sangat enak.




Tangan kanan Saher mulai menelusuri selangkanganku, lalu aku merasakan jarinya menyentuh vaginaku yang masih tertutup CD, aku tidak tahu apakah vaginaku basah atau tidak. Yang jelas jari-jari Saher menempel pada lubang vaginaku dari luar CD, lalu aku merasakan tangannya menyelinap ke dalam CD-ku. Jantungku berdetak sangat kencang, aku merasakan kenikmatan mengalir di tubuhku. Jari-jari Saher mencoba memasuki lubang vaginaku, lalu aku merasakan jari-jarinya jatuh ke dalam, wow itu sangat lezat. Saya harus mengakhiri Saherwarak saya, saya tidak tahan lagi, saya membuka mata sambil menyentak tubuh saya.

"Saher !! Apa yang kamu lakukan?"

Aku berusaha bangkit duduk, tetapi tangan Saher menekan bahuku dengan kuat. Tiba-tiba Saher mencium mulutku secepat kilat, aku mencoba memberontak dengan mengerahkan semua kekuatanku. Tetapi Saher menekankan kuat-kuat pada bahuku, bahkan sekarang pemuda itu menekan tubuhku, aku kesulitan bernapas di atas tubuh berototnya yang besar dan berotot. Aku merasakan mulutnya hancur lagi, lidahnya masuk ke mulutku, tapi aku pura-pura menolak. 

"Bu ... aku minta maaf. Aku sudah lama ingin merasakan ini, maafkan aku, Bu ...

"Kamu bisa bersama teman-teman mudamu. Aku sudah tua," kataku lembut.

"Tapi aku sudah tergila-gila pada Ny. Asmi. Ketika aku masih di sekolah dasar aku sering mengintip bra yang kamu gunakan ... Aku akan memuaskanmu dengan isi hatimu," Saher menjawab.

"Ah kamu ... Ya terserah kamu sendiri"

Aku pura-pura menarik napas panjang, meskipun tubuhku tidak tahan disentuh olehnya.

Kemudian Saher meremukkan bibirku dan perlahan aku menunggu permainan lidahnya. Tangannya meremas pantatku. Untuk membuatnya semakin terbakar, saya meminta izin untuk menggunakan toilet di kamar saya. Di kamar mandi, saya membuka semua pakaian di tubuh saya, saya melihat tubuh saya di cermin. Benarkah anak muda seperti Saher terangsang melihat tubuhku? Hati-hati yang terpenting adalah saya ingin merasakan bagaimana saya bercinta dengan remaja yang masih panas.

Keluar dari kamar mandi, Saher memasuki ruangan. Matanya melebar melihat tubuh sintetisku yang tidak tertutup benang tunggal.

"Tubuh ibu benar-benar baik ..." dia memuji sambil mencium puting susu yang telah mengeras sejak tadi. Dia menyandarkan tubuhku di dinding di depan kamar mandi. Lalu dia mencium seluruh tubuhku, mulai dari pipi, kedua telinga, leher, hingga dadaku. Sepasang payudara montok saya telah diperas dan dicium. Puting saya setengah digigit, menggelitik dengan ujung lidah saya, juga tersedot begitu bersemangat.

"Ibu hebat ...," desisnya.

"Apa yang hebat ...?" Tanyaku sambil mengotak-atik rambut panjang Saher.

"Tubuh ibu tidak banyak berubah dibandingkan dengan sekolah dasar saya dulu," katanya sambil terus menghancurkan putingku. Sangat menyenangkan.

"Itu karena kamu rutin berolahraga" jawabku sambil meremas tonjolan kemaluannya. Dengan bergegas celana saya ke celana dalamnya. Memahami kehendak saya, dia kemudian duduk di tepi tempat tidur dengan kedua kakinya mengangkang. Kemejanya sendiri terbuka, sementara aku berlutut untuk meraih batang penisnya, jadi sekarang kami berdua telanjang.

Saya mengambil sedikit alat kelaminnya, Saher meminta perubahan, dia ingin bekerja pada vagina saya.

"Masukkan saja, Ibu, aku ingin merasakan penismu San!" Saya mencegahnya sambil menciumnya.

Saher tersenyum lebar. "Sudah tidak sabar ya?"

"Kamu juga tidak benar-benar menguatkan San," jawabku, mencubit perutnya yang berotot.

Saher tersenyum dan menarik tubuhku. Kami berpelukan, berciuman sangat erat, berguling di tempat tidur. Ternyata Saher sangat pintar bermesraan. Gairah saya meningkat lebih tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Merasa vaginaku semakin berdenyut, lendirku membanjir, tidak sabar menunggu terobosan poros besar Saher.

Tidak seperti suamiku, Saher tampaknya lebih sabar. Dia tidak segera memasukkan batang penisnya, tetapi terus mencium seluruh tubuhku. Akhirnya dia membalikkan tubuhku ke perutnya, lalu dia mencium pahaku di bagian belakang, sampai ke bokong pantatku, terus naik lagi ke leher. Perutku menggelegak.



Saher menyelipkan tangan kirinya di bawah tubuhku, tubuh kami meringkuk bersama dengan posisiku kembali ke Saher, lalu meremas payudaraku. Lidahnya terus menjilat leher, telinganya, dan sesekali pipiku. Sementara itu tangan kanannya mengusap vaginaku dari belakang. Terasa seperti jari tengahnya menyusup dengan lembut ke liang vaginaku yang basah.

"Vagina ibu baik, tebel, pasti bagus‘ bercinta 'dengan Ibu ..., "bisiknya tepat di telingaku. Suaranya sangat serak, pertanda bahwa nafsunya setinggi milikku. Saya tidak bisa bereaksi lagi. Aku hanya membiarkan semua yang Saher lakukan, sampai dia merasakan tangan kanannya naik ke pahaku.

Mata saya tertutup rapat, seolah saya tidak bisa lagi membuka. Merasakan napas Saher semakin memburu, sementara ujung lidahnya menggelitik lubang telingaku. Tangan kirinya menggenggam dan meremas payudaraku, sementara yang kanan mengangkat pahaku lebih tinggi. Lalu ..., terasa benda tumpul meledak ke lubang vaginaku dari belakang. Ya Tuhan, dia meletakkan misilnya ... !!!

Sejenak aku tidak bisa bereaksi sama sekali, tetapi hanya menggigit bibirku dengan keras. Menikmati inci demi inci poros kemaluan Saher memasuki lubang vaginaku. Terasa penuh, luar biasa bagus.

"Oohh ...," sesaat kemudian aku mulai bereaksi tanpa terlihat. Tubuh saya langsung berderak, sementara Saher mulai bergerak bolak-balik. Mulutku mulai mengerang tak terkendali.

"Saann, kemaluanmu buruk ... !!!," kataku setengah berteriak.

Saher tidak menjawab, tetapi terus memajukan misilnya. Gerakannya cepat dan kuat, bahkan cenderung kasar. Tentu saja saya dibuat lebih berteriak. Batang besar penisnya seperti berusaha membongkar vaginaku ke bawah.

Oohh ... bro ..., gustii ... !!! "

Saher bahkan lebih bersemangat mendengar teriakan dan eranganku. Saya menjadi lebih erotis.

"Aahh, keparatmu ..., oohh, aarrghh ... hukumanmu ... oohh ... !!!"

Saher terus tertawa. Kekuatannya sangat kuat, terutama dengan batang penis yang sangat keras dan kaku. Meskipun kami melakukan hubungan seksual dalam posisi menyamping, tampaknya Saher tidak kesulitan memasukkan batang kemaluannya ke dalam vaginaku. Orgasme saya terasa seperti akan meledak dengan sangat cepat.

"Ibu ingin keluar! Aku ingin kabur !!" aku berteriak.

"Yah, well, well, aku juga, aku juga! Senang sekali bisa bercinta denganmu!" Saher menusuk lebih keras dan lebih keras.

"Terus berjalan, Saann !!! ... Yah, ooohhh, ya, ugghh !!!"

"Teruuss ..., arrgghh ..., sshh ..., ohh ... terus menyodokmu ...!"

"Oh, ah, uuugghhh ..."

"Enaaa ..., penismu bagus, penismu enak, yah, teruuusss ..."

Pada saat terakhir, tangan kanan saya meraih bokong Saher, saya meremas pantat, sementara paha kanan saya terangkat tinggi. Aku merasakan vaginaku berdenyut sangat cepat. Saya orgasme!

Sejenak aku tampak melayang, hanya mengingat kesenangan yang tak terkatakan. Mungkin sudah lima tahun saya tidak merasa seperti ini. Saher mencium pipi dan telingaku. Sejenak dia membiarkan saya bernafas, sebelum itu dia meminta saya untuk menunggu. Saya baru sadar bahwa ternyata dia belum mencapai orgasme.

Saya mematuhi permintaan Saher. Dengan sedikit lemah akibat orgasme luar biasa, perkuat posisi tubuh saya hingga menungging. Saher mengikuti gerakanku, batang kemaluannya yang besar dan panjang masih menempel di vaginaku.

Kemudian perlahan merasa dia mulai mengayunkan pinggulnya. Ternyata dia sangat sabar. Dia maju dan mundur di pinggulnya satu per dua secara teratur, seolah-olah kami baru saja memulai permainan, meskipun tentu saja perjalanannya sudah cukup tinggi sebelumnya.

