Agen Poker Terpercaya
close

www.3MPOKER1.com Agen Judi Online Terbesar, Terbaik dan Terpercaya. Menyediakan 7 Games 1 ID Menarik Seperti : CEME-KELILING , CAPSA , DOMINO , CEME , OMAHA , SUPER-10 Dan POKER , Bonus Bulanan , Bonus Refferal 10% , Bonus New Member 10% , Bonus harian 5.000 , Bonus Rollingan 0,3 - 0,5% , Support Bank : BCA , BNI , BRI ,CIMB , DANAMON Dan MANDIRI Dan Deposit Via Pulsa XL Dan Telkomsel Dan Ovo Juga Ada .

About

Tampilkan postingan dengan label sange. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sange. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 September 2019

Sensasi Selingkuh Nikmati Tiada Duanya



Cerita Sex - Sebagai pasangan suami istri muda yang baru setahun berumah tangga, kehidupan keluarga kami berjalan dengan tenang, apa adanya dan tanpa masalah. Saya, sebut saja Ratna (23), seorang sarjana ekonomi. Usai tamat kuliah, saya bekerja pada salah satu perusahaan jasa keuangan di Solo. Sebagai wanita, terus terang, saya juga tidak bisa dikatakan tidak menarik. Kulit tubuh saya putih bersih, tinggi 163 cm dan berat 49 kg.

Sementara ukuran bra 34B. Cukup bahenol, kata rekan pria di kantor. Sementara, suami saya juga ganteng. Rio namanya. Umurnya tiga tahun diatas saya atau 26 tahun. Bergelar insinyur, ia berkerja pada perusahaan jasa konstruksi. Rio orangnya pengertian dan sabar.

Karena samasama bekerja, otomatis pertemuan kami lebih banyak setelah sepulang atau sebelum berangkat kerja. Meski begitu, harihari kami lalui dengan baikbaik saja. Setiap akhir pekanbila tidak ada kerja di luar kotaseringkali kami habiskan dengan makan malam di salah satu resto ternama di kota ini. Dan tidak jarang pula, kami menghabiskannya pada sebuah villa di Tawangmangu.

Soal hubungan kami, terutama yang berkaitan dengan malammalam di ranjang juga tidak ada masalah yang berarti. Memang tidak setiap malam. Paling tidak dua kali sepekan, Rio menunaikan tugasnya sebagai suami. Hanya saja, karena suami saya itu sering pulang tengah malam, tentu saja ia tampak capek bila sudah berada di rumah. Bila sudah begitu, saya juga tidak mau terlalu rewel. Juga soal ranjang itu.

Bila Rio sudah berkata, Kita tidur ya, maka saya pun menganggukkan kepala meski saat itu mata saya masih belum mengantuk. Akibatnya, tergolek disamping tubuh suamiyang tidak terlalu kekar itudengan mata yang masih nyalang itu, saya seringentah mengapamenghayal.
Menghayalkan banyak hal. Tentang jabatan di kantor, tentang anak, tentang hari esok dan juga tentang ranjang.

Bila sudah sampai tentang ranjang itu, seringkali pula saya membayangkan saya bergumulan habishabisan di tempat tidur. Seperti cerita Ani atau Indah di kantor, yang setiap pagi selalu punya cerita menarik tentang apa yang mereka perbuat dengan suami mereka pada malamnya.
Tapi sesungguhnya itu hanyalah khayalan menjelang tidur yang menurut saya wajarwajar saja.

Dan saya juga tidak punya pikiran lebih dari itu. Dan mungkin pikiran seperti itu akan terus berjalan bila saja saya tidak bertemu dengan Karyo.
Pria itu seharihari bekerja sebagai polisi dengan pangkat Briptu. Usianya mungkin sudah 50 tahun. Gemuk, perut buncit dan hitam.
Begini ceritanya saya bertemu dengan pria itu. Suatu malam sepulang makan malam di salah satu resto favorit kami, entah mengapa, mobil yang disopiri suami saya menabrak sebuah sepeda motor. Untung tidak terlalu parah betul. Pria yang membawa sepeda motor itu hanya mengalami lecet di siku tangannya. Namun, pria itu marahmarah.

Anda tidak lihat jalan atau bagaimana. Masak menabrak motor saya. Mana suratsurat mobil Anda? Saya ini polisi! bentak pria berkulit hitam itu pada suami saya.

Mungkin karena merasa bersalah atau takut dengan gertakan pria yang mengaku sebagai polisi itu, suami saya segera menyerahkan surat kendaraan dan SIMnya. Kemudian dicapai kesepakatan, suami saya akan memperbaiki semua kerusakan motor itu esok harinya. Sementara motor itu dititipkan pada sebuah bengkel. Pria itu sepertinya masih marah. Ketika Rio menawari untuk mengantar ke rumahnya, ia menolak.
Tidak usah. Saya pakai becak saja, katanya.





Esoknya, Rio sengaja pulang kerja cepat. Setelah menjemput saya di kantor, kami pun pergi ke rumah pria gemuk itu. Rumah pria yang kemudian kami ketahui bernama Karyo itu, berada pada sebuah gang kecil yang tidak memungkinkan mobil Opel Blazer suami saya masuk.

Terpaksalah kami berjalan dan menitipkan mobil di pinggir jalan.
Rumah kontrakan Pak Karyo hanyalah rumah papan. Kecil. Di ruang tamu, kursinya sudah banyak terkelupas, sementara kertas dan koran berserakan di lantai yang tidak pakai karpet.

Ya beginilah rumah saya. Saya sendiri tinggal di sini. Jadi, tidak ada yang membersihkan, kata Karyo yang hanya pakai singlet dan kain sarung.
Setelah berbasa basi dan minta maaf, Rio mengatakan kalau sepeda motor Pak Karyo sudah diserahkan anak buahnya ke salah satu bengkel besar. Dan akan siap dalam dua atau tiga hari mendatang. Sepanjang Rio bercerita, Pak Karyo tampak cuek saja. Ia menaikkan satu kaki ke atas kursi. Sesekali ia menyeruput secangkir kopi yang ada di atas meja.
Oh begitu ya. Tidak masalah, katanya.

Saya tahu, beberapa kali ia melirikkan matanya ke saya yang duduk di sebelah kiri. Tapi saya purapura tidak tahu. Memandang Pak Karyo, saya bergidik juga. Badannya besar meski ia juga tidak terlalu tinggi. Lengan tangannya tampak kokoh berisi. Sementara dadanya yang hitam membusung. Dari balik kaosnya yang sudah kusam itu tampak dadanya yang berbulu. Jari tangannya seperti besi yang bengkokbengkok, kasar.
Karyo kemudian bercerita kalau ia sudah puluhan tahun bertugas dan tiga tahun lagi akan pensiun. Sudah hampir tujuh tahun bercerai dengan istrinya. Dua orang anaknya sudah berumah tangga, sedangkan yang bungsu sekolah di Bandung. Ia tidak bercerita mengapa pisah dengan istrinya.
Pertemuan kedua, di kantor polisi. Setelah beberapa hari sebelumnya saya habis ditodong saat berhenti di sebuah perempatan lampu merah, saya diminta datang ke kantor polisi. Saya kemudian diberi tahu anggota polisi kalau penodong saya itu sudah tertangkap, tetapi barangbarang berharga dan HP saya sudah tidak ada lagi. Sudah dijual si penodong.

Saat mau pulang, saya hampir bertabrakan dengan Pak Karyo di koridor kantor Polsek itu. Tibatiba saja ada orang di depan saya. Saya pun kaget dan berusaha mengelak. Karena buruburu saya menginjak pinggiran jalan beton dan terpeleset. Pria yang kemudian saya ketahui Pak Karyo itu segera menyambar lengan saya. Akibatnya, tubuh saya yang hampir jatuh, menjadi terpuruk dalam pagutan Pak Karyo.

Saya merasa berada dalam dekapan tubuh yang kuat dan besar. Dada saya terasa lengket dengan dadanya. Sesaat saya merasakan getaran itu. Tapi tak lama.

Makanya, jalannya itu hatihati. Bisabisa jatuh masuk got itu, katanya seraya melepaskan saya dari pelukannya. Saya hanya bisa tersenyum masam sambil bilang terimakasih.

Ketika Pak Karyo kemudian menawari minum di kantin, saya pun tidak punya alasan untuk menolaknya. Sambil minum ia banyak bercerita. Tentang motornya yang sudah baik, tentang istri yang minta cerai, tentang dirinya yang disebut orangorang suka menanggu istri orang. Saya hanya diam mendengarkan ceritanya.

Mungkin karena seringkali diam bila bertemu dan ia pun makin punya keberanian, Pak Karyo itu kemudian malah sering datang ke rumah.
Datang hanya untuk bercerita. Atau menanyai soal rumah kami yang tidak punya penjaga. Atau tentang hal lain yang semua itu, saya rasakan, hanya sekesar untuk bisa bertemu dengan berdekatan dengan saya. Tapi semua itu setahu suami saya lho. Bahkan, tidak jarang pula Rio terlibat permainan catur yang mengasyikkan dengan Pak Karyo bila ia datang pas ada Rio di rumah.

Ketika suatu kali, suami saya ke Jakarta karena ada urusan pekerjaan, Pak Karyo malah menawarkan diri untuk menjaga rumah. Rio, yang paling tidak selama sepakan di Jakarta, tentu saja gembira dengan tawaran itu. Dan saya pun merasa tidak punya alasan untuk menolak.

Meski sedikit kasar, tapi Pak Karyo itu suka sekali bercerita dan juga nanyananya. Dan karena kemudian sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri, saya pun tidak pula sungkan untuk berceritanya dengannya. Apalagi, keluarga saya tidak ada yang berada di Solo. Sekali waktu, saya keceplosan. Saya ceritakan soal desakan ibu mertua agar saya segera punya anak. Dan ini mendapat perhatian besar Pak Karyo. Ia antusias sekali. Matanya tampak berkilau.

Oh ya. Ah, kalau yang itu mungkin saya bisa bantu, katanya. Ia makin mendekat.

Bagaimana caranya? tanya saya bingung.
Mudahmudahan saya bisa bantu. Datanglah ke rumah. Saya beri obat dan sedikit diurut, kata Pak Karyo pula.

Dengan pikiran lurus, setelah sebelumnya saya memberitahu Rio, saya pun pergi ke rumah Pak Karyo. Sore hari saya datang. Saat saya datang, ia juga masih pakai kain sarung dan singlet. Saya lihat matanya berkilat. Pak Karyo kemudian mengatakan bahwa pengobatan yang didapatkannya melalui kakeknya, dilakukan dengan pemijatan di bagian perut. Paling tidak tujuh kali pemijatan, katanya.

Setelah itu baru diberi obat. Saya hanya diam.
Sekarang saja kita mulai pengobatannya, ujarnya seraya membawa saya masuk kamarnya. Kamarnya kecil dan pengap. Jendela kecil di samping ranjang tidak terbuka. Sementara ranjang kayu hanya beralaskan kasur yang sudah menipis.