Saya menikmati penis Saher bolak-balik dengan diam. Kepalaku tertunduk, napasku muncul kembali. Tidak lama, vaginaku mulai terasa enak lagi. Aku mengangkat kepalaku, melihat ke belakang. Saher segera menunduk, mencium pipiku.

"San ... Kamu benar-benar hebat ... Kupikir kamu hampir keluar," kataku terus terang.

"Apakah kamu benar-benar menyukainya ketika aku keluar cepat?" Dia menjawab dengan lembut di telingaku.

Aku tersenyum, memalingkan wajahku. Saher mengerti, aku mencium bibirku. Lalu dia mendorong lebih cepat. Dia seperti tahu bahwa saya mulai kesenangan lagi. Jadi saya menggerakkan pinggul saya perlahan, kiri dan kanan.

Saher menurunkan. Dia meremas kedua pantatku, lalu gerakannya menjadi lebih kuat dan lebih cepat. Batangnya yang sangat keras memeluk vaginaku. Saya mulai mengeluh lagi.

"Oorrgghh ..., oh ..., kawan ... hukumanmu bagus, kawan ... Sess !!"

Saher tidak mengeluarkan suara, melainkan mengunyah yang lebih kuat. Tubuhku bergetar. Aku berteriak. Sangat cepat, nafsu saya menyebar semakin tinggi. Saya merasa Saher kali ini akan segera mencapai klimaks. Jadi saya menyeimbangkan gerakannya dengan menggoyangkan pinggul saya dengan cepat. Aku membalikkan pantatku, sesekali aku mundur berlawanan dengan gerakan Saher. Pria muda itu mulai mengerang untuk tanda dia akan segera orgasme.

Tiba-tiba Saher menyuruhku untuk berbalik. Dia menarik penisnya dari penisku. Saya berbalik dengan cepat. Lalu aku merentangkan kedua kakiku sambil mengangkatnya sedikit. Saher segera menyodok kedua lututnya hingga menekan pahaku. Kakiku menekuk mengangkang. Saher memegang kedua kaki saya di bawah lutut, kemudian batang penisnya yang keras jatuh ke mulut saya yang menganga

"Aarrgghhh ... !!!" Aku berteriak.

"Aku hampir keluar!" Saher bergumam. Gerakannya segera cepat dan kuat. Saya tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, jadi saya lepaskan, menikmati gemetar keras batang kemaluan Saher. Tanganku mencengkeram seprai dengan kuat.

"Kalau begitu, sayang ..., sungguh ...!" Aku menghela nafas.

"Ooohhh, sangat lezat ..., aku memakainya ..., senang 'bercinta' dengan Ibu!" Saher

"Ibu, juga, Ibu juga, pus jenius Ibu ...!" Saya membalas.

"Aku hampir keluar, Buu ..., vagina ibuku enak, bangeet ..."

"Mom juga ingin keluar lagi, tunggu dulu! Teruss ... well, aku juga ingin keluar!"

"Ah, oh, uughhh, aku tidak tahan, aku tidak tahan, aku ingin keluar ...!"

"Yah, sudah jelas, aduk !!! Ibu rasanya enak, Ibu baik, Saann ... Aku ingin keluar, aku ingin keluar, vaginaku mengenakan, aku memakai 'bercinta' denganmu. .. yeah, bro ... aarrgghh ... sshshhh ... uughhh ... aarrrghh !!! "

Tubuhku bergerak-gerak sejenak sementara otot-otot vaginaku terasa berdenyut. Aku menjerit lama, tidak bisa menahan kenikmatan orgasme. Pada saat yang sama, Saher menekan dengan keras, menancapkan batang kemaluannya jauh di lubang vaginaku.

"Oohhh ... !!!" teriaknya, sementara dia merasakan kemaluannya menyemburkan air mani ke dalam vaginaku. Kesenangan itu tak terkatakan, sungguh luar biasa untuk mencapai orgasme dalam waktu yang persis sama.

Kemudian tubuh kami berdua melepaskan, tetapi alat kelamin kami masih saling terkait. Saher memelukku dengan dalam. Sejenak kami berdua bernafas.

"Sangat enak," bisik Saher beberapa saat kemudian.

"Hmmm ..." Aku menggeliat manja. Merasakan batang kemaluan Saher bergerak di dalam vaginaku.

"Vaginamu benar-benar bagus, kamu bisa menghisapnya seperti itu ..."

"Terutama penismu ... besar, keras, dalemmm ..."

Saher bergerak untuk menciumku lagi. Kali ini dia mengangkat tangan kananku, lalu menyelipkan kepalanya untuk mencium ketiakku. Aku terkikik. Saher menjilat keringat yang membasahi ketiak saya. Geli, tapi bagus. Apalagi lidahnya terus menjulur menjilati payudaraku.

Saher kemudian mengisap seperti bayi. Aku terkikik lagi. Puting saya dihisap, dijilat, digigit sedikit. Rambut Kujambaki Saher karena perilakunya membuat nafsu saya mulai menyentak lagi. Saher mengangkat wajahnya sedikit, tersenyum tipis, lalu berkata,

"Aku tidak bisa puas dengan bercinta dengan Ibu ... aku juga suka kan?"

Saya hanya tersenyum, dan itu sudah cukup bagi Saher sebagai jawaban. Alhasil, seharian kami bercinta lagi. Setelah istirahat sejenak di malam hari, Saher kembali meminta bagian dari saya. Setidaknya malam itu ada 3 putaran tambahan yang kami mainkan dengan berapa kali saya mencapai orgasme. Yang jelas, keesokan paginya tubuh saya benar-benar lemah, lemah tanpa kekuatan.

Nyaris tidak tidur sama sekali, tetapi saya masih pergi ke sekolah. Di sekolah aku merasa sangat membosankan. Banyak teman mengira saya sakit, meskipun sebenarnya saya bahagia, setelah melakukan hubungan siang dan malam dengan mantan murid saya yang perkasa.


Selasa, 18 Juni 2019

Ketauan nyontek di hukum ngentot dengan guru


Cerita Sex - Rina adalah seorang guru sejarah di smu. Umurnya 30 tahun, cerai tanpa anak. Kata orang dia mirip Demi Moore di film Striptease. Tinggi 170, 50 kg, dan 36B. Semua murid-muridnya, terutama yang laki-laki pengin banget melihat tubuh polosnya.


Suatu hari Rina terpaksa harus memanggil salah satu muridnya ke rumahnya, untuk ulangan susulan. Si Anto harus mengulang karena ia kedapatan menyontek di kelas. Anto juga terkenal karena kekekaran tubuhnya, maklum dia sudah sejak SD bergulat dengan olah raga beladiri, karenanya ia harus menjaga kebugaran tubuhnya.


Bagi Rina, kedatangan Anto ke rumahnya juga merupakan suatu kebetulan. Ia juga diam-diam naksir dengan anak itu. Karenanya ia bermaksud memberi anak itu 'pelajaran' tambahan di Minggu siang ini."Sudah selesai Anto?", Rina masuk kembali ke ruang tamu setelah meninggalkan Anto selama satu jam untuk mengerjakan soal-soal yang diberikannya."Hampir bu""Kalau sudah nanti masuk ke ruang tengah ya saya tinggal ke belakang..""Iya..""Bu Rina, Saya sudah selesai", Anto masuk ke ruang tengah sambil membawapekerjaannya."Ibu dimana?""Ada di kamar.., Anto sebentar ya", Rina berusaha membetulkan t-shirtnya. Ia sengaja mencopot BH-nya untuk merangsang muridnya itu. Di balik kaus longgarnya itu bentuk payudaranya terlihat jelas, terlebih lagi puting susunya yang menyembul.


Begitu ia keluar, mata Anto nyaris copot karena melotot, melihat tubuh gurunya. Rina membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas, tidak seperti biasanya saat ia tampil di muka murid-muridnya."Kenapa ayo duduk dulu, Ibu periksa.."Muka Anto merah karena malu, karena Rina tersenyum saat pandangannya terarah ke buah dadanya."Bagus bagus..., Kamu bisa gitu kok pakai menyontek segala..?""Maaf Bu, hari itu saya lupa untuk belajar..""oo..., begitu to?""Anto kamu mau menolong saya?", Rina merapatkan duduknya di karpet ke tubuh muridnya."Apa Ibu?", tubuh Anto bergetar ketika tangan gurunya itu merangkul dirinya, sementara tangan Rina yang satu mengusap-uasap daerah 'vital' nya."Tolong Ibu ya..., dan janji jangan bocorkan pada siapa--siapa"."Tapi tapi..., Saya"."Kenapa?, oo..., kamu masih perawan ya?".Muka Anto langsung saja merah mendengar perkataan Rina"Iya""Nggak apa-apa", Ibu bimbing ya.


Rina kemudian duduk di pangkuan Anto. Bibir keduanya kemudian saling berpagutan, Rina yang agresif karena haus akan kehangatan dan Anto yang menurut saja ketika tubuh hangat gurunya menekan ke dadanya. Ia bisa merasakan puting susu Rina yang mengeras. Lidah Rina menjelajahi mulut Anto, mencari lidahnya untuk kemudian saling berpagutan bagai ular.