Pak Karyo kemudian memberikan kain sarung. Ia menyuruh saya untuk membuka kulot biru tua yang saya pakai. Risih juga membuka pakaian di depan pria tua itu.

Gantilah, katanya ketika melihat saya masih bengong.
Inilah pertama kali saya ganti pakaian di dekat pria yang bukan suami saya. Di atas ranjang kayu itu saya disuruh berbaring.
Maaf ya, katanya ketika tangannya mulai menekan perut saya.
Terasa sekali jarijari tangan yang kasar dan keras itu di perut saya. Ia menyibak bagian bawah baju. Jari tangannya menarinari di seputar perut saya. Bandar Judi


Sesekali jari tangannya menyentuh pinggir lipatan paha saya. Saya melihat gerakannya dengan nafas tertahan. Saya berasa bersalah dengan Rio.
Ini dilepas saja, katanya sambil menarik CD saya. Oops! Saya kaget.
Ya, mengganggu kalau tidak dilepas, katanya pula.
Tanpa menunggu persetujuan saya, Par Karyo menggeser bagian atasnya. Saya merasakan bulubulu vagina saya tersentuh tangannya. CD saya pun merosot.

Meski ingin menolak, tapi suara saya tidak keluar. Tangan saya pun terasa berat untuk menahan tangannya.
Tanpa bicara, Pak Karyo kembali melanjutkan pijatannya. Jari tangan yang kasar kembali bergerilya di bagian perut. Kedua paha saya yang masih rapat dipisahkannya. Tangannya kemudian memijati pinggiran daerah sensitif saya. Tangan itu bolak balik di sana. Sesekali tangan kasar itu menyentuh daerah klitoris saya. Saya rasa ada getaran yang menghentakhentak. Dari mulut saya yang tertutup, terdengar hembusan nafas yang berat, Pak Karyo makin bersemangat.

Ada yang tidak beres di bagian peranakan kamu, katanya.
Satu tangannya berada di perut, sementara yang lainnya mengusap gundukan yang ditumbuhi sedikit bulu. Tangannya berputarputar di selangkang saya itu. Saya merasakan ada kenikmatan di sana. Saya merasakan bibir vagina saya pun sudah basah. Kepala saya miring ke kiri dan ke kanan menahan gejolak yang tidak tertahankan.

Tangan kanan Pak Karyo makin berani. Jarijari mulai memasuki pinggir liang vagina saya. Ia mengocokngocok. Kaki saya menerjang menahan gairah yang melanda. Tangan saya yang mencoba menahan tangannya malah dibawanya untuk meremas payudara saya. Meski tidak membuka BH, namun remasan tangannya mampu membuat panyudara saya mengeras. Uh, saya tidak tahu kalau kain sarung yang saya pakai sudah merosot hingga ujung kaki. CD juga sudah tanggal. Yang saya tahu hanyalah lidah Pak Karyo sudah menjilati selangkang saya yang sudah membanjir. Terdengar suara kecipak becek yang diselingi nafas memburu Pak Karyo.

Ini permainan yang baru yang pertama kali saya rasaran. Rio, suami saya, bahkan tidak pernah menyentuh daerah pribadiku dengan mulutnya.
Tapi, jilatan Pak Karyo benarbenar membuat dada saya turun naik. Kaki saya yang menerjang kemudian digumulnya dengan kuat, lalu dibawanya ke atas. Sementara kepalanya masih terbenam di selangkangan saya.



Benarbenar sensasi yang sangat mengasyikan. Dan saya pun tidak sadar kalau kemudian, tubuh saya mengeras, mengejang, lalu ada yang panas mengalir di vagina saya. Aduh, saya orgasme! Tubuh saya melemas, tulangtulang ini terasa terlepas. Saya lihat Pak Karyo menjilati rembesan yang mengalir dari vagina. Lalu ditelannya. Bibirnya belepotan air kenikmatan itu. Singletnya pun basah oleh keringat. Saya memejamkan mata, sambil meredakan nafas. Sungguh, permainan yang belum pernah saya alami. Pak Karyo naik ke atas ranjang.
Kita lanjutkan, katanya.

Saya disuruhnya telungkup. Tangannya kembali merabai punggung saya. Mulai dari pundah. Lalu terus ke bagian pinggang. Dan ketika tangan itu berada di atas pantat saya, Pak Karyo mulai melenguh. Jari tangannya turun naik di antara anus dan vagina. Berjalan dengan lambat. Ketika pas di lubang anus, jarinya berhenti dengan sedikit menekan. Wow, sangat mengasyikan. Tulangtulang terasa mengejang. Terus terang, saya menikmatinya dengan mata terpejam.

Bila kemudian, terasa benda bulat hangat yang menusuknusuk di antara lipatan pantat, saya hanya bisa melenguh. Itu yang saya tunggutunggu.
Saya rasakan benda itu sangat keras. Benar. Saat saya berbalik, saya lihat kontol Pak Karyo itu. Besar dan hitam. Tampak jelas uraturatnya. Bulunya pun menghitam lebat.

Mulut saya sampai ternganga ketika ujung kontol Pak Karyo mulai menyentuh bibir vagina saya. Perlahan ujungnya masuk. Terasa sempit di vagina saya. Pak Karyo pun menekan dengan perlahan. Ia mengoyangnya. Bibir vagina saya seperti ikut bergoyang keluar masuk mengikuti goyangan kontol Pak Karyo. Hampir sepuluh menit Pak Karyo asik dengan goyangannya. Saya pun meladeni dengan goyangan. Tubuh kami yang sudah samasama telanjang, basah dengan keringat. Kuat juga stamina Pak Karyo. Belum tampak tandatanda itunya akan menembak.

Padahal, saya sudah kembali merasakan ujung vagina saya memanas. Tubuh saya mengejang. Dengan sedikit sentakan, maka muncratlah. Berkalikali. Orgasme yang kedua ini benarbenar terasa memabukkan. Liang vagina saya makin membanjir. Tubuh saya kehilangan tenaga. Saya terkapar.
Saya hanya bisa diam saja ketika Pak Karyo masih menggoyang. Beberapa saat kemudian, baru itu sampai pada puncaknya. Ia menghentak dengan kuat.

Kakinya menegang. Dengan makin menekan, ia pun memuntahkan seluruh spermanya di dalam vagina saya. Saya tidak kuasa menolaknya. Tubuh besar hitam itu pun ambruk diatas tubuh saya. Luar biasa permainan polisi yang hampir pensiun itu. Apalagi dibandingkan dengan permainan Rio.
Sejak saat itu, saya pun ketagihan dengan permainan Pak Karyo. Kami masih sering melakukannya. Kalau tidak di rumahnya, kami juga nginap di Tawangmangu. Meski, kemudian Pak Karyo juga sering minta duit, saya tidak merasa membeli kepuasan syahwat kepadanya. Semua itu saya lakukan, tanpa setahu Rio. Dan saya yakin Rio juga tidak tahu samasekali. Saya merasa berdosa padanya. Tapi, entah mengapa, saya juga butuh belaian keras Pak Karyo itu. Entah sampai kapan


Jumat, 16 Agustus 2019

BETAPA NIKMATNYA MEMEK PERAWAN YANG KUPEROLEH DARI PEMBANTU MUDA



Cerita Sex - Aku berdiri dan mencari celanaku karena suasana gelap aku menghidupkan lampu. Saat lampu menyala ada suara seorang wanita menjerit, ternyata seorang perempuan masih remaja umurnya sekitar 15 tahun, dia kaget mungkin karena melihatku telanjang bulat, aku menutup mulutku dengan jariku, maksudnya menyuruhnya diam.
Kudekati dia, kujelaskan bahwa aku temannya Mbak Kristin, semalam aku menginap disini, diapun memahami dan memberitahuku bahwa dia spontan kaget karena belum pernah melihat pria dewasa telanjang, katanya dia adalah pembantunya Mbak Kristin, namanya Ulfa. Ulfa tidak sekolah semenjak lulus SMP, dia ikut Mbak Kristin baru sekitar 3 bulan. Aku Tanya dia kenapa kaget melihat aku telanjang memangnya belum pernah punya pacar. Dia mengaku sudah punya pacar tapi belum pernah melihatnya telanjang.
Kutanya lagi, terus kalau pacaran ngapain, jawabnya jujur katanya pernah ciuman dan diraba-raba susunya oleh pacarnya, tapi belum pernah sampai telanjang bulat. Ah berarti masih perawan? Dia menganggukkan kepala dengan malu-malu. Kuperhatikan matanya sedikit melirik ke arah kontolku tapi masih malu-malu. Aku pura-pura tidak tahu dan cuek saja serta sengaja tidak segera mengenakan celanaku. Aku masih telanjang bulat dan memintanya untuk mengambilkan celanaku, aku duduk di ruang makan yang hanya berbatas sebuah bifet dari ruang tamu.
Dia membawakan pakaianku dan perlahan aku ambil celana dalamku aku sengaja memakainya di depan Ulfa. Dia melewatiku menuju ke dapur sambil melirik ke arah kontolku lagi. Dia tidak melihat di depannya ada baju dan celanaku, dia tersandung gesperku dan tertanting ingin jatuh, aku langsung menangkap tangannya, dan menarik tubuhnya hingga aku sendiri hampir saja ikut jatuh. Dengan kondisi itu tak sengaja kami sedikit berpelukan, wajahnya dan wajahku dekat sekali, aku ingin menciumnya tapi masih takut.
Kulepaskan pelan tubuhnya dia menyempurnakan berdirinya aku juga, tapi tak sengaja tangannya menyentuh kontolku, dia minta maaf, aku tersenyum dan malah menyuruhnya menyentuh lagi, dia tersipu malu, aku mengambil tangannya dan kuarahkan ke kontolku, ayolah Ulfa, ga papa, ga usah malu, katanya kamu belum pernah lihat kontol kan? Sekarang kamu boleh pegang sepuasnya, dia malu dan menutup matanya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya dengan malu memegang kontolku.
Akupun merasa nikmat disentuh oleh tangan seorang ABG, kuarahkan tangannya maju mundur mengurut kontolku, kuajari dia cara mengocok kontolku. Dia kemudian terus mengurut-urut kontolku perlahan tapi malu untuk melihatnya, tapi biarlah yang penting aku merasakan nikmatnya diurut sama tangan yang masih halus, meski pembantu tapi dia lumayan cantik, mungkin kalau dia anak orang kaya dan terawat rajin ke salon, wajahnya tak kalah cantik dibanding asmirandah. Kulitnya kuning langsat, bersih, dadanya besar untuk ukuran anak remaja, pantatnya juga seksi dan montok. –
Kulihat dia sepertinya menikmati untuk terus mengurut-urut penisku, sekarang dia mulai tidak malu melihat kontolku, tangan kiri yang tadinya buat menutup matanya, kini kutarik ke leherku. Sehingga kamipun semakin berdekatan, kutarik pinggulnya kudekatkan tubuhnya ke tubuhku, dadanya menyentuh dadaku, jantungnya berdebar, dia sepertinya agak takut. Kubisikkan ke telinganya, ke kamarmu yuk, ga enak kalau disini entar Mbak Kristin bangun, entar aku ajarin yang lebih enak. Tanpa banyak protes, dia berjalan menuju kamarnya aku mengikutinya dari belakang, kuperhatikan bokongnya yang begitu sintal, pahanya yang begitu mulus nampak terlihat karena dia mengenakan baju tidur terusan dan panjang roknya di atas lutut. Warnanya juga transaparan dan tipis sehingga tali BHnya dan juga celana dalamnya samar-samar terlihat.