Setelah puas, Rina kemudian berdiri di depan muridnya yang masih melongo. Satu demi satu pakaiannya berjatuhan ke lantai. Tubuhnya yang polos seakan akan menantang untuk diberi kehangatan oleh perjaka yang juga muridnya ini."Lepaskan pakaiannmu Anto", Rina berkata sambil merebahkan dirinya di karpet. Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindihi tubuhnya."Ahh cepat Anto", Rina mendesah tidak sabar.


Anto kemudian berlutut di samping gurunya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pengetahuannya tentang seks hanya di dapatnya dari buku dan video saja."Anto..., letakkan tanganmu di dada Ibu",Dengan gemetar Anto meletakkan tangannya di dada Rina yang turun naik. Tangannya kemudian dibimbing untuk meremas-remas payudara Rina yang montok itu."Oohh..., enakk..., begitu caranya..., remas pelan-pelan, rasakan putingnya menegang.." Dengan semangat Anto melakukan apa yang gurunya katakan."Ibu..., Boleh saya hisap susu Ibu?".Rina tersenyum mendengar pertanyaan muridnya, yang berkata sambil menunduk, "Boleh..., lakukan apa yang kamu suka".


Tubuh Rina menegang ketika merasakan jilatan dan hisapan mulut pemuda itu di susunya. Perasaan yang ia pernah rasakan 3 tahun lalu saat ia masih bersama suaminya."Oohh..., jilat terus sayang..., ohh", Tangan Rina mendekap erat kepala Anto ke payudaranya.


Anto semakin buas menjilati puting susu gurunya tersebut, mulutnya tanpa ia sadari menimbulkan bunyi yang nyaring. Hisapan Anto makin keras, bahkan tanpa ia sadari ia gigit-gigit ringan puting gurunya tersebut."mm..., nakal kamu", Rina tersenyum merasakan tingkah muridnya itu."Sekarang coba kamu lihat daerah bawah pusar Ibu".Anto menurut saja. Duduk diantara kaki Rina yang membuka lebar. Rina kemudian menyandarkan punggungya pada dinding di belakangnya."Coba kamu rasakan", ia membimbing telunjuk Anto memasuki vaginanya."Hangat Bu.."Bisa kamu rasakan ada semacam pentil...?""Iya..""Itu yang dinamakan kelentit, itu adalah titik peka cewek juga. Coba kamu gosok-gosok"Pelan-pelan jari Anto mengusap-usap clitoris yang mulai menyembul itu."Terus..., oohh..., ya..., gosok..., gosok", Rina mengerinjal-gerinjal keenakan ketika clitorisnya digosok-gosok oleh Anto."Kalo diginiin nikmat ya Bu?", Anto tersenyum sambil terus menggosok-gosok jarinya."Oohh..., Antoo..., mm", tubuh Rini telah basah oleh peluh, pikirannya serasa di awang-awang, sementara bibirnya merintih-rintih keenakan.


Tangan Anto semakin berani mempermainkan clitoris gurunya yang makin bergelora dirangsang birahi. Nafasnya yang semakin memburu pertanda pertahanan gurunya akan segera jebol."Ooaahh..., Anntoo", Tangan Rina mencengkeram pundak muridnya, sementara tubuhnya menegang dan otot-otot kewanitaannya menegang. Matanya terpejam sesaat, menikmati kenikmatan yang telah lama tidak dirasakannya."Hmm..., kamu lihai Anto..., Sekarang..., coba kamu berbaring".Anto menurut saja. Penisnya segera menegang ketika merasakan tangan lembut gurunya."Wah..., wahh.., besar sekali", tangan Rina segera mengusap-usap penis yang telah mengeras tersebut.


Segera saja benda panjang dan berdenyut-denyut itu masuk ke mulut Rina. Ia segera menjilati penis muridnya itu dengan penuh semangat. Kepala penis muridnya itu dihisapnya keras-keras, sehingga Anto merintih keenakan."Ahh..., enakk...,enakk", Anto tanpa sadar menyodok-nyodokkan pinggulnya untuk semakin menekan penisnya makin ke dalam kuluman Rina. Gerakannya makin cepat seiring semakin kerasnya hisapan Rina."oohh Ibu..., Ibbuu"Muncratlah cairan mani Anto di dalam mulut Rina, yang segera menjilati cairan itu hingga tuntas."Hmm..., manis rasanya Anto", Rina masih tetap menjilati penis muridnya yang masih tegak."Sebentar ya aku mau minum dulu".


Ketika Rina sedang membelakangi muridnya sambil menenggak es teh dari kulkas. Tiba-tiba ia merasakan seseorang mendekapnya dari belakang."Anto..., biar Ibu minum dulu"."Tidak..., nikmati saja ini", Anto yang masih tegang berat mendorong Rina ke kulkas.Gelas yang dipegang rina jatuh, untungnya tidak pecah. Tangan Rina kini menopang tubuhnya ke permukaan pintu kulkas."Ibu..., sekarang!""Ahhkk", Rina berteriak, saat Anto menyodokkan penisnya dengan keras ke liang vaginanya dari belakang. Dalam hatinya ia sangat menikmati hal ini, pemuda yang tadinya pasif berubah menjadi liar."Antoo..., enakk..., ohh..., ohh". Tubuh Rina bagai tanpa tenaga menikmati kenikmatan yang tiada taranya. Tangan Anto satu menyangga tubuhnya, sementara yang lain meremas payudaranya. Dan penisnya yang keras melumat liang vaginanya."Ibu menikmati ini khan", bisik Anto di telinganya"Ahh..., hh", Rina hanya merintih, setiap merasakan sodokan keras dari belakang."Jawab..., Ibu", dengan keras Anto mengulangi sodokannya."Ahh...,iyaa""Anto..., Anto jangann..., di dal.. La" belum sempat ia meneruskan kalimatnya, Rina telah merasakan cairan hangat di liang vaginanya menyemprot keras. Kepalang basah ia kemudian menyodokkan keras pinggulnya."Uuhgghh", penis Anto yang berlepotan mani itupun amblas lagi ke dalam liang Rina."Ahh".




Kedua insan itupun tergolek lemas menikmati apa yang baru saja mereka rasakan.


Setelah kejadian dengan Anto, Rina masih sering bertemu dengannya guna mengulangi lagi perbuatan mereka. Namun yang mengganjal hati Rina adalah jika Anto kemudian membocorkan hal ini ke teman-temannya.


Ketika Rina berjalan menuju mobilnya seusai sekolah bubar, perhatiannya tertumbuk pada seorang muridnya yang duduk di sepeda motor di samping mobilnya, katakanlah dia Reza. Ia berbeda dengan Anto, anaknya agak pembuat onar jika di kelas, kekar dan nakal. Hatinya agak tidak enak melihat situasi ini."Bu Rina salam dari Anto", Reza melemparkan senyum sambil duduk di sepeda motornya."Terima kasih, boleh saya masuk", Ia harus berkata begitu karena sepeda motor Reza menghalangi pintu mobilnya."Boleh..., boleh Bu saya juga ingin pelajaran tambahan seperti Anto."Langkah Rina terhenti seketika. Namun otaknya masih berfungsi normal, meskupun sempat kaget."Kamu kan nilainya bagus, nggak ada masalah kan..", sambil duduk di balik kemudi."Ada sedikit sih kalau Ibu nggak bisa mungkin kepala guru bisa membantu saya, sekaligus melaporkan pelajaran Anto", Reza tersenyum penuh kemenangan."Apa hubungannya?", Keringat mulai menetes di dahi Rina."Sudahlah kita sama-sama tahu Bu. Saya jamin pasti puas".


Tanpa menghiraukan omongan muridnya, Rina langsung menjalankan mobilnya ke rumahnya. Namun ia sempat mengamati bahwa muridnya itu mengikutinya terus hingga ia menikung untuk masuk kompleks perumahan.Setelah mandi air hangat, ia bermaksud menonton TV di ruang tengah. Namun ketika ia hendak duduk pintu depan diketuk oleh seseorang. Rina segera menuju pintu itu, ia mengira Anto yang datang. Ternyata ketika dibuka"Reza! Kenapa kamu ngikuutin saya!", Rina agak jengkel dengan muridnya ini."Boleh saya masuk?"."Tidak!"."Apa guru-guru perlu tahu rahasiamu?"."!!"dengan geram ia mempersilakan Reza masuk."Enak ya rumahnya, Bu", dengan santainya ia duduk di dekat TV. "Pantas aja Anto senang di sini"."Apa hubunganmu dengan Anto?, Itu urusan kami berdua", dengan ketus Rina bertanya."Dia teman dekat saya. Tidak ada rahasia diantara kami berdua"."Jadi artinya", Kali ini Rina benar-benar kehabisan akal. Tidak tahu harus berbuat apa."Bu, kalo saya mau melayani Ibu lebih baik dari Anto, mau?", Reza bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Rina.Rina masih belum bisa menjawab pertanyaan muridnya itu. Tubuhnya panas dingin.