Sesampai di kamarnya kututup pintu dan aku kunci dari dalam. Aku menyandarkan tubuhku di depan pintu kutarik tubuhnya dan kembali kuambil tangannya untuk terus mengocok-ngocok kontolku, kini tubuhnya bersandar di tubuhku, sambil terus mengocok kontolku, tapi gerakan mengocoknya masih sangat pelan dan lembut, mungkin karena baru pertama tapi aku malah menikmatinya.

Tolong diemut dong kontolku, dia menggelengkan kepala, kupegang kepalanya dan kududukkan di depanku, kuarahkan kontolku ke mulutnya, kutekan pipinya agar mulutnya terbuka dan perlahan kumasukkan kontolku ke dalam mulutnya, dia masih terlihat risih dan malu, tapi beberapa saat kontolku sempat masuk juga dalam mulutnya meski sebentar, tapi aku gak mau memaksa karena ini pengalaman pertama baginya. Kutarik tubuhnya dan kupeluk erat, kemudian perlahan kucium bibirnya, dia cantik juga meski pembantu aku tidak risih mencium bibirnya, karena menurutku Ulfa cantik juga dan aku beruntung seandainya Ulfa mau aku entot, soalnya dia masih perawan.

Kupeluk tubuhnya erat, dan kuciumi bibirnya sementara tanganku mulai aktif menggerayang ke pantatnya, dari belakang kuangkat dasternya, sehingga aku menemukan lipatan celana dalamnya, kuselipkan tanganku dan kuremas-remas pantatnya, tangannya menahan tanganku, tapi aku cuek saja sambil terus meremas-remas pantatnya, perlahan kuturunkan celana dalamnya sambil terus kuremas dan kutarik pantatnya ke depan, sehingga kontolku sekarang bersentuhan dengan memeknya, tangannya berhenti mengocok kontolku kemudian memegang pinggulku, kutarik tangannya ke atas leherku agar tidak mengganggu kontolku yang sedang menyentuhnya memeknya yang mulai terasa hangat, kuangkat tubuhnya dengan sedikit kugendong, sehingga kontolku tepat berada di depan lubang memeknya, kugesek-gesekkan kontolku ke memeknya, kudorong dia hingga sebelah tempat tidur, dan kurebahkan dia di atas kasur sekalian aku menindihnya, kugesek-gesekkan semakin cepat kontolku, dia terpejam, kunaikkan dasternya ke atas hingga terbuka kedua belah dadanya, kulepas BHnya, dan kulum-kulum putingnya, Ulfa diam dan terus memejamkan matanya.



Aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu, takut terlalu lama pemanasan malah nanti Ulfa sadar dan berhenti melayani nafsu bejatku, aku langsung membuka pahanya lebar-lebar, kulihat vaginanya yang mungil terlihat hanya seperti daging dengan garis tipis di bagian tengah, tidak ada rambut sama sekali, itilnya juga belum nampak keluar, kuarahkan kontolku ke pintu memeknya, kugesek-gesek dengan bantuan tanganku sambil mencari lubang senggamanya, setelah ketemu kudorong kontolku masuk ke dalam, tapi susah kutarik lagi dan kudorong pelan lagi, kini kepala kontolku sudah mulai masuk ke memek Ulfa, kukeluarkan pelan dan coba kudorong lebih ke dalam lagi, Ulfa memelukku erat dan minta kepadaku untuk pelan-pelan, sakit katanya. – Cerita Seks Ngentot –

Kukeluarkan lagi perlahan dan coba kumasukkan lagi, tapi memang memeknya kecil dan sempit, tapi kontolku sudah merasakan sedikit kehangatan, kugoyangkan pantatkan naik kemudian turun sehingga kontolku sudah agak lebih ke dalam lagi, sepertinya kontolku menyentuh sesuatu, mungkin ini selaput dara, aku semakin hati-hati menggoyangkan pantatku, kasihan kalau Ulfa kesakitan, kemudian aku mengeluarkan kontolku.

Aku ambil bantal di samping Ulfa kuletakkan di bawah pantat Ulfa, dengan posisi seperti ini perut dan memek Ulfa terangkat naik, ini akan membantuku memasukkan penisku jauh lebih dalam di dinding memek Ulfa, kembali kuarahkan batang penisku ke memek Ulfa, kumasukkan setengah dan menyentuh lagi selaput dara yang tadi belum berhasil kutembus, kudorong lebih dalam dengan hati-hati, tubuh Ulfa menegang kedua tangannya menggenggam erat ujung bantal, matanya terpejam seperti menahan sakit.

Ku beri tenaga sedikit dibantu dorongan pantatku, dan slep… aku berhasil menembus selaput dara Ulfa, dan kontolku merasakan sensasi dari kehangatan yang luar biasa, aku berhasil menembus benteng pertahanan dari dinding vagina Ulfa. ah… benar-benar nikmat, aku kemudian mengocok-ngocok kontolku keluar masuk vagina Ulfa, dinding vagina yang begitu sempit membuat kontolku mendapatkan kenikmatan yang begitu hebat, kulihat Ulfa mengeluarkan air mata, mungkin karena tadi merasakan sakit, tapi sekarang dia mulai ikut sedikit menggoyangkan pantatnya, oh dia sudah menikmati permainanku. Tiba-tiba ohhhh….

Ternyata memek perawan ini membuat benteng pertahananku tidak terbendung, hanya beberapa menit berada di dalam memek Ulfa spermaku sudah mau keluar, secepatnya kutarik kontolku dan kugesek-gesekkan di paha Ulfa yang mulus, kugesek-gesek terus dan ohhhh spermaku muncrat juga….

Croootttt….. ohhhhh nikmat sekali, aku puas sekali malam ini, aku telah berhasil merenggut keperawanan Ulfa, memek nya nikmat sekali, ahhhh terima kasih Ulfa. aku kembali mengenakan pakaianku, kulihat Ulfa masih terdiam terkapar lemas tak berdaya, perlahan aku keluar dari kamar, dan melanjutkan tidur lagi di atas sofa, takut mbak Kristin besok pagi terbangun, kalau aku masih di kamar Ulfa, wah apa kata dunia?

Kutarik selimutku dan kembali tidur, tapi aku membayangkan betapa nikmatnya memek perawan, oh terima kasih Ulfa.



NGENTOT SELINGKUH PACAR TEMAN KOST



Cerita Sex - Selingkuh ¦ Kira kira setahun yang kemudian aku yang bermukim di kota malang pergi ke Surabaya di lokasi tinggal teman ku yang telah lama tak jumpa, sebelum aku singgah di lokasi tinggal temanku yang mana dari semenjak kecil kami sudah laksana keluarga sendiri aku berkeliling sendiri di kota Surabaya, setelah berlalu aku langsung menujku ke rumahnya mas Mahen, saat tersebut dia masih semester 6 dan adiknya ruang belajar SMA, di lokasi tinggal ini aku laksana keluarganya dengan di sambut oleh kedua orang tuanya juga.

Ngentot Selingkuh Pacar Teman Kost – Cerita Seks Selingkuh ¦ Oya tak sempat untuk mengenalkan diriku , perkenalkan namaku Yoni, sebuah hari aku disuruh mas Mahen guna jalan jalan tak taunya mas mahen menyuruh pacaranya yang kostnya pun gak jauh dari rumahnya namanya mitha, dia cantik dengan memiliki pantat yang besar asik pun sih orangnya dengan tinggi badan 167 cm berat badan barangkali 46an kg menciptakan dia semakin seksi ialah tonjolan di toketnya yang ukurannya jumbo, mas mahen dan mba mitha duduk di depan sementara aku duduk di bagaian tengah meraka asyk ngobrol sementara akuhanya di cuekin saja , dari keliling mall hingga makan, lantas kami kembali ke kosnya mba mitha.

Ngentot Selingkuh Pacar Teman Kost – Cerita Seks Selingkuh ¦ Setelah memakirkan mobilnya di lokasi kost kami bertiga langsung masuk ke kamar mba mitha, ketika aku masuk di kost kostnya sempat bingung ini kost atau kandang banci, soalnya ada pun banci banci yang menggoda diriku ah sudahlah lantas aku masuk ke dalam kamarnya dan di setelkan film yang mana filmnya semi seraya aku menyaksikan mas mahen dan mba mitha bermesraan di sebelahku, rupanya mba mitha di kamar tidak bermukim sendirian terdapat adiknya pun yang sempat aku kenalan namanya Rika.

Rika tak lain jauh dari kakaknya dari warna kulit dan rambut juga nyaris sama tapi guna bagian pantat dan toketnya masih lebih hebat mba mitha yang besar dan montok, namun di Rika tersebut termasuk pecandu cerutu yang berat dari tadi dia menghisap cerutu terus meski dia batuk batuk, sesudah filmnya berlalu aku mematikan televisinya dan langsung mas mahen berkata, Yon anda keluar sebentrar sama rika dong..??

Hmmm mas mahen telah ku rasakan dia sange sama pacaranya mengajak aku untuk terbit dan membual di ruang tengah, tapi ketika aku terbit dari pintu kamar kulihat rika sedang ngobrol ngobrol dengan seorang banci dan aku merasa jijik gak inginkan ikut dalam obrolannya lantas aku masuk lagi ke kamar

“lha kok masuk lagi yon, sana deh sebentar mas??
“gak inginkan mas sana terdapat banci dan aku malas guna kesana, udah deh mas aku disini saja dan gak akan lihat toh aku telah biasa untuk menyaksikan gituan, (agar meyakinkan dia), sesudah meyakinkan dia dengan debatanku kesudahannya aku diijinkan guna masuk kedalam dengan kriteriaa tidak boleh bilang sama orangtuanya , lantas aku kunci pintu kamarnya terus bersandar sambil membungkuk dengan hati yang bergembira.

Ngentot Selingkuh Pacar Teman Kost – Cerita Seks Selingkuh ¦ Mas mahen mulai menanggalkan pakaiannya dan tiduran sementara mba mitha mencumbu dia dari atas menciumi wajahnya , kulihat mas mahen melulu diam saja, dengan mata merem melek dia mengelus ngusap pinggungnya wajah mba mitha menoleh ke arahku meyakinkan bila aku terangsang atau tidak, ya jelas terangsang lah, masak melihat urusan itu sebagai laki laki normal gak terangsang.