Rina masih belum bisa menjawab pertanyaan muridnya itu. Tubuhnya panas dingin. Belum sempat ia menjawab, Reza telah membuka ritsluiting celananya. Dan setelah beberapa saat penisnya meyembul dan telah berada di hadapannya."Bagaimana Bu, lebih besar dari Anto khan?".Reza ternyata lebih agresif dari Anto, dengan satu gerakan meraih kepala Rina dan memasukkan penisnya ke mulut Rina."Mmpfpphh"."Ahh yaa..., memang Ibu pandai dalam hal ini. Nikmati saja Bu..., nikmat kok"Rupanya nafsu menguasai diri Rina, menikmati penis yang besar di dalam mulutnya, ia segera mengulumnya bagai permen. Dijilatinya kepala penis pemuda itu dengan semangat. Kontan saja Reza merintih keenakan."Aduhh..., nikmat sekali Bu oohh", Reza menyodok-nyodokkan penisnya ke dalam mulut Rina, sementara tangannya meremas-remas rambut ibu gurunya itu. Rina merasakan penis yang diisapnya berdenyut-denyut. Rupanya Reza sudah hendak keluar."oohh..., Ibu enakk..., enakk..., aahh".Cairan mani Reza muncrat di mulut Rina, yang segera menelannya. Dijilatinya penis yang berlepotan itu hingga bersih. Kemudian ia berdiri."Sudahh..., sudah selesai kamu bisa pulang", Namun Rina tidak bisa memungkiri perasaannya. Ia menikmati mani Reza yang manis itu serta membayangkan bagaimana rasanya jika penis yang besar itu masuk ke vaginanya."Bu, ini belum selesai. Mari ke kamar, akan saya perlihatkan permainan yang sebenarnya.""Apa! beraninya kamu memerintah!", Namun dalam hatinya ia mau. Karenanya tanpa berkata-kata ia berjalan ke kamarnya, Reza mengikuti saja.


Setelah ia di dalam, Rina tetap berdiri membelakangi muridnya itu. Ia mendengar suara pakaian jatuh, dugaannya pasti Reza sedang mencopoti pakaiannya. Ia pun segera mengikuti jejak Reza. Namun ketika ia hendak melepaskan kancing dasternya."Sini saya teruskan", ia mendengar Reza berbisik ke telinganya. Tangan Reza segera membuka kancing dasternya yang terletak di bagian depan. Kemudian setelah dasternya jatuh ke lantai, tangan itupun meraba-raba payudaranya. Rina juga merasakan penis pemuda itu diantara belahan pantatnya."Gilaa..., besar amat", pikirnya. Tak lama kemudian iapun dalam keadaan polos. Penis Reza digosok-gosokkan di antara pantatnya, sementara tangan pemuda itu meremasi payudaranya. Ketika jemari Reza meremas puting susu Rina, erangan kenikmatan pun keluar."mm oohh".Reza tetap melakukan aksi peremasan itu dengan satu tangan, sementara tangan satunya melakukan operasi ke vagina Rina."Reza..., aahh..., aahh", Tubuh Rina menegang saat pentil clitorisnya ditekan-tekan oleh Reza."Enak Bu?", Reza kembali berbisik di telinga gurunya yang telah terbakar oleh api birahi itu.


Rina hanya bisa menngerang, mendesah, dan berteriak lirih. Saat usapan, remasan, dan pekerjaan tangan Reza dikombinasi dengan gigitan ringan di lehernya. Tiba-tiba Reza mendorong tubuh Rina agar membungkuk. Kakinya di lebarkan."Kata Anto ini posisi yang disukai Ibu""Ahhkk..., hmm..., hmmpp", Rina menjerit, saat Reza dengan keras menghunjamkan penisnya ke liang vaginanya dari belakang.""Ugghh..., innii..., innii", Reza medengus penuh gairah dengan tiap hunjaman penisnya ke liang Rina. Rinapun berteriak-teriak kenikmatan, saat liang vaginanya yang sempit itu dilebarkan secara cepat."Adduuhh..., teruss.., teruss Rezaa..., oohh", Kepala ibu guru itu berayun-ayun, terpengaruh oleh sodokan Reza. Tangan Reza mencengkeram pundak Rina, seolah-olah mengarahkan tubuh gurunya itu agar semakin cepat saja menelan penisnya."Oohh Rina..., Rinnaa".Rina segera merasakan cairan hangat menyemprot di dalam vaginanya dengan deras. Matanya terpejam menikmati perasaan yang tidak bisa ia bayangkan.



Rina masih tergolek kelelahan di tempat tidur. Rambutnya yang hitam panjang menutupi bantalnya, dadanya yang indah naik-turun mengikuti irama nafasnya. Sementara itu vaginanya sangat becek, berlepotan mani Reza dan maninya sendiri. Reza juga telajang bulat, ia duduk di tepi tempat tidur mengamati tubuh gurunya itu. Ia kemudian duduk mendekat, tangannya meraba-raba liang vagina Rina, kemudian dipermainkannya pentil kelentit gurunya itu."mm capek..., mm", bibir Rina mendesah saat pentilnya dipermainkan. Sebenarnya ia sangat lelah, tapi perasaan terangsang yang ada di dalam dirinya mulai muncul lagi. Dibukanya kakinya lebar-lebar sehingga memberikan kemudahan bagi Reza untuk memainkan clitorisnya."Rezz aahh", Tubuh Rina bergetar, menggelinjang-gelinjang saat Reza mempercepat permainan tangannya."Bu..., balik..., Reza pengin nih""Nakal kamu ahh", dengan tersenyum nakal, Rina bangkit dan menungging. Tangannya memegang kayu dipan tempat tidurnya. Matanya terpejam menanti sodokan penis Reza. Reza meraih payudara Rina dari belakang dan mencengkeramya dengan keras saat ia menyodokkan penisnya yang sudah tegang"Adduuhh..., owwmm", Rina mengaduh kemudian menggigit bibirnya, saat lubang vaginannya yang telah licin melebar karena desakan penis Reza."Bu Rina nikmat lho vagina Ibu..., ketat", Reza memuji sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya."mm..., aahh..., ahh..., ahhkk", Rina tidak bisa bertahan untuk hanya mendesah. Ia berteriak lirih seiring gerakan Reza. Badannya digerakkannya untuk mengimbangi serangan Reza. Kenikmatan ia peroleh juga dari remasan muridnya itu."Ayoo..., aahh.., ahh... Mm.., buat Ibu keluuaa.. Rr lagi...". Gerakan Rina makin cepat menerima sodokan Reza.


Tangan Reza beralih memegangi tubuh Rina, diangkatnya gurunya itu sehingga posisinya tidak lagi "doggy style", melainkan kini Rina menduduki penisnya dengan membelakangi dirinya. Reza kini telentang di tempat tidur yang acak-acakan dan penuh oleh mani yang mengering."Ooww..", Teriakan Rina terdengar keras saat ia tidak bisa lagi menahan orgasmenya. Tangannya mencengkeram tangan Reza, kepalanya mendongak menikmati kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sementara Reza sendiri tetap menusuk-nusukkan penisnya ke vagina Rina yang makin becek."Ayoo..., makin dalam dalamm"."Ahh.., aahh..., aahh..", Rezapun mulai berteriak-teriak."Mau kelluuaarr"Rina sekali lagi memejamkan matanya, saat mani Reza menyemprot dalam liang vaginanya. Rina kemudian ambruk menindih tubuh Reza yang basah oleh keringat. Sementara diantara kaki-kaki mereka mengalir cairan hangat hasil kenikmatan mereka."Bu Rina..., sungguh luar biasa, Coba kalau Anto ada disini sekarang"."mm memangnya kamu mau apa", Rina kemudian merebahkan dirinya di samping Reza. Tangannya mengusap-usap puting Reza."Kita bisa main bertiga, pasti lebih nikmat.."Rina tidak bisa menjawab komentar Reza, sementara perasaannya dipenuhi kebingungan.


Akhirnya hari kelulusan murid klas 3 sampai juga. Dengan demikian Rina harus berpisah dengan kedua murid yang disayanginya, terlebih lagi ketika ia harus pindah ke kota lain untuk menempati pos baru di Kanwil. Karenanya ia memanggil Anto untuk datang ke rumahnya untuk memberitahukan perihal kepindahannya.Ketika seputar Indonesia mulai ditayangkan, Anto muncul. Ia langsung dipersilakan duduk."Bu, Anto kangen lho"."Iya deh..., nanti. Gini, Ibu bulan depan pindah ke kota B, soalnya akan dinaikkan pangkatnya. Jadi..., jadi..., Ibu ingin malam ini malam terakhir kita", mata Rina berkaca-kaca ketika mengucapkan itu."…………..", Anto tidak bisa menjawab. Ia kaget mendengar berita itu. Baginya Rina merupakan segalanya, terlebih lagi ia telah mendapatkan pelajaran berharga dari gurunya itu."Tapi Anto masih boleh berkirim surat kan?".Rina bisa sedikit tersenyum melihat muridnya tabah, "Iya..., boleh..., boleh"."Minum dulu Nto, ada es teh di meja makan. Kalau sudah nonton VCD di kamar yaa", Rina mengerling nakal ke muridnya sambil beranjak ke kamar. Di kamar ia mengganti pakaiannya dengan kimono kegemarannya, melepas BH, menghidupkan AC dan tentu saja menyetel VCD 'Kamasutra-nya Penthouse". Lalu ia tengkurap di tempat tidur sambil menonton TV.


Diluar Anto meminum es teh yang disediakan Rina dan membiarkan pintu depan tidak terkunci. Ia mempunyai rencana yang telah disusun rapi.Lalu Anto menyusul Rina ke kamar tidur. Begitu pintu dibuka ia melihat gurunya tengkurap menonton VCD dengan dibalut kimono merah tipis, lekuk tubuhnya jelas terlihat. Rambutnya yang panjang tergerai di punggungnya bagai gadis iklan shampo Pantene."Ganti pakaian itu Nto..", Rina menunjuk celana pendek dan kaos tipis yang terlipat rapi di meja riasnya.


Ketika Anto sedang mencopot celananya Rina sempat melihat penis pemuda itu menyembul di balik CD GT Man-nya. Setelah selesai Anto juga tengkurap di samping Rina."Sudah liat film ini belum? Bagus lho untuk info posisi-posisi ngesex"."Belum tuh...", Mata Anto tertuju pada posisi dimana si wanita berdiri memegang pohon sementara si pria memasukkan penisnya dari belakang, sambil meremas-remas payudara partnernya."mm..., itu posisi fave saya. Kalau kamu suka nanti CD itu bisa kamu ambil"."Thanx..", Anto kemudian mengecup pipi gurunya.


Adegan demi adegan terus bergulir, suasana pun menjadi semakin panas. Rina kini tengkurap dengan tidak lagi mengenakan selembar benangpun. Demikian pula Anto. Anto kemudian duduk di sebelah gurunya itu, dibelainya rambut Rina dengan lembut, kemudian disibakkannya ke sebelah kiri. Bibir Anto kemudian menciumi tengkuk Rina, dijilatinya rambut-rambut halus yang tumbuh lebat."aahh..."Setelah puas, Anto kemudian memberi isyarat pada Rina agar duduk di pangkuannya."Bu, biar Anto yang puasin ibu malam ini...", Bisik Anto di telinga Rina. Rina yang telah duduk di pangkuan Anto pasrah saja saat kedua tangan muridnya meremas-remas payudaranya yang liat. Kemudian ia menjerit lirih saat puting susunya mendapat remasan."Akhh...", Rina memejamkan matanya."Anto..., jilatin vagina ibu..."


Anto kemudian merebahkan Rina, dibukanya kaki gurunya itu lebar-lebar, kemudian dengan perlahan ia mulai menjilati vagina gurunya. Bau khas dari vagina yang telah basah oleh gairah itu membuat Anto kian bernafsu."oohh..., teruss..., teruuss...", Rina bergetar merasakan kenikmatan itu. Tangannya membimbing tangan Anto dalam meremasi susunya. Memberikan kenikmatan ganda."Jilatin..., pentil itu..., oohohh", Bagai dikomando Anto menjilati pentil clitoris Rina, dengan penuh semangat."Aduuhh….. Oohh…oohh…hh.. Hh…..""Anto..., massuukk".


Kaki Rina kemudian disampirkannya ke pundak, dan dengan cepat disodokkannya penisnya ke vagina Rina yang becek."mm...", Rina menggigit bibirnya. Meskipun lubang vaginanya telah licin, namun penis yang besar itu tetap saja agak kesulitan menerobos masuk."Uuhh..., masih susah juga ya Bu...", Anto sambil meringis memaju mundurkan penisnya. Ia merasakan penisnya bagai diremas-remas oleh tangan yang sangat halus saat di dalam. Tangan Rina mempermainkan puting Anto. Dengan gemas dicubitnya hingga Anto berteriak."Uhh..., nakal, Ini balasannya!", sodokan Anto makin keras, lebih keras dari saat ia memasukkan penisnya."aa...".


Tiba-tiba pintu kamar tebuka! Spontan Rina terkejut, tapi tidak bagi Anto. Reza sudah berdiri di muka pintu, senjatanya telah tegak berdiri."mm..., hot juga permainan Ibu dengan Dia, boleh saya bergabung?", Reza kemudian berjalan mendekati mereka. Rina yang hendak berdiri ditahan oleh Anto, yang tetap menjaga penisnya di dalam vagina rina."Nikmati saja..."Reza kemudian mengangkangi Rina, penisnya berada tepat di mukanya."Isap... Ayoo", sambil memasukkan penisnya. Saat itu pula Anto menghentakkan gerakannya. Saat Rina berteriak, saat itu pula penis Reza masuk."Ahh..., nikmat..", Rina merem-melek menghisap-hisap penis muridnya, sementara Anto dengan puas menggarap vaginanya."uufff..., jilatin..., jilatt", tangan Reza memegangi kepala Rina, agar semakin dalam saja mengisap penisnya.


Posisi itu tetap bertahan hingga akhirnya Anto keluar duluan. Maninya menyemprot dengan leluasa di lubang vagina gurunya yang cantik. Sementara Reza tetap mengerang-erang sambil medorong-dorong kepala Rina.Setelah Anto mengeluarkan penisnya dari vagina Rina, "Berdiri menghadap tembok Bu!"Rina masih kelelahan. Ia telah orgasme pula saat Anto keluar, namun ia tidak bisa teriak karena ada penis di mulutnya. Saat ia berdiri dengan tangan di tembok menahan tubuhnya, mani anto menetes ke lantai."mm..., Nto..., liat tuh punya kamu..", seru Reza sambil tertawa. Ia kemudian menempelkan tubuhnya ke Rina. Penisnya tepat berada di antara kedua pantat Rina."Nih Bu rasakan punya Reza juga ya".


Anto dengan santai menyaksikan temannya menggarap gurunya dari belakang. Tangan Reza memegangi pinggang Rina saat ia menyodok-nyodokkan penisnya keluar masuk dengan cepat. Saat Rina merintih-rintih menikmati permainan mereka, Anto merasakan penisnya tegang lagi. Ia tidak tahan melihat pemandangan yang sangat erotik sekali.Kedua insan itu saling mengaduh, mendesah, dan berteriak lirih seiring kenikmatan yang mereka berikan dan rasakan."ooww...", Tubuh Rina yang disangga Reza menegang, kemudian lemas. Anto menduga mereka berdua telah sampai di puncak kenikmatan. Timbul isengnya, ia kemudian mendekati mereka dan menyusup diantara Rina dan tembok. Dipindahkannya tangan Rina ke pundaknya, dan penisnya menggantikan posisi milik Reza."Anto...", Lagi-lagi Rina mendesah saat penis Anto masuk dan pinggulnya didorong oleh Reza dari belakang."Ahh.. Ahh…. Dorongg…dorongg………….""aa.. Aa... Aa"."oohhkk..., kk..., kk..", Rina berteriak keras sekali, saat dorongan Reza sangat keras menekan pinggulnya. penis Anto amblas hingga mencapai pangkalnya masuk ke vagina Rina. Saat itu pula ia merasakan penis yang berdenyut-denyut itu melepaskan muatannya untuk kedua kali.


Kamis, 23 Mei 2019

Bercumbu Di Kampus Ruang Komputer


Cerita Sex - percaya bahwa hari sudah larut malam. Saya masih berada di ruang komputer kampus sendirian. Pegal rasanya seharian menulis tugas yang seharusnya diserahkan satu hari setelah hari ini pagi. Untunglah walhasil selesai juga. Sambil melepas lelah iseng-iseng saya buka dunia online dan masuk ke website-website porno. Saya membuka gambar-gambar orang bersenggama melewati dubur. Mula-mula terasa aneh, namun makin lama saya menikmati fantasi lain. Saya menikmati erangan perempuan yang kesakitan sebab lubang anusnya yang sempit ditembus dengan alat vital yang mengeras. Ah.. khayalanku kian jauh.Tiba-tiba saya dikejutkan dengan bunyi pintu ruangan membuka dan menutup. Hii.. saya lihat telah jam 22:30, malam-malam demikian ini pikiranku jadi membayangkan hal-hal menyeramkan. Namun kemudian saya dikejutkan lagi saat memperhatikan seorang perempuan membawa map berisi sebagian lembar kertas dan dua buah buku tipis masuk kemudian menyimpannya di sebelah komputer, lalu menyalakan komputer dan mengetik. Komputernya terhalang tiga meja komputer di sebelahku. Saya jadi lega, kini ada sahabat, padahal ia tak mengamati saya sama sekali. Saya observasi dari samping, wajahnya manis dengan hidung yang kecil dan mancung. Kulitnya tak terlalu putih, namun mulus dengan baju hangat jeans lengan pendek yang dikenakannya, ia terlihat indah.

Namun, akh peduli benar-benar. Saya melanjutkan buka-buka website tadi, anganku kian menerawang, kemaluanku agak menegang. Dan walhasil saya melirik pada perempuan di ruangan itu, dan segera saya melirik bokongnya. Besar! pikirku. Tiba-tiba saja saya membayang seandainya kemaluanku merobek-robek bokongnya yang menggiurkan itu. Saya jadi deg-degan, kian dibayangkan kian menjadi-jadi kemaluanku menegang. Hingga walhasil saya nekat mendekati ia. Saya mencoba menenangkan diriku supaya terlihat normal.

“Ma’af.. sedang melakukan tugas?” suaraku sedikit bergetar.

Ia melirikku sejenak lalu matanya tertuju lagi ke layar komputer, sambil menjawab,
“Iya.. Mas.. saya kelupaan menuliskan sebagian judul buku dalam daftar kepustakaan, hanya dikit kok.”“Rumahnya deket sini?”

“Iya di asrama, dan aku lazim kerja malam-malam demikian ini,” jawabnya.

“Akhirnya selesai juga nih...,” ia dengan cepat membereskan semua kertas tugasnya, kemudian ngeprint kertas-kertasnya.