Ngentot Selingkuh Pacar Teman Kost – Cerita Seks Selingkuh ¦ Apalagi di tambah dengan tadi menyaksikan film hot dan mba mitha sangat berpengalaman dengan ciumannya , mereka barangkali sering melakukan urusan itu karena sudah berpengalaman ahli , mulut mba mitha menciumi mulut mas mahen, dan tersebut jelas sekali sebab jarak dia dan aku melulu 5 tekel saja.

Ehmmm hmm dia mendesah desah, mendengar desahannya semakin membuatku semakin tegang, mba mitha mulai turun ciumannya mengarah ke ke lehernya saat tersebut mas mahen sedang memakai baju di singkapkan kerah bajunya terus menciumi hingga ke bawah, mas mahen mendesah “ahhh ahhh sayang enak sayang terusin sayang, rasanya hendak juga di ciumi oleh mba mitha namun aku masih dapat menahan diriku dan bersandar di belakang pintu.

Uhhh sstttt ahhhh mas mahen terus mendesah sebab ciumannya semakin turun mengarah ke ke perut dan di jilatinya , aku semakin terangsang dengan gerakan mba mitha, semakin turun semakin mengarah ke kea rah selakangannya di pegang reselting celana mas mahen terus di lepaskan tadinya pelan pelan terus dengan kencang secara mas mahen langsung kaget mendengar resletingnya dimulai dengan cepat, rambut mba mitha di elus elus dengan wajah mas mahen merem melek, tangan mba mitha mulai memegang batang kemaluannya dari celana dalam seraya di elus elusnya “sttt sttt ahhh” sesudah semakin tegang kontolnya tangan mba mitha masuk ke dalam celana dalam dan menerbitkan kontolnya yang tegang.

Setelah terbit dari celana dalamnya mulut mba mitha langsugng mengulum kontol mulai dari jilatan di kepala kontol terus di masukkan ke dalam mulutnya wajah mba mitha merasakan naik turun kepalanya seraya di pegangi oleh mas mahen, sialnya lagi aku melihat tersebut semakin pingin aku remas remas sendiri kontolku dengan masih bersandar di belakang pintu aku bingung mesti bagaiamana menyaksikan situasi laksana ini, kira kira dari 5 menitan mba mitha menyudahi kuluman kontol dan belum menerbitkan spermanya, “sekarang gantian sayang” mas mahen berdiri dan menanggalkan semua celananya gantian mba mitha kini terlentang di kasur.

Ngentot Selingkuh Pacar Teman Kost – Cerita Seks Selingkuh ¦ Mas mahen gantian mengerjakan apa yang dilaksanakan oleh mba mitha, mulai mas mahen menciumi bibir hanya Mas Mahen menciumnya dengan stabil, pelan terus, bertolak belakang dengan Mitha yang style seksnya aku akui cukup unik. “Hmmh.., mymmynm..”, Sayang Mas Mahen kelihatannya tidak profesional, teknik menciumnya meski pelan, terlampau tergesa mengarah ke ke bawah.

Ngentot Selingkuh Pacar Teman Kost – Cerita Seks Selingkuh ¦ Mitha mencoba mencungkil t-shirt Mas Mahen, kemudian Mas Mahen langsung melepasnya dan menempatkan di sebelahnya. Mas Mahenpun mulai menciumi leher Mitha. Sementara tangannya meraba-raba payudara Mitha yang aduhai,

“Hmhmhhm.., Hmhmhmh..” Mereka berdua terus mendesah keenakan. Aduh, pemandangan yang lumayan menggelikan sekaligus menggairahkan tersebut benar-benar membuatku kewalahan pada diriku sendiri, diam-diam aku mulai mencungkil t-shirt yang kupakai dan menggerayangi tubuhku sendiri.

Ngentot Selingkuh Pacar Teman Kost – Cerita Seks Selingkuh ¦ Mas Mahen mulai tidak sabar dan langsung mencopoti kancing demi kancing yang terdapat di kemeja yang dikenakan Mitha. Tersembullah payudara Mitha yang begitu aduhai, putih mulus sekali laksana payudara Chinese, Mitha segera mengusung punggungnya, kemudian Mas Mahen menanggalkan kancing BH-nya yang berwarna krem. Wah.., payudara Mitha benar-benar besar dan menggairahkan dengan puting susunya yang tebal dan berwarna coklat tua. “Ahh.., Hmm.., Hmm..”, Mereka berdua saling melenguh masing-masing kali Mas Mahen memainkan lidahnya di atas payudara dan puting susu Mitha.


“Hmmh.., Hmhh..”, Setelah puas melumat puting susu Mitha bergantian, Mas Mahen kesudahannya menjilati perut Mitha dan hendak melepaskan roknya. Mitha mengusung pantatnya, kemudian Mas Mahen membuka risleting roknya dan pelan-pelan mencungkil rok yang digunakan Mitha. Setelah hingga di lutut, Mas Mahen berhenti dan langsung menciumi kemaluan Mitha yang masih tertutup celana dalam tersebut dengan cepat dan ganas.

“Ahh.., Ahh..”, Mitha merintih dan mendesah keras keenakan. Aku yang semenjak tadi terangsang menjadi semakin terangsang mendengar desahan Mitha yang paling menggairahkan, membuatku tidak tahan dan mulai memegangi kemaluanku sendiri, menggesek-gesekkannya dengan tanganku.

Akhirnya Mas Mahen mencungkil celana dalam Mitha dan langsung menciumi kemaluannya dengan buas sekali. Rambut di kemaluan Mitha lumayan tipis, sehingga mempermudah Mas Mahen menjilatinya sepuasnya. Sesekali kudengar “Slurrp.., slurrp..”, kelihatannya Mas Mahen suka sekali menyedot kemaluan Mitha. “Ahh.., Zan.., Ahh.., Zan.., Enak Zan..”, desahan Mitha semakin keras saja sebab merasa nikmat, seakan tidak peduli bila terdengar orang di luar.

Tidak berapa lama kemudian, Mas Mahen berhenti kemudian bertanya, “Yen, boleh sekarang?” Sambil tetap merem, Mitha hanya tersenyum dan mengangguk.

“Pelan-pelan yach..”, bisik Mitha mesra. Kemudian Mas Mahen memasukkan penisnya ke dalam kemaluan Mitha,
“Uh.., uhh.., Ahh..”, Sedikit kendala yang mereka hadapi, kini Mas Mahen telah mulai asyik menggesek-gesekkan penisnya dalam vagina Mitha.
“Ahh.., ahh.., aduh.., ahh..”, Mereka berdua saling mendesah seraya terus melanjutkan permainannya. Mitha masih tetap dengan stylenya, kadang menarikan pinggulnya pelan-pelan, kemudian cepat, pelan lagi.
“Ahh.., Ahh.., Ahh..”, Mas Mahen memaju-mundurkan badannya pelan-pelan sementara Mitha asyik menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan tempo yang tidak beraturan. Aku jadi semakin tidak tahan menyaksikan apa yang mereka lakukan, aku segera berjalan mengarah ke kamar mandi, langsung kulepas celana panjang dan celana dalamku dan kugesek-gesek kemaluanku sendiri cepat-cepat.
“Ahh.., Hmmh.., Ahh..”, Aku mendesah-desah kecil dengan apa yang kulakukan terhadap diriku sendiri. Lalu.., “aahh..”, Aku orgasme, spermaku semuanya terjatuh di lantai kamar mandi. Tubuhku rasanya nikmat sekali sejumlah saat, kemudian terasa lemas dan kelihatannya aku merasa bersalah sudah melakukannya. Aku segera mengguyur ceceran sperma di lantai kamar mandi, melepas semua bajuku dan mandi.

Setelah segar, aku nyaris tidak percaya waktu terbit ternyata mereka tetap saja bermesraan bersetubuh. Aku langsung berjalan terbit kamar, sementara mereka tidak menghiraukanku sama sekali, benar-benar gila..!

Di luar, aku duduk-duduk saja di ruang tamu seraya ngobrol dengan Rikha dan teman-temannya yang kebetulan ciban semua. Mereka menawariku cerutu tapi aku tolak. Setelah sejumlah menit mengerjakan percakapan yang menjemukan dan buat mual, aku cuek saja dan asyik menyaksikan TV, sambil menantikan Mas Mahen dan Mitha selesai mengerjakan aktivitasnya. Menit demi menit berlalu, gila.., lama sekali.

Sekitar satu jam kemudian, muncullah mereka berdua dari pintu kamar Mitha. kisah ngentot perawan

“Gilaa..”, pikirku, lama sekali mereka begituan. Mas Mahen dan Mitha tersenyum geli kesatu kali melihatku, barangkali mereka memandang tingkahku di dalam kamar tadi lucu, kemudian Mas Mahen bertanya.
“yon, anda mau ikut renang?”.
“Mau sich.., namun aku tidak bawa celana renang tuch..”, jawabku agak kecewa.
“Tidak pa-pa kok, ntar kita dapat pinjam celana renang di sana..”.

Ngentot Selingkuh Pacar Teman Kost – Cerita Seks Selingkuh ¦ Ya sudah, kesudahannya jadi dech.., Setelah berpamitan, Mas Mahen dan aku pulang. Di lokasi tinggal kami langsung mempersiapkan segala keperluan renangnya.

Jam mengindikasikan sekitar pukul 16.30, kami bersiap pergi. Tepat masa-masa Mas Mahen berkeinginan menyalakan mobil, terdapat suara teriakan.

Ternyata sepupu Mas Mahen, “Mobilnya inginkan dibawa papanya lho..”, katanya.

“Sial!” gerutu Mas Mahen. Terus kesudahannya Mas Mahen telepon taksi, sejumlah menit lantas datang, kemudian kami ke lokasi kos Mitha dulu guna menjemput Mitha. Eh, ternyata tidak melulu Mitha yang ikut, namun adiknya, Rikha, disuruh serta.
Aku tanya pada Rikha, “Lho, kok anda ikut, katanya sakit tenggorokan. Nanti ikut renang?”.
“Iya dong.., tidak Papa, nemenin Mitha nich..” jawabnya enteng. Wah, nekat pun ini anak, pikirku.

Ngentot Selingkuh Pacar Teman Kost – Cerita Seks Selingkuh ¦ Taksi kami langsung meluncur ke Graha Residen, di sana ada empang renangnya yang lumayan besar dan ramai, termasuk semua turis. Mitha, Rikha, dan aku yang belum dapat berenang hanya berputar-putar saja di pinggiran, sementara Mas Mahen berkelana ke sana ke ayo dengan bebasnya.



Ngentot Selingkuh Pacar Teman Kost – Cerita Seks Selingkuh ¦ Waktu terdapat kesempatan, aku tanya pada Mas Mahen soal Mitha. Ternyata dia baru kenal Mitha dua minggu, dan pertemuan kesatunya di empang renang. Seminggu lantas mereka langsung pacaran, kemudian besoknya mereka mengerjakan hubungan badan. Mas Mahen baru kesatu kali tersebut bersenggama, sementara Mitha kelihatannya sudah berkali-kali, soalnya kata Mas Mahen, Mitha telah tidak perawan lagi.

Ngentot Selingkuh Pacar Teman Kost – Cerita Seks Selingkuh ¦ Mas Mahen pun bilang, “Kata Mitha tuh si Rikha masih perawan, dianya agak menyesal pun pacaran sama Mitha, bukan sama Rikha yang masih perawan”.

Aku sempat ngobrol pun sama Rikha, yang kelihatannya cuma bersandar saja di pinggiran. Sekitar jam 19.00 kami berlalu renang dalam suasana menggigil kedinginan, kemudian setelah tersebut memanggil taksi Zebra, sebab entah kenapa, Graha Residen melulu menyediakan taksi Zebra. Tidak kuduga, ternyata taksinya lama sekali datangnya, kami ngobrol-ngobrol lama juga. Mas Mahen asyik ngobrol dengan Mitha, sementara Rikha yang sepertinya dicuekin mulai kuajak ngobrol.

Ternyata Rikha ini masih SMU ruang belajar 2. Di samping suka rokok, katanya dia pun suka minuman keras. Hmm, aku jadi mikir apakah dia pun suka obat-obatan dan.., free seks. Tapi aku tidak berani menanyakannya, terlampau dini ah. hanya yang aku perhatikan, Rikha agak tersipu-sipu membalas pertanyaanku, dan dia tidak berani menatapku secara langsung, justeru sepertinya membungkuk terus. Good sign, pikirku.

Mungkin sekitar separuh jam lantas baru taksinya datang. Lama banget sich..

Ngentot Selingkuh Pacar Teman Kost – Cerita Seks Selingkuh ¦ Akhirnya hingga juga, setelah mengirimkan Mitha dan Rikha, saya dan Mas Mahen pulang. Aku asyik memikirkan pengalamanku barusan, menyimak orang mengerjakan hubungan seks.

Sekitar jam 20.30, Mas Mahen mengajakku pergi, mau membalikkan VCD. Ya sudah, aku ikut saja, siapa tahu disuruh makan juga, berhubung perutku mulai lapar nich. Walau naik sepeda motor, kami tidak gunakan helm, katanya lokasi persewaan VCD-nya dekat. Eh, ternyata memang dekat sekali dan tidak melalui jalan raya. Setelah tersebut Mas Mahen bertanya, “yon, aku inginkan mampir ke lokasi Mitha nich.. Kamu ikut tidak?”. Walau perutku agak keroncongan, berhubung aku “kangen” pun sama Rikha, pingin ngerjain gitu, kesudahannya aku setuju.

Sesampainya di sana, ternyata tidak sedikit orang nongkrong di ruang tamu lokasi tinggal kos itu. Uniknya, yang cewek hanya dua, Mitha dan Rikha, lainnya ciban semua, terdapat 4 orang. Aneh sekali, pikirku. Begitu sampai, Mas Mahen langsung berciuman dengan Mitha kemudian mereka langsung masuk kamar dan.., klik, Aduh.., inginkan ngapain lagi mereka, tak waras bener..

Terpaksa, sebab aku telah telanjur di sana, aku ngobrol dengan orang-orang di situ. Aku sebenarnya lebih suka membual dengan Rikha, namun sayang teman-temannya tidak jarang kali menggangguku.

“Ih anda ganteng dech, anda main seks yuk..”.

Agak senang pun aku dipuji namun main seks dengan mereka, mimpi saja tidak.

Lalu kesudahannya aku punya ide, aku tanya Rikha, “Kamu satu kamar sama Mitha, yach?”

“Tidak tuch, aku sewa kamar sendiri”, jawabnya.

Kebetulan, pikirku, “Hmm.., di mana tuch, aku lihat dong..”

Ngentot Selingkuh Pacar Teman Kost – Cerita Seks Selingkuh ¦ Sesuai perkiraanku, kesudahannya dia mau mengindikasikan kamarnya. Kamarnya serupa di depan kamar Mitha, dan lebih tidak apik dibanding kamar Mitha. Sambil pura-pura meneliti kamarnya, aku lalu memblokir pintu supaya dia tidak curiga, aku langsung bertanya padanya,

“Kamu suka bermukim di sini?”. Lalu kesudahannya kami ngobrol dan berkelakar di atas ranjangnya, bersandar di tembok. Seperti yang kuduga, dia masih terus membungkuk tersipu-sipu membalas pertanyaanku, tidak laksana waktu dia ngobrol dengan teman-temannya, menguatkan istingku bila sebetulnya dia suka padaku.

Di tengah-tengah obrolan, aku tanya, “Rikha, anda kan suka ngerokok, apa tidak dimarahi cowokmu tuh?”.
Dia tertawa kecil, kemudian menjawab, “Suka-suka aku dong, yon, aku belum punya cowo tuch..”.
Ahh.., kebetulan sekali, pikirku, kemudian aku menggodanya, “Ah masa..? Aku tidak percaya ah.., Kamu kan cantik.., pasti tidak sedikit cowok yang ngelirik kamu..”
Rupanya dia agak GR pun dengan pujianku, lalu seraya ketawa lirih dia hanya bilang, “Ah kamu..”.
“Iya bener lhoh..”

Ngentot Selingkuh Pacar Teman Kost – Cerita Seks Selingkuh ¦ Dia diam sebentar, kemudian dia menoleh ke arahku, dan mulai memandangku. Aku menatapnya, kemudian aku tersenyum. Kami berpandangan sejumlah saat. Hmm, alangkah cantiknya dia, pikirku.

Ngentot Selingkuh Pacar Teman Kost – Cerita Seks Selingkuh ¦ Merasa terdapat kesempatan, segera kuarahkan tangan kananku pelan-pelan ke tangan kirinya, kemudian kugenggam dan kuremas pelan-pelan. Dia agak kaget dan menghela napas panjang, seolah tidak tahu apa yang mesti dia lakukan. Pelan-pelan pula, badanku kuhadapkan ke arahnya dan kutaruh tangan kiriku di pinggangnya, kemudian wajahku mulai mendekati wajahnya.

Ngentot Selingkuh Pacar Teman Kost – Cerita Seks Selingkuh ¦ Aku mulai dapat merasakan nafasnya yang semakin cepat dan tidak beraturan. Akhirnya dia memejamkan mata, kemudian kucium lembut keningnya, kemudian pipi kanannya, kemudian pipi kirinya. Aku terdiam sebentar. Matanya masih tetap terpejam. kemudian perlahan-lahan kucium bibirnya yang lembut itu. Dia menjawab dengan menggerak-gerakkan mulutnya. Aku memeluknya, kemudian kami saling mengulum bibir, kemudian memainkan lidah.., Hmm nikmat sekali.

Beberapa ketika kemudian, aku hentikan permainan bibir tersebut lalu aku terdiam. Matanya terbuka, tatap matanya serasa laksana bertanya-tanya. Lalu aku menciumi bibirnya lagi seraya pelan-pelan merebahkannya di atas ranjang. Dia menurut keterangan dari saja, membuatku semakin bernafsu. Lalu aku cium dia pelan-pelan sementara tanganku meraba-raba dan meremas-remas payudaranya yang lumayan besar, “Emhh.., Emh..” dia hanya melenguh saja menciptakan gairahku menjadi semakin naik saja.

Segera kusingkapkan T-Shirt yang dipakainya ke atas, kemudian kuciumi dan kujilati dadanya yang aduhai itu, “Ahh.., Emhh..”, badannya bergoyang-goyang kecil, menciptakan nafsuku semakin naik. Waktu inginkan kubuka kancing BH-nya, dia mengusung badannya sampai-sampai memudahkanku, kemudian kujilati putingnya dan kuhisap-hisap selama sejumlah menit, “Emhh.., Ahh.., Ahh..”

Ngentot Selingkuh Pacar Teman Kost – Cerita Seks Selingkuh ¦ Aku telah tidak tahan lagi, langsung kubuka celana panjangnya kemudian kupelorotkan, kujilati kemaluannya dari luar sebentar, kemudian segera kupelorotkan juga. Hmm.., ternyata rambut kemaluannya masih lebat, jauh lebih lebat daripada kakaknya, sementara lubang kemaluannya masih paling rapat.

Ngentot Selingkuh Pacar Teman Kost – Cerita Seks Selingkuh ¦ Ahh.., baru percaya aku bila dia masih perawan. Kujilati clitoris vaginanya yang paling menggairahkan itu, dia terengah-engah, “Ahh.., Ahh..”, dan sesekali tubuhnya menggelinjang. Kuhisap-hisap dan kujilati unsur dalam lubangnya. Hmm.., nikmat sekali, cairan yang terbit langsung saja kutelan.

Ngentot Selingkuh Pacar Teman Kost – Cerita Seks Selingkuh ¦ Aku telah tidak sabar lagi, tidak hingga 5 menit aku menjilati vaginanya, segera kupelorotkan celana panjang dan celana dalamku kemudian pelan-pelan kumasukkan penisku ke dalam lubang senggama Rikha. Uhh.., agak sulit pun tapi berhubung cairannya sudah lumayan banyak, kesudahannya masuk juga, kurasakan terdapat sesuatu yang merintangi laju penisku, kelihatannya selaput daranya tetapi kuteruskan saja pelan-pelan.

“Aduh!”, pekiknya.
“Rikha, sakit ya? Tahan ya..”, Aku terdiam sebentar, menunggu supaya sakitnya hilang, kemudian mulai kumasukkan lebih dalam lagi pelan-pelan.
“Rikha, masih sakit..?”.
“Iya.., tapi telah agak.., ahh..”, Pelan-pelan sekali kumaju-mundurkan penisku di dalam vaginanya. Hmm, benar-benar nikmat.., benar-benar rapat sekali vaginanya, mengapit penisku yang merasa keenakan.
“Ahh.., ahh.., hmmhh..” kesudahannya dia mulai merasa nikmat, aku jadi berani mempercepat gerakanku.
“Ahh.., Ahh.., Ahh..” Mungkin hanya sekitar 3 menit, dia telah mulai terangsang sekali.”Ah.., yon.., Ah yon.., Aku kelihatannya mau.., ahh..”, Sepertinya dia inginkan orgasme, kesudahannya kupercepat gerakanku dan, “Ahh.., Ahh nikmat yon.., aduh nikmat sekali yon..”. Aku belum orgasme, kemudian kutarik penisku dan kugesek-gesek sendiri dengan cepat dengan tanganku. “Ahh..”, kesudahannya aku orgasme juga, spermaku bertebaran di perutnya.