Ia mengambil walhasil dan terlihat puas.

“Dapat pulang sama-sama?” saya bertanya sambil mataku sejenak-sejenak mencuri pandang ke arah bokongnya yang terlihat besar membayang dibalik celana trainning kain parasitnya. Aduh, dadaku mendesir.



“Sejenak saya tutup dahulu komputerku ya..”

Saya bergegas pergi ke komputerku.

“Mas sedang ngerjakan apaan?”

Saya terkejut tak mengira seandainya ia mencontoh saya.

“Ah.. ini.. iseng-iseng aja buka-buka dunia online, capek sih ngetik serius terus dari tadi.”

“Eh.. gambar-gambar gituan yaa? Hi ih!” ia mengangkat bahunya, namun mulutnya tersenyum.

“Ah.. iseng-iseng aja.. Ingin ikutan liat-liat?” tiba-tiba keberanianku timbul. Dan di luar dugaan ia tak menolak.

“Namun bentar aja yaa.. entar keburu malam!” ia segera duduk di tempat duduk sebelahku.

Makin lama kami makin asyik buka-buka gambar porno, hingga walhasil,
“Saya ingin pulang deh Mas. Udah malem.. Saya dapat pulang sedirian.. deket kok.”

Ia siap berdiri. Namun dengan reflek tanganku kencang mengendalikan pergelangannya. Ia kaget. Saya telah tak memperdulikan apa-apa lagi, selain mempraktekkan gambar-gambar yang diperhatikan tadi. Kemaluanku telah menegang.

Tanpa basa basi saya segera menduduki pahanya dan segera melibas bibirnya. “Umh.. mhh..” ia berusaha melawan dengan menarik kepalanya ke belakang, namun tangan kiriku kencang memegang belakang kepalanya, sementara tangan kananku telah meraba buah dadanya dan meremas-remas putingnya. Gerakan perempuan itu makin lama makin lemah, walhasil saya berani melepaskan ciumanku, dan beralih menciumi komponen-komponen tubuh lain, leher, belakang kuping, kembali ke leher, lalu turun ke komponen belahan buah dadanya. Saya memperhatikan ia juga menikmatinya. Matanya mulai sayu, bibirnya terbuka merekah.

“Namamu siapa?” saya tampaknya agak dapat membatasi situasi.

Ia tak menjawab. Cuma matanya yang sayu itu mengamati kepadaku. Saya tak paham maksudnya. Namun ah tak perduli saya mengangkat berdiri tubuhnya, lalu saya duduk di tempat duduk, kutarik badannya dan ia duduk di pangkuanku.

“Ehh.. hm..” ia berdesah saat kepalaku berada di buah dada yang masih terhalang T-shirt merah muda dari balik jaket hangat jeans yang kebuka kancingnya. Tanganku langsung menaikkan t-shirtnya, sehingga terlihat komponen bawah dadanya yang masih berada di balik BH. Kunaikkan BH-nya tanpa melepas, dan kembali mulutku beraksi pada putingnya, sementara tanganku meremas-remas bokongnya dan pahanya.




“Oohh.. Mas.s. Mass.. oohh..” saya semakin gila mendengar desahnya.

Lalu saya berkeinginan melakukan niatku untuk menembuskan batang kemaluanku ke bokongnya. Kubalikkan badannya sehingga ia membelakangiku. Saya malahan berdiri dan menurunkan celana trainingnya dengan gampang. Dengan tak tabah celana dalamnya malahan langsung kuturnkan. Saya duduk dan kutarik badannya sehingga bokongnya menduduki kemaluanku.

“Ahhh... Uhhh” saya begitu terkejut karena kemaluanku yang kini tegang rasanya mau patah ditimpa bokongnya yang seksi. Namun rasa sakit itu hilang karena nafsuku. Saya pegang kemaluanku dan kutancapkan ke lubang anusnya, lalu kutekan.

“Aaah..” ia menjerit, tubuhnya mengejang ke belakang. Namun kemaluanku tak dapat masuk. Terlalu sempit lubangnya. Keberingasanku makin menjadi. Saya dorong tubuhnya sehingga posisi badannya membungkuk pada meja komputer. Bokongnya terlihat terang, bulat. Pelukanku dari belakang tubuhnya membikin ia tertindih di meja. Kutempelkan kemaluanku pada lubang bokongnya. Sementara tangan kiriku meremas buah dada kirinya. Mulutku malahan tak henti-hentinya menggerayangi komponen belakang leher dan punggungnya. Dengan sekali hentak paksa, kudorong masuk kemaluanku.

“Ahh.. ah uh aooowww..” saya justru merasa sedikit kesakitan, namun kenikmatan yang ku rasa tiada taranya. “Jangan.. Tolong lepaskan..  aahh sakiit, tak deh.. ahhh..” Saya kian bernafsu mendengar desahannya. Sambil memeluk buah dadanya., saya menariknya berdiri. Kemudian saya menggerakan kemaluanku maju mundur dengan cepat sambil menciumi pipinya dari samping belakang, sementara kedua tanganku meremas buah dadanya, seolah-olah berkeinginan melumatkan tubuh perempuan yang sedang ku perkosa itu.

Perempuan itu tak henti-hentinya merintih, secara khusus saat kemaluanku kudorong masuk. Sebagian tetes air mata menggelinding di pipinya. Mungkin kesakitan, saya tak tahu. Namun apa tenaga saya malahan telah tak kuat membendung keluar air maniku lagi dan tubuhku mengejang, perempuan itupun mengejang dan merintih, sebab tanganku dengan sungguh-sungguh keras meremas buah dadanya. Badannya turut beratensi ke belakang, dan mulutku tanpa terasa menggigit lehernya.

“Ouhhh.. hh..” rasanya sungguh nikmat sekali saat kemaluanku mengeluarkan air maniku ke bokongnya. Saya terduduk ia malahan terduduk di atas kemaluanku yang masih menancap di bokongnya. Kepalaku terkulai di punggungnya. Perempuan itu mengamati ke arah layar komputer dengan pandangan kosong. Sementara tetes air matanya masih terus membasahi pipinya.

“Ma’afkan saya.. Saya tak kuat nahan diri,” saya mencoba menghiburnya. Namun ia tak menjawab.

“Siapa namamu?” tanyaku dengan lembut. Kembali ia diam.

“Saya ingin pulang.. kau tak perlu nganter saya.. biar orang-orang tak tanya macem-macem,” katanya dengan bunyi pelan.

“Saya sebetulnya tau siapa kau.. Mas,” ia berdiskusi tanpa menoleh ke arahku.
“Ha.. saya..” saya tekejut.

“Ya.. sebab saya temen baru pacarmu, Yuni, saya pernah liat foto-fotomu di daerah ia.”
Kali ini ia menatapku dengan tajam.

“Namun.. saya sama sekali tak nyangka kelakuanmu seperti ini,” selesai ia menaikkan celana dan mengoreksi BH dan T-shirtnya.

“Namun tak usah cemas saya tak bakalan cerita kejadian ini, saya takut ini akan melukai hatinya. Ia loyal sama kau,” lanjutnya.

“kau tak.. kasian ama dia?”

Saya terdiam, termangu, malah tak menyadari seandainya ia telah berlalu.
Akhir-akhir ini saya tahu nama gadis itu Rani, memang ia sahabat pacarku, Yuni. Saya menyesali perbuatanku. Rani konsisten bagus pada kami berdua. Kami malah menjadi kawan akrab.  tak pernah terjadi apa-apa. Entah hingga kapan ia akan menaruh rahasia ini. Saya kadang-kadang cemas, kadang-kadang juga mengamati iba pada Rani. Oh, saya sudah menghancurkan gadis yang ikhlas.



Senin, 13 Mei 2019

Ditengah hujanku bercumbu dengan Guru



Cerita Sex - Namaku Bambang & umum dalam panggil raka Bams sama istri serta juga sahabat-temanku. Dikala ini aku sudah menikah dan pertama berbuat 8 bulanan belum seluruh satu tahun dan abdi belum mempunyai si kecil asuh olehkarena itu istriku masih berkeinginan berasa pacaran katanya, & saya menyanjung-nyanjung permintaaanya beserta jalan mendiamkan ia menggunakan instrumen kontrasepsi apalagi aku waras jika kami berpacaran seharga sepanjang 5 kalendar.Akan tapi pas memastikan untuk mengikat ternyata mengapa tapi saya memang menghindari timbul ketimbang permaianan adegan sebagaimana di kecek seks 17 tahun pada luar terkocok.

Usiaku baru menginjak 25 tahun tetapi istriku 24 tahun kamipun berprofesi di daerah yang serupa, dan kadang selama itu kami ketemuan dalam daerah kerja hal yang demikian. Karena hal yang demikian banyak fren pangkalan kami yang telah umum mengenal bahwa kami benar-benar selaras daerah hati.Sekarang aku tinggal pada rumah Melalui istriku bertepatan dengan ke-2 orang-orang tuanya dan wahid orang ari perempuannya Tia namanya. Ia masih seorang mahasiswi SMA dan telah famili 3, Tya seorang putri yang pendiam juga dilihat dari wajahnya ia memang semakin menawan ketimbang kakaknya merupakan istriku. Corak kulitnya aja Melalui rontok dengan Tya yang punya corak risa putih berseri.