Setelah kami mencuci spermaku, kami mandi bersama-sama, setelah tersebut kami ngobrol-ngobrol pun di atas ranjang, seraya bermesraan layaknya orang pacaran. Tapi sungguHPun begitu, aku tidak menyukai dia sama sekali dan tidak memandangnya sebagai pacar, walaupun sebenarnya aku sendiri pun belum punya pacar, jahat pun yah aku.

Beberapa puluh menit lantas pintu diketuk oleh Mas Mahen dan kesudahannya kamipun pulang, hingga di lokasi tinggal sudah selama jam 11 malam. Begitu melelahkan.., tetapi begitu nikmat. Aku baru dapat tidur selama jam 2 pagi, entahlah, menginginkan macam-macam.


CERITA SEKS HOT NGENTOT PEMBANTU



Cerita Sex - Cerita ini terjadi pada tahun 1999, bermula ketika aku kembali kantor tidak cukup lebih pukul 14:00, jauh lebih cepat dari seringkali yang pukul 19:00. Anakku seringkali pulang dengan ibunya pukul 18:30, dari lokasi tinggal neneknya. Seperti biasanya, aku langsung mengubah celanaku dengan sarung kegemaranku yang tipis namun adem, tanpa celana dalam. Pada ketika aku terbit kamar, nampak Sumiah sedang menyiapkan minuman untukku, segelas besar es teh manis.

Cerita Seks Hot Ngentot Pembantu ¦ Pada ketika dia akan menyerahkan padaku, tiba-tiba dia tersandung karpet di depan sofa di mana aku duduk sambil menyimak koran, gelas terlempar ke tempatku, dan dia terjerembab tepat di pangkuanku, kepalanya membentur keras kemaluanku yang melulu bersarung tipis. Spontan aku meringis kesakitan dengan badan yang telah basah kuyup tersiram es teh manis, dia bangun mencuci gelas yang jatuh seraya memohon maaf yang tidak henti-hentinya.

Semula aku bakal marah, namun menyaksikan wajahnya yang lugu aku jadi kasihan, seraya aku memegangi kemaluanku aku berkata, “Sudahlah nggak pa-pa, cuman iniku jadi pegel”, seraya menunjuk kemaluanku.
“Sum mesti gimana Pak?” tanyanya lugu.
Aku berdiri seraya berganti kaos oblong, menyahut seraya iseng, “Ini musti diurut nih!”
“Ya, Pak nanti saya urut, namun Sum bersihin ini dulu Pak!” jawabnya.

Aku langsung masuk kamar, perasaanku saat tersebut kaget bercampur senang, sebab mendengar jawaban pembantuku yang tidak disangka-sangka. Tidak lama lantas dia mengetuk pintu, “Pak, Mana Pak yang mesti Sum urut..” Aku langsung rebah dan membuka sarung tipisku, dengan kemaluanku yang masih lemas menggelantung. Sum mendekat pinggir lokasi tidur dan duduk.

“Pake, rhemason apa balsem Pak?” tanyanya.
“Jangan.. pake tangan aja, ntar dapat panas!” jawabku.

Cerita Seks Hot Ngentot Pembantu ¦ Lalu dia meraih batang kemaluanku perlahan-lahan, sekonyong-konyong kemaluanku bergerak tegang, saat dia menggenggamnya.

“Pak, kok jadi besar?” tanyanya kaget.
“Wah tersebut bengkaknya harus cepet-cepet diurut. Kasih ludahmu aja biar nggak seret”, kataku tidak banyak tegang.

Cerita Seks Hot Ngentot Pembantu ¦ Dengan tenang wajahnya mendekati kemaluanku, diludahinya ujung kemaluanku.

“Ah.. tidak cukup banyak”, bisikku bernafsu.

Cerita Seks Hot Ngentot Pembantu ¦ Kemudian kuangkat pantatku, hingga ujung kemaluanku menyentuh bibirnya, “Dimasukin aja ke mulutmu, biar nggak cape ngurut, dan cepet terbit yang buat bengkak!” perintahku seenaknya.




Cerita Seks Hot Ngentot Pembantu ¦ Perlahan dia memasukkan kemaluanku, kepalanya kutuntun naik turun, tadinya kemaluanku kena giginya terus, namun lama-lama barangkali dia terbiasa dengan irama dan tusukanku. Aku merasa nikmat sekali.



“Akh.. uh.. uh.. hah..” Kulumannya semakin nikmat, saat aku mau terbit aku bilang kepadanya, “Sum nanti bila aku keluar, tidak boleh dimuntahin ya, telan aja, sebab tersebut obat bikin kesehatan, bagus sekali bikin kamu”, bisikku. “Hepp.. ehm.. HPp”, jawabnya seraya melirikku dan terus mengulum naik turun.



Akhirnya kumuncratkan seluruh air maniku. “Akh.. akh.. akh.. Sum.. Sum.. enakhh..” Pada ketika aku menyemprotkan air maniku, dia diam tidak bergerak, wajahnya meringis menikmati cairan asing mengairi kerongkongannya, melulu aku saja yang menuntun kepalanya supaya tetap tidak melepas kulumannya.



Cerita Seks Hot Ngentot Pembantu ¦ Setelah aku lemas baru dia mencungkil kulumannya, “Udah Pak?, apa masih sakit Pak?” tanyanya lugu, dengan wajah yang memelas, bibirnya yang basah memerah, dan tidak banyak berkeringat. Aku tertegun memandang Sum yang begitu menggairahkan ketika itu, aku duduk menghampirinya, “Sum anda capek ya, apa anda mau tahu bila kamu diurut pun kamu dapat seger kayak Bapak sekarang!”



“Nggak Pak, saya nggak capek, apa bener sih Pak kalo diurut kayak tadi, bisa buat seger? tanyanya semakin penasaran. Aku melulu menjawab dengan anggukan dan seraya meraih pundaknya kucium keningnya, kemudian turun ke bibirnya yang basah dan merah, dia tidak meronta pun tidak membalas. Aku menikmati keringat dinginnya mulai keluar, saat aku mulai membuka kancing bajunya satu persatu, sama sekali dia tidak berontak sampai tinggal celana dalam dan Bh-nya saja.



Tiba-tiba dia berkata, “Pak, Sum malu Pak, nanti kalo Ibu dateng gimana Pak?” tanyanya takut.

“Lho Ibu kan baru nanti jam enam, kini baru jam tiga, jadi anda tetap bisa buat seger badan”, jawabku sarat nafsu. Lalu seluruh kubuka tanpa penutup, begitu pun aku, kemaluanku telah mulai berdiri lagi. Dia kurebahkan di ambang tempat tidur, kemudian aku berjongkok di depan dengkulnya yang masih tertutup rapat, “Buka pelan-pelan ya, nggak pa-pa kok, aku cuma inginkan urut punya kamu”, kataku meyakinkan, kemudian dia mulai membuka pangkal pahanya, putih, bersih dan paling sedikit bulunya yang mengitari liang kewanitaannya, ingin botak.



Dengan ketidaksabaranku, aku langsung menjilat bibir luar kewanitaannya penolong lugu korban seks majikan, tanpa ampun aku jilat, sesekali aku sodokkan lidahku ke dalam, “Akh.. Pak geli.. akh.. akuhhfh..” Klitorisnya basah mengkilat, berwarna merah jambu. Aku hisap, melulu kira-kira 5 menit kulumat liang kewanitaannya, kemudian dia berteriak seraya menggeliat dan mengapit kepalaku dengan pahanya serta matanya terpejam. “Akh.. akh.. uahh..” teriakan panjang disertai mengalirnya cairan dari dalam liang kewanitaannya yang langsung kujilati hingga bersih.



“Gimana Sum, enak?” tanyaku nakal. Dia mengangguk seraya menggigit bibir, matanya basah kutahu dia masih takut. “Nah sekarang, bila kamu telah ngerti enak, anda coba lagi ya, anda nggak usah takut!”. Kuhampiri bibirnya, kulumat bibirnya, dia mulai menyerahkan reaksi, kuraba buah dadanya yang kecil, kemudian kuhisap-hisap puting susunya, dia menggelinjang, lama kucumbui dia, sampai dia merasa rileks dan mulai menyerahkan reaksi untuk menjawab cumbuanku, kemaluanku telah tegang.



Cerita Seks Hot Ngentot Pembantu ¦ Kemudian kuraba liang kewanitaannya yang ternyata telah berlendir dan basah, peluang ini tidak kusia-siakan, kutancapkan kemaluanku ke dalam liang kenikmatannya, dia berteriak kecil, “Aauu.. sakit Pak!”. Lalu dengan perlahan kutusukkan lagi, sempit memang, “Akhh.. uuf sakit Pak..”. Melihat wajahnya yang melulu meringis dengan bibir basah.



Cerita Seks Hot Ngentot Pembantu ¦ Kuteruskan tusukanku seraya berkata, “Ini nggak bakal lama sakitnya, nanti lebih enak dari yang tadi, sakitnya tidak boleh dirasain..” tanpa menantikan reaksinya kutancapkan kemaluanku, meskipun dia meronta kesakitan, pada ketika kemaluanku tenggelam di dalam liang surganya kulihat matanya berair (mungkin menangis) namun aku telah tidak memikirkannya lagi, aku mulai melayangkan semua nafsuku guna si Sum.



Hanya selama 7 menit dia tidak menyerahkan reaksi, tetapi setelah tersebut aku menikmati denyutan di dalam liang kewanitaannya, kehangatan cairan liang kewanitaannya dan erangan kecil dari bibirnya. Aku tahu dia akan menjangkau klimaks, saat dia mulai menggoyangkan pantatnya, seolah menolong kemaluanku memompa tubuhnya. Tak lama kemudian, tangannya merangkul erat leherku, kakinya mengapit pinggangku, pantatnya naik turun, matanya terpejam, bibirnya digigit seraya mengerang



“Pak.. Pak terus.. Pak.. Sum.. Summ..Sum.. daapet enaakhh Pak.. ahh..” mendengar erangan seperti tersebut aku kian bernafsu, kupompa dia lebih cepat dan.. “Sum.. akh.. akh.. akh..” kusemprotkan seluruh maniku dalam liang kewanitaannya, seraya kupandangi wajahnya yang lemas. Aku lemas, dia juga lemas.



“Sum aku nikmat sekali, berakhir ini anda mandi ya, terus beresin lokasi tidur ini ya!”, suruhku di tengah kesenangan yang kurasakan.

“Ya Pak”, jawabnya singkat seraya mengenakan pakaiannya kembali.



Cerita Seks Hot Ngentot Pembantu ¦ Ketika dia mau terbit kamar guna mandi dia berbalik dan bertanya, “Pak.. kalo kembali siang kayak gini telpon dulu ya Pak, biar Sum dapat mandi dulu, terus dapat ngurutin Bapak lagi”, kemudian ngeloyor terbit kamar, aku masih tertegun dengan omongannya barusan, seraya menoleh ke sprei yang ada bercak darah perawan Sum.