Berbeda dengan istriku mempunyai kulit asfar langsat turun dari risa ayahnya, meski Tya nurun ketimbang mamanya. Ke-2 mertuaku mempunyai sebuah minimarket yang semestinya jauh dari rumah, mereka berdua menyuruh otonom daerah usaha itu. Oleh karena itu pulangnya senantiasa padu malam, sebab itu itu meminta saya dengan Dengan tinggal bersama mereka agar dapat positif dalam keluarganya.

Sebagaimana halnya menyiapkan alas perut karena kadang keluarga mertuaku bukan memakai jasa budak. Seperti layaknya mempelai baru kamipun acap kali melakukan adegan diantaranya dalam cerita seks 17 tahun jika ada ruang, cantik itu sepulang ketimbang kantor ataupun baru dari pola kencang. Apalagi kalau silam hari tak ada waktu yang terdepak bagi aku dan pula istriku Melalui ia konsisten menuruti vitalitas sexku yang benar-benar gede.




Terlintas walhasil tatkala mengambil usia 4 bulan perkanikahan kita istriku perih, entah mengapa ia senantiasa menanggung pendarahan yang berlangsung sanksi daur haid yag tak tertib, kami sudah temu muka di dalam dokter serta akibatnya istriku seharusnya turun main lebih-lebih dahulu. Walhasil agenda bukan ingin saya kudu dingin lepas dari berperilaku kaul sex bersamanya.

Melainkan serupa laki2 yang benar-benar menjulung daya seksualitasnya, akupun acap berkeinginan menjalankannya namun secara sapa saya sendiri tak tahu. Sampai pada uni tarikh dikala berada di wisma bertepatan hari hal yang demikian perian ahad dan aku berpunya dalam rumah beserta Tya adik iparku. Walaupun Dengan menolong mertuaku memelihara minimarket hal yang demikian, hakekatnya Tya juga kerap kali menolong namun tatkala ini ia sejumlah kalau hendak jalan membarengkan temannnya.

Tetapi sebelum ia sirna abdi berada pada pokok belakang, saya lumayan merespons kalkun yang saya pelihara seperti Tya yang saaat itu sedang melenyapkan sepatunya. Saya bajunya yang mini dan super tertib membikin pipih tubuhnya seperti itu terang tampil, hingga-hingga aku merasa kontolku turut turun di dalam serawal dalamku dan akupun acap kali menggondol ranggul padanya.

Ia observasi Tya berdiri akupun lekas memeperhatikan burungku, & tanpa saya sadari suku kami baku sangkut. Tyapun rontok tewas pas di atas tubuhku, dengan cocok aku lantas memeluk tubuhnya “OOouuwww… maaf mas…” Ia nampak segan tetapi uniform berada dalam atas tubuhku olehkarena itu tanganku seperti itu memasuki memeluknya, seperti umum kontolkupun tiru berdaya upaya di dalam celana.

Saat saya cuma menggunakan celana bebas jadilah kontolku seperti itu mendetail dirasa oleh paha Tya yang menumpang pada selangkanganku. Dan entah siapa yang mengawali kamipun saling beradu tanding di dasar selasar satu hari setelah hari ini itu, aku dekap erat leher tamat Tya jadi ia bukan dapat bergerak saya patah bibirnya dengan lembut khususnya saya mainkan lidahku pada rongga mulutnya.

Dikala hal yang demikian juga saya mengamati Tya mendesah “OOoouugghh.. mas.. Braaam.. jaaangaaan… aaaahhhhh… aaaaaaaahhh…. ” Tanganku mulai dari berani menekan toketnya pun tanktop yang ia membubuhkan membikin toketnya seakan menanggapi untuk langsung saya meremas, Tyapun bergelinjangan dengan sekutil gerakan luar biasa tubuhnya ketimbang dekapan eratku. Kini waktu ini bukan cuma tanganku kakiku juga turut membendung tubuhnya.

Mungkin sebab menikmati nikmatnya kuluman bibirku sekarang Tya membalas ciumanku dengan ramah juga “OOoouuuuugghh… aaaaaggghh.. sayaaang.. kitaaa.. pindaah yaaaa.. ” Kataku berbisik pada Tya dan ia tak menentang, tetapi aku lihat ia seperti itu berserah padaku secara pelan saya bangun lalu saya panggul tubuh Tya dan membawanya masuk kedalam kamarnya.

Dalam sana kita masih hidup dan aku lepas pekaian Tya beserta lembut saya dorong tubuhnya dengan menggantungkan bibirku pada bibirnya. Saya ia tiduran di terhadap kasurnya saat itulah aku menindihnya “OOOOOUUUgghh… maaas…. aaaggggghh… saaakit….. aaaaagggghhh…. aaaaaaaagggghhhhh…. aaaaaagggghh.. ” Erangannya sambil menjenggut rambutku.

Renek akupun turun di bagi tubuhnya demikian kontolku mampu menerobos keperawanannya. Memek Tya mulai memunculkan darah baru dan saya tahu ia masih putri.

Sekarang ia tak lagi mengerang tetapi mendesah dengan penuh kesenangan “OOOOOuuuuuuggghhhh… aaaaggggghh… aaaggghh.. niiikmmaaaat.. maaas… aaaaggggghhh…”  tersenyum mendengarnya kemudian saya cium bibirnya.

Lambat kami mengerjakan gerakan sebagaimana dalam kecek seks hingga walhasil kontolku menegang di memek redut Tya. & tak buatan laa lalu akupun mengerang panjang “Aaaaaggghh...aaaaggggghhh...aaaaaaagggghhhhh…. aaaaaaagggghhhhh… aaaaaaagggghhhhh…… aaaaaaggggg.. ” kontolku akhirnya mengeluarkan sperma yang memenuhi lubang tempik Tya.

Akupun menyikap erat tubuhnya dan aku kecup kerap kali Tya. Tya pun membalas pelukanku sembari menangis “Gimana nich mas.. Tya belum pernah lakukan hal ini.. sehabis Tyaaa… ” tidak menunggu hingga Tya selesai bicara, aku langsung memeluknya untuk menenangkan. Datang walhasil Tya terdiam dan kemudian ia balik menciumku, mulai itulah abdi kerap kali melakukan adegan cerita seks itu di graha malah kami kerap kali pula sewa lubang hotel.



Nikmatnya Rasa Janda Muda


Cerita Sex - Memang hari itu saya sedang munjur sebab duduk ku disamping pak kusir yang jalannya tuk tik tidak tik tuk lho malahan kayak nyanyian buah hati buah hati aja hehehe, melainkan ini benar kejadiannya dimana kisah kongkret ini terjadi di dalam minibus yang saya tumpangi, tiap paginya saya bila berangkat ke kantor menerapkan tranposrtasi biasa, dimana dikala di dalam bis saya duduk bersampingan dengan seorang wanita yang menerapkan hijab.Wajah yang indah, body yang ramping serta kulitnya juga putih tampak dari telapak tangannya, bila di dalam bis awam saya kerap kali tertidur sebab memang bila malam saya senantiasa lembur di rumah, lha pada waktu ada wanita indah di sebelahku yang mulanya mata ngantuk kini sirna dikala wanita itu memainkan HPnya dan menelepon sesorang.

Tersingkap pahanya dikala ia jegang benar-benar membekas membikin gairah lelakiku timbul, terus saya berdaya upaya gimana caranya saya dapat mengawali diskusi dengannya, dan mungkin telah naluriku sebagai pegombal sesudah ia selesai menelepon saya berucap

”Wachhh… hobinya sama juga yach !”.

Sebentar ia memandangku linglung, mungkin berdaya upaya orang ini sok akrab banget sich.”Hobi apaan ?” tanyanya.

“Itu nitip tidak datang”, sahutku dan ia ngakak kecil.

“Tau aja kau. Dasar tukang nguping”, sahutnya. Kesudahannya obrolan bergulir.

Selama percakapan saya tak menanyakan nama, profesi ataupun teleponnya, melainkan lebih banyak cerita lucu.

Hingga walhasil ia ngomong “kau lucu juga yach.., nggak kaya cowok yang laen.”

”Maksud kau ?” tanyaku lagi.

”Umumnya mereka baru ngobrol sejenak udah nanya nama terus meminta nomor telepon.” Sesudah itu kami saling berkenalan. Perempuan muda berhijab bernama Rina.





Obrolan terus berlanjut sampe ia turun di Thamrin dan saya terus ke kota. Dua hari kemudian saya berjumpa ia lagi. Cewek manis berhijab itu menghampiriku dan duduk disebelahku sambil bercerita bahwa sahabat-sahabatnya penasaran sebab ia hari itu punya banyak cerita konyol.

Pagi itu kami menjadi lebih akrab. Sambil berkelakar tiba- tiba ia berkata :

”Kau pasti menyenangi maen cewek yach, soalnya kau terampil ngobrol banget. Pasti banyak cewek di bus ini yang kau pacarin.”Sumpah mati saya terkejut sekali denger omongan ia.

Kayanya maksud saya buat kencan ama ia udah ketauan. Kesudahannya sebab udah nanggung saya ceritain aja ke ia kalo saya telah beristri dan punya buah hati. Ech terbukti ia awam aja, justru saya yang jadi terkejut sebab rupanya ia telah nggak perawan lagi sebab pernah NBA waktu lulus sekolah dahulu.

Kini ia telah bercerai. Wuichhh, nggak nyangka banget kalo doi rupanya janda muda.

Berikutnya telah dapat diterka. Obrolan telah lebih ringan arahnya. Sayapun mulai mengarahkan pembicaraan ke sex. Keakraban dan keterbukaan ke arah sex telah di depan mata. Hingga suatu petang sesudah dua bulan perkenalan, kami janjian pulang bareng.

Hari itu ia mengenakan hijab merah muda sewarna dengan hem dan rok panjangnya. Posisi duduk kami telah akrab dan merekat. Malahan Rina tak sungkan lagi mencubit saya tiap ia membendung tawa atau tak bendung saya goda.

Sebagian kali saat ia mencubit saya bendung tangannya dan ia tampaknya tak keberatan saat walhasil tangan kirinya saya tumpangkan di pahaku dan saya elus-elus lengannya yang tertutup hem lengan panjangnya sambil terus ngobrol.

Kesudahannya ia sadar dan berbisik, “Wachh, kok betah banget ngelus tanganku, entar lengan bajuku jadi kusut lho.

“Habis gemes ngeliat muka manis kau, apalagi bibir tipis kau,” sahutku sambil nyengir.

“Dasar sinting kau,” katanya sambil menyubit pahaku.Serrrrrr…, pahaku berdesir dan si junior seketika bergerak memanjang.

Saya lihat tempat duduk sekelilingku telah kosong sementara suasana gelap malam membikin suasana di dalam bus agak remang-remang. Saya angkat tangan kirinya dan saya cium lembut punggung jarinya. Janda muda berhijab itu cuma tersenyum dan mempererat genggaman tangannya.

Akhhhhh… telah ada lampu hijau pikirku. Kesudahannya saya teruskan kecupan pada punggung jarinya menjadi gigitan kecil dan hisapan lembut dan kuat pada ujung jarinya. Tampaknya ia merasakan sensasi hisapan di jarinya.

Wajahnya yang dihiasi hijab itu kelihatan sendu tampak indah sekali. Dan walhasil ia menyender ke samping pundakku. Saat bus menjelang jalan tol, kegiatan kami meningkat. Tangan kananku telah mengusap payudaranya yang putih berukuran 36 B dari luar kemeja merah mudanya. Terasa padat dan kenyal.

Lalu pelan jemariku membuka kancing kemejanya satu persatu dan menyusup kedalam BH miliknya. Putingnya kian lama kian mengeras dan terasa bertambah panjang sebagian mili. Sementara itu tangannya juga tak tinggal membisu mulai mengelus-ngelus kontolku dari luar.

Sesudah sebagian menit kemudian tiba-tiba sikapnya berubah menjadi liar dan agresif. Ia tarik ritsletingku dan terus merogoh dan meremas kontolku yang telah tegang. Tanganku yang lagi di dadanya ditarik dan diarahkan ke vaginanya.

Saya tak bisa bertingkah banyak sebab posisinya tak menguntungkan sehingga cuma dapat mengelus paha dari luar rok panjangnya saja. Aktifitas kami terhenti kala hampir tiba di tujuan. Dan dengan napas yang masih tersengal-sengal membendung daya seksualitas kami menata baju masing-masing.

Turun dari bus saya bilang ingin anter ia hingga dekat rumahnya. Saya tau kita bakal melalui pinggir jalan tol. Tempat itu sepi dan saya telah merencanakan untuk menyalurkan hasratku di tempat itu.


Tampaknya janda muda berhijab itu juga mempunyai impian yang sama. Saat berjalan, tangan kirikuku merangkul sambil mengelus payudaranya dari luar hem merah muda lengan panjang yang dikenakannya.

Dan saat kita melalui jalan yang sepi hal yang demikian secepat kilat tangan kananku meraih kepalanya yang dibalut hijab merah muda teladan modis dan seketika mengecup dan menggilas bibir tipisnya itu. Dengan kencang pula cewek berhijab itu menyambut bibirku, menghisap dan menyedotnya.

Tangannya seketika beraksi menurunkan ritsleting celanaku dan saya sendiri seketika mengangkat rok panjang teladan ketat miliknya. Rrrretttttt… saya tarik kasar cdnya…, jariku seketika menyelusup masuk ke memeknya terasa hangat dan licin. Ternyata ia benar-benar terstimulasi semenjak di bus tadi. Di tengah deru napasnya Rina berdesah :

“Ayo mas… masukin aja… saya kepengen banget nech. Hhhhhh…”

”Sejenak sayang”, sahutku,

“Kita cari daerah yang aman.”Saya tarik ia melalui pagar pengaman tol dan ditengah rimbun pohon saya senderkan ia dan sesudah menarik rok panjang teladan ketatnya itu hingga sepinggang Lalu buru-buru kuloloskan celana dalamnya kemudian kuangkat kaki kanannya.

Sengaja celana dalamnya kusangkutkan di pergelangan kaki kanan yang kuangkat itu biar celana dalamnya tak dekil meraba tanah. Dengan bernafsu saya buka celanaku dan membimbing kontolku ke memeknya melainkan cukup susah juga.

Kesudahannya ia menasehati kontolku menjelang memeknya. ? Emmhhh…!?, kepala janda muda berhijab merah muda itu mendongak sembari melenguh tatkala ujung kontolku mulai penetrasi kedalam memeknya.

Luar awam, itulah sensasi yang saya rasakan saat kontolku mulai menyeruak menjelang memeknya yang telah dibasahi cairan nafsu. Ditengah deru kendaraan beroda empat yang melintasi jalan tol saya memompa pantatku dengan gerakan perlahan dan menghentak pada dikala menempuh pangkal kontolku. Rina menyambut dengan menggigit pundakku tiap saya menghentak kontolku masuk kedalam memeknya.

“Ooochhhh… auchhhh… Masssss… oochhh…”, desahnya. Libido dan ketegangan bercampur aduk dalam hatiku saat terdengar bunyi orang melintasi jalan dibalik pagar. Tetapi lokasi kami cukup aman sebab gelapnya malam dan terlindung pohon yang cukup lebat.

Malahan mungkin orang yang berjalan itu tak akan berdaya upaya ada sepasang manusia yang cukup sinting untuk ber cinta di pinggir jalan tol hal yang demikian.

“Gantian mas… saya cape”, katanya. Saya langsung duduk menyandar dan perempuan muda berhijab merah muda itu mengendalikan rok panjang yang kusingkap tadi supaya tak jatuh kebawah.

Kemudian Rina mulai berjongkok membimbing memeknya. Saat kontolku kembali menyeruak diantara daging lembut memeknya yang telah licin, sensasi itu kembali menerpa diriku. Sambil mengendalikan bahuku, ia mulai menekan bokongnya dan menggerakan pinggulnya dengan sistem menggesek pelan, maju mundur sambil kadang-kadang memutar.

Kenikmatan itu kembali mendera dan kian tinggi intensitasnya saat saya menolong dengan menekan keatas pinggulku sambil menarik bokongnya.

Desahan suaranya makin keras tiap kali alat vital kami bergesekan, “uchhhhh… ssshhh… uchhhhh…”. Mataku sendiri terpejam merasakan rasa yang tercipta dari friksi bulu alat vital kami sambil terus menggerakkan pinggul mengimbangi gerakannya.

”Terus sayang… ayo terus”, desahku. Peluh telah membasahi punggungnya dan gerakan kami telah mulai melambat tetapi tekanan kian ditingkatkan untuk mengimbangi rasa sedap yang menjalar disekujur tubuh kami dan terus bergerak ke arah pinggul kami, berkumpul dan berpusar di ujung alat vital kami.

Berdetak dan ujung kontolku mulai siap meledak, sementara perempuan berhijab ini mulai mengerang sambil menjepitkan memeknya lebih keras lagi.

“ahhhhh… ahhhhh… ahhhhh… lanjut mas… sorong… sorong terussss… mas… aagghhh… sorong… terus… terussss… ahhhh”, dengan desahan panjang sambil melengak kepalanya yang ditutup hijabnya.

Tia menekan dan menjepit keradds kontolku sementara memeknya terus berdetak-detak. ? Mass…mmhh…oouuccchh…?, pekiknya terbendung sembari menundukkan kepalanya yang berhijab itu tatkala menempuh puncaknya. Saya cuma dapat terdiam sambil memeluk tubuhnya menunggu ia selesai orgasme.

Saat jepitannya mulai mengendur saya seketika bereaksi meneruskan rasa yang tertunda itu, tanpa basa basi rasa sedap itu mulai menghempas kembali, berkumpul dan meledak menyemburkan cairan kenikmatanku ke dalam memeknya.

Saya sodokan kontolku sambil menekan pinggulnya sementara kakiku mengejang merasakan aliran rasa yang menghempas keluar dari tubuhku itu. Sesudah beristirahat sebagian menit kami saling mengamati… walhasil tersenyum dan ngakak.

”Kau memang bener-bener sinting, melainkan jujur saya benar-benar suka bercumbu dengan sistem seperti ini.

Saya belum pernah senikmat ini bercumbu.” akunya. “Hi.. hi.. hi.. cocok donk”, kataku sembari mencium bibir tipis janda muda itu selagi kontolku mulai melembek di dalam memeknya.

Sesudah itu kami menata baju masing dan berkomitmen untuk mengarungi kenikmatan seks ini untuk hari-hari akan datang.