Cerita Seks Hot Ngentot Pembantu ¦ Saat ini Sum masih bekerja di rumahku, masing-masing 2 hari menjelang menstruasi (datang bulannya paling teratur), aku kembali lebih mula untuk bersangkutan dengan pembantuku, namun nyaris setiap hari di pagi hari tidak cukup lebih pukul 5, kemaluanku tidak jarang kali dikulumnya ketika dia membasuh di ruang cuci, pada saat tersebut isteriku dan anak-anakku belum bangun.


Kamis, 08 Agustus 2019

Cerita Dewasa Warung Makan Plus++



Cerita Sex - Aku adalah seorang penggemar masakan. Sudah banyak tempat yang kudatangi untuk mencicipi masakannya. Tetapi aku justru tertarik oleh sebuah warung yang kata teman-teman banyak menyediakan berbagai menu, sebut saja warung plus (WP).

Seperti biasa, malam hari sekitar jam 19:00, sepulang kerja aku selalu mencari tempat untuk makan (maklum bujangan), dan aku teringat oleh kata temanku yang baru siang tadi makan di WP. Karena jarak antara kantor dan WP agak jauh maka aku segera buru-buru melarikan mobilku. Sesampainya di sana aku agak bingung, karena begitu banyak mobil dan motor yang parkir. Tanpa pikir panjang kuparkir di tempat yang agak jauh. Mobil yang parkir di situ rata-rata adalah mobil luar kota, kebanyakan plat L dan W. Ketika memasuki WP, di sana ada banyak meja yang kosong, sempat aku berpikir, "Apakah aku salah tempat?"

"Ndhut.." kulihat seorang teman memanggil diriku.
Aku biasa dipanggil Gendhut oleh teman karena perut yang agak menonjol, mungkin karena terlalu banyak makan.
"Den, ngapain di sini?" tanyaku ke Deny, karena kulihat di mejanya hanya ada sebotol Fanta dan gelas.
"Lagi nunggu," sahutnya.
"Nunggu apa? Makanan?" tanyaku penasaran.
"Lagi nunggu servis," balasnya yang membuatku penasaran.
"Servis apa? Mobil?" tanyaku semakin penasaran.
"Lha kamu mau apa?" Deny balik bertanya.
"Makan," jawabku polos.
"Wah kuno kamu, di sini ada servis selain makan dan minum," balas Deny sambil menyeringai.

"Mas, mau pesan apa?" tanya seorang cewek yang sempat membuatku terkejut.
"Eh.. di sini ada apa aja?" jawabku.
"Di sini ada cewek," sahut Deny seraya mengerlipkan sebelah mata kepada cewek tadi.
"Ah.. Mas Deny ini, genit ah.. kan pelanggan baru kalau nggak mau bagaimana?" jawab si cewek agak manja.
"Saya pesan nasi campur dan es jeruk yang lainnya nanti saja," jawabku sambil memperhatikan cewek yang akhirnya kutahu namanya adalah Mina.

Mina adalah pegawai di warung itu, selain cantik juga mempunyai tubuh yang lumayan, tinggi; sekitar 170 cm, kulit; putih mulus, dada; sekitar 36, pinggul; seksi (apalagi kalau berjalan). Sambil makan dan berbincang dengan Deny, baru kutahu kalau si Deny ini sering ke sini, makanya dia berani menggoda Mina. Selesai makan Deny mengajakku ke sebuah ruangan di dalam warung itu, ruangan itu tidak terlalu lebar tapi sangat panjang dan memiliki banyak kamar dan hanya ada satu pintu untuk masuk dan keluar. Kulihat Deny memasuki kamar pertama, dan ternyata di situ adalah tempat receptionis dan seorang wanita yang sedang menulis-nulis sebuah buku (sepertinya buku administrasi).

"Mbak, ada yang kosong?" tanya Deny.
"Ada, ehm.. mau dua atau satu Den, atau.. masing-masing dua?" sambil melihat ke arahku.
"Masing-masing satu aja, ini temanku baru pertama kali ke sini," kata Deny.
"Oke, mau yang mana?" tanya wanita itu sambil memberikan foto-foto cewek lengkap dengan nama dan umur mereka di balik foto-foto itu.
"Eh.. kamu mau yang mana?" tanya Deny kepadaku.
Kemudian aku melihat separuh foto-foto itu karena yang separuhnya sedang dilihat Deny. Tak lama setelah kami bertukar foto, aku memilih sebuah foto yang dibaliknya ada nama Putri dan berumur 20 tahun.
"Oke, silakan tunggu di kamar 30 dan 31!" jawab wanita itu sambil memberikan kunci kamar nomor 30 kepadaku.

Sambil berjalan menuju kamar 30, aku sempat mendengar suara desahan nafas yang sangat kuhafal karena sering menonton film biru. Ketika aku sampai di depan pintu kamar seorang cewek cantik berusia sekitar 18 tahun menghampiriku dan bertanya,
"Mau sama Mbak Putri ya Mas?" tanyanya.
"Iya.." jawabku sambil mengamati wajah dan tubuh yang hanya mengenakan kaos ketat tipis tanpa BH dan celana ketat pendek (sepertinya celana untuk senam).
"Mas baru pertama ya ke sini?" tanyanya menyelidik.
"Iya.. kok tahu?" sahutku.
"Iya, tahu dong kan yang masuk sini selalu saya perhatikan dan kebanyakan hanya om-om. Oh iya nama saya Nani. Situ siapa?" tanyanya.
"Aku Charles. Masuk yuk, di dalam kan lebih enak!" sambil membuka pintu kamar dan menutup setelah Nani masuk.

Setelah berbincang dengan dia baru kutahu kalau dia anak pemilik warung yang tidak diperhatikan oleh orangtuanya karena sibuk dengan urusan warung, makanya dia berada di ruangan itu tanpa sepengetahuan orangtuanya. Tak berapa lama kemudian pintu kamar terbuka, ternyata Putri yang kupesan tadi.

"Maaf, lama menunggu ya," kata putri.
"Udah dulu ya Mas, Mbak putri sudah datang, silakan bersenang-senang," kata Nani.
"Lho, Nani nanti kalau ibu tahu kamu bisa dimarahi lho," kata Putri.
"Cuek aja, yang penting bisa happy (sambil keluar dari kamar)," kata Nani.
"Mas sudah lama nunggu ya?" tanya Nani.
"Ah enggak kok, lagian kan ada Nani," kataku.
"Saya ke kamar mandi dulu ya, Mas buka saja dulu pakaiannya supaya lebih rileks," kata Putri.



Setelah Putri masuk kamar mandi, kubuka baju dan celana sampai telanjang bulat. Sambil menunggu kuperhatikan kamar itu, ternyata itu adalah kamar Putri, di sana banyak foto Putri sedang in action. "Wah Mas kok nafsu banget, nggak pakai pemanasan?" tanya Putri menyadarkanku dari lamunan. Ternyata Putri sudah tidak memakai apa-apa kecuali handuk yang hanya mampu menutupi dadanya yang kalau dilihat dia berukuran 35D itu, dan daerah liang senggamanya hanya tertutupi oleh bulu kemaluan yang tidak terlalu lebat.
"Mas, kok ngelamun?" tanya dia lagi.
"Wah tubuhmu bagus sekali," jawabku.
Tanpa basa-basi kutarik tubuh itu dan kuciumi bibir tipis yang membuat wajahnya menjadi cantik. Putri tidak membalas ciuman pada menit pertama, tapi lama kelamaan dia mulai membalas ciumanku dengan sangat buas. "Mas rebahan di kasur ya! biar bisa isep itu," sambil menunjuk ke arah kemaluanku yang tak terasa sudah mulai menegang.

Aku langsung saja tiduran dan dia membuka handuk yang menempel tadi dan menjatuhkannya di lantai. Ternyata aku salah menilai susu yang besar itu, ternyata berukuran 36D. Setelah menaiki kasur dia langsung menciumi bibirku dan perlahan mulai turun dan akhirnya dia mengulum batang kemaluanku yang berukuran sekitar 15 cm itu. Aku pun menikmati permainan itu, secara perlahan dia mulai menaikiku dan mengarahkan batang kemaluanku yang sudah siap perang ke arah lubang kemaluannya. "Bless.." dan, "Ah.." Putri mendesah sambil memejamkan matanya. Agak lama dia terdiam dan aku merasakan sesuatu yang memijit batang kemaluanku di dalam lubang kemaluannya. Dia mulai membuka mata dan menaik-turunkan pinggulnya.

"Ah.. ah.. ah.. Mass.. ah.. ennaaknyaa.. ah.." sambil terus menaik-turunkan pinggulnya. Sampai akhirnya dia menjerit "Mass.. aku.. mauu.. keluuarr.. ah.." kurasakan ada cairan yang menyemprot kemaluanku dengan derasnya. Namun aku masih belum bisa menerima perlakuan ini, aku ganti posisi sehingga aku berada di atas dan dia membuka kakinya lebar-lebar seakan menyambut kedatangan kemaluanku. "Ayo Mas, puaskan Mas, basahi memek ini Mas." Tanpa ba bi bu, aku langsung menggenjot dia sehingga dia mengalami klimaks yang kedua kalinya.

"Aaah.. aah.. aah.. Maass.."
"Puutt.. aku.. su.. dah.. nggak.. kuaat.. ah.."

Kuakhiri kata-kata terakhir sambil memuncratkan spermaku ke dalam lubang kemaluannya. "Mas ini kuat sekali ya, aku belum pernah seperti ini," katanya sambil lubang kemaluannya memijit batang kemaluanku yang masih tegang di dalam. "Aku juga Put, belum pernah merasakan yang seperti ini (hanya alasan supaya senang)." Dan kami melakukannya sekali lagi karena kemaluanku masih tegang dan dipijat terus oleh lubang kemaluannya, jadinya tidak bisa tidur walau sudah keluar. Setelah selesai aku membersihkan diriku di kamar mandi. Selesai mandi aku keluar kamar dan melihat Putri tertidur, aku langsung saja keluar kamar, eh.. ternyata Deny sudah lama menungguku dan dia sudah membayar ongkos service tadi. Aku pun pamit dan berterima kasih pada Deny karena sudah malam dan besok masih ada pekerjaan yang menunggu di kantor.

Pada hari Sabtu sore aku berjalan-jalan di sebuah pertokoan di dekat alun-alun. Kulihat jam sudah menunjukan pukul 18.00 dan perutku sudah mulai lapar. Ketika mencari sebuah rumah makan aku melihat ada seorang gadis yang duduk sendiri membelakangiku dan tampaknya gadis itu adalah Nani anak dari yang punya WP, dan kusapa dia.



"Hi, Nan.." sapaku.
"Oh, Mas Charles.." kata Nani.
"Sendiri?" tanyaku.
"Nggak, sama teman," jawabnya.
"Sama pacar?" tanyaku lagi.
"Pacar? belum punya tuh," katanya.

Tak lama kemudian ada sepasang muda-mudi yang bergandengan tangan ke arah kami.

"Mas kenalin ini teman saya Erika dan Budi," kata Nani.
"Nama saya Charles," kataku memperkenalkan diri.
"Saya Erika," kata Erika.
"Budi," kata Budi.
"Kok lama banget sih, kamu lagi pesan atau buat masakan?" tanya Nani.
"Kan antri non," kata Erika.
"Char, kamu nggak pesan?" tanya Budi.
"Sudah tadi (ketika sedang berduaan)," kataku.
"Nan, kamu nanti ikut kami nggak? Berempat kan asyik," kata Erika.
"Tanya dulu dong, masa langsung angkut. Mas Charles ada acara nggak?" tanya Nani.
"Nggak ada," kataku.
"Mau ikut kami?" tanya Nani.
"Ke mana?" tanyaku.
"Ada deh," kata Nani.
"Boleh, lagian besok libur kantor, nganggur," kataku.

Sambil makan aku memperhatikan Erika yang tak kalah cantik dibanding Nani, tingginya sekitar 160 cm, dadanya sekitar 34, kulitnya coklat, pinggulnya agak kecil (lumayan). Setelah makan kami menuju ke areal parkir. Karena masing-masing bawa mobil (aku dan Budi) maka aku satu mobil sama Nani karena dia yang tahu mau ke mana. Saat di dalam mobil dia banyak cerita tentang temannya yang akhirnya kutahu kalau mereka itu sedang berpacaran dan sudah bertunangan. Ketika akan melewati sebuah hotel Nani menyuruhku untuk masuk ke dalam hotel itu.

"Mau nginap?" tanyaku.
"Ya ke sini ini tujuan kita," kata Nani.

Sambil mencari tempat parkir aku berpikir kalau aku sedang mendapat kejutan akan berkencan dengan seorang gadis yang cantik dan gratis karena dia yang mengajak. Setelah menemukan tempat yang aman dari teman sekantor, kami masuk ke dalam dan teman Nani sudah memesan sebuah kamar VIP. Kami pun berjalan mengikuti belboy yang menunjukkan di mana kamar kami. Sesampainya di kamar, Budi memberi tip kepada belboy dan menutup pintu kamar. Kamar yang unik menurutku (karena belum pernah masuk), ada dua kasur besar di dalam dua ruangan tanpa pintu yang berseberangan, sebuah ruang tamu lengkap dengan TV, kulkas, AC dan sebuah meja kecil dengan telepon. Kami berempat duduk berpasangan di ruang tamu, aku dengan Nani dan Budi dengan Erika. Tanpa menunggu aba-aba Budi langsung menciumi Erika, dan kurasakan tangan Nani mulai membelai pahaku. Aku pun langsung memeluk Nani dan menciumi bibir sensualnya. Nani pun membalas ciuman itu dengan buas dan liar bagai singa sedang memakan mangsanya. Kemudian Erika bertanya,



"Nan, kamu kamar yang mana?"
"Terserah deh, pokoknya ada kasurnya," kata Nani.
"Aku masuk dulu ya," kata Erika.
"Aku juga ah.. nggak enak di sini," kata Nani.

Sambil menarikku ke dalam kamar dan membaringkan aku dengan sedikit mendorong.
"Mas, aku akan servis kamu lebih dari yang pernah kamu alami," kata Nani.
"Boleh aja, asal bisa tahan lama," kataku.

Nani membuka pakaiannya sambil melenggak-lenggokkan pinggul layaknya seorang penari striptease. Setelah pakaiannya habis dia berjongkok sambil menciumi batang kemaluanku yang sudah tegak di dalam celana. Sambil menciumi dia membuka celana dan aku membuka baju sampai telanjang bulat. Dia langsung menciumi dan menjilati kemaluanku yang sudah tegak berdiri dengan gagahnya.
"Mas besar sekali?" tanya Nani.
"Tapi enakkan.." kataku.
"Iya.." katanya.
Kemudian kutarik tubuhnya sehingga aku dapat menciumi lubang kemaluannya dan dia tetap dapat mengulum kemaluanku.
"Mas.. lidahnya.. nakal.. auw.. ah.." katanya sambil mendesah.
"Kamu juga pintar mainin lidah," kataku.
"Mas.. masukin.. aja.. ya.. aku.. pingin.. ini.." kata Nani.

Sambil memutar tubuhnya, sayub-sayub aku mendengar jeritan nikmat dari kamar seberang.
"Ah.. Mas.. nikmat.. Mas.. ah.." katanya ketika batang kemaluanku masuk dan sambil menaik-turunkan pinggulnya aku merasakan batang kemaluanku mendapat hisapan yang sangat kuat.
"Mas.. oh.. ah.. Mas.. enak.. ah.." desah Nani.
"Ka.. muu.. juga.." selang agak lama dia mulai mempercepat genjotannya dan akhirnya dia orgasme.
"Ah.. Mas.. ah.. enak.."
Aku tahu dia sudah lemas, maka aku membalikkan tubuhnya sambil batang kemaluanku tetap di dalam dan mulai menggenjot tubuhnya.
"Oh.. Mas.. yang keras.. Mas.. ah.." dia berkata sambil mengangkat kedua kakinya sehingga aku dapat menciumi betisnya.

Tak berapa lama, "Mas.. aku.. mau kegh.. luar.. ah.. Mas.. nggak.. kuat.." teriaknya.
"Ta.. han.. sebentar ya.. aku.. juga.. hmmff," aku mempercepat gerakan dan akhirnya..
"Mas.. ah.. aku.. keluar.. Mas.. aagh.. hmmff.. hmmff.."
"Ah.. ah.. oh.."
Kami mengeluarkan secara bersamaan dan aku mencium keningnya dan dia pun membalas mencium dadaku sambil sedikit menggenjot secara halus untuk mengeluarkan sisa sperma yang belum keluar. "Plok, plok, wah hebat bener sampai Nani harus dua kali keluar," kata Erika yang sedang memperhatikan kami, ternyata dia dan Budi sudah lama menonton pertandingan kami dan kami tidak menyadarinya.

Setelah membersihkan diri kami berkumpul di ruang tamu sambil berbincang tanpa sehelai benang yang menempel.
"Gimana Nan enak?" tanya Erika.
"Luar biasa Er, aku belum pernah seperti ini," kata Erika.
"Kalau sama aku?" tanya Budi.
"Kamu sih nggak ada apa-apanya sama dia?" kata Nani sambil menyandarkan kepalanya di dadaku.
"Masa?" tanya Budi.
"Iya, punya dia kan lebih besar dan lebih lama," kata Nani.
"Kalau lama aku mungkin bisa kan biasanya melayani kalian berdua jadinya capek kan," kata Budi.
"Gimana kalau nanti kita tukar, aku sama Charles dan kamu (Nani) sama Budi," kata Erika.
"Wah rugi aku dapat Budi," kata Nani.
"Menghina ya," kata Budi.
"Nggak pa-pa Nan, aku kan juga pingin ngerasain," kata Erika.
"Kamu mau nggak Mas?" tanya Nani kepadaku.
"Boleh, tapi biasanya yang kedua lebih lama," kataku.
"Waduh, rugi dua kali nih," kata Nani.
"Kamu kan kapan-kapan bisa berduaan lagi, kalau aku kan mau menikah," kata Erika.
"Iya deh," kata Nani.

Setelah itu Erika dan Nani bertukar tempat dan sekarang Erika berada dalam pelukanku sedangkan Nani bersama Budi. Selang agak lama berbincang-bincang Erika mulai meraba-raba dadaku dan memberikan ciuman kecil pada pentilku. Aku pun membalas dengan membelai lembut buah dada yang tampak menggairahkan itu. Tak lama kemudian Budi menggendong Nani dan membawanya memasuki kamar tempat Erika dan Budi bermain pada mulanya. Sedangkan Erika semakin buas dan segera mengulum batang kejantananku yang masih tidur dengan nyenyaknya. Aku pun menikmati perlakuan yang diberikan Erika kepada batang kejantanan yang sekarang setengah tiang itu. Tampaknya Erika sangat ahli dalam hal mengulum, buktinya tidak lama kemudian adik kesayanganku itu terbangun dalam keadaan siap tempur. Aku menjadi tidak sabar dengan keadaan itu maka dengan nafsu yang besar kugendong tubuh Erika menuju ke kamar yang satunya lagi.

Di dalam kamar langsung kulempar tubuh itu ke atas kasur dan aku pun mulai menciumi daerah liang senggama Erika yang sudah terlihat sangat merangsang. "Emh.. emh.. ahh.." tampaknya Erika mulai merasakan rangsangan yang aku berikan. "Mas.. aku.. pingin.. Mas.. ah.." setelah berkata, dia langsung membalikkan badannya dan sekarang posisi kami saling berhadapan dengan dia di atas dan aku di bawah. Dia mulai mengarahkan batang kemaluanku ke arah kemaluannya dan.. "Ahh.." amblaslah batang kemaluan yang lumayan besar itu. Tanganku pun tak mau tinggal diam, meremas-remas buah dada yang sedang mengayun-ayun di atas dadaku. "Emh.. ah.." dia pun mulai memainkan pantatnya. Tak berapa lama dia mengejang dan menurunkan pantatnya sampai batang kemaluanku amblas tak terlihat, rupanya dia sudah orgasme, tapi dia tidak seperti habis orgasme tetap menaik-turunkan pantatnya malah semakin cepat. Aku pun merasa nikmat dan dalam waktu singkat aku pun orgasme. Kami pun tertidur kecapaian sambil kemaluanku tetap di dalam liang senggamanya dan kepalanya berada di dadaku. Keesokan harinya kami pulang ke rumah masing-masing


Jumat, 02 Agustus 2019

Diriku Dan Nafsu Besarku



Cerita Sex -  Aku adalah seorang pegawai sebuah perusahaan di Aceh. Aku sudah menikah sejak tahun 2014, dengan seorang wanita bernama Wulan. Adik iparku (adik kandung istriku) menikah dengan seorang wanita bernama Rini yang menjadi teman selingkuh ku untuk beberapa waktu.

Sedikit curhat, pernikahanku kali ini di ujung tanduk. Yah kalau diliat dari biografi singkat yang kuceritakan di atas, bisa diambil kesimpulan apa dan siapa penyebabnya. Yak, selingkuh dan aku pelakunya. Untungnya, teman selingkuhku yang ketahuan kali ini bukan istri adik iparku, melainkan “teman” dari aplikasi media sosial “KitaNgobrol”. Ruginya, ya banyak banget. Salah satunya adik iparku sontak memusuhiku, sekaligus istrinya terpaksa ikut perintah suaminya. Rini (Dalam suatu kesempatan, Rini bertemu dan langsung memohon agar hubungan kami jangan disebarluaskan. Aku pegang tangannya dan kupastikan bahwa aku bukan orang seperti itu. Sampai sekarang kami belum berkomunikasi lagi)



Pertengkaran dengan istriku tidak bisa dielakkan. Aku hanya mampu menyembunyikan bahwa aku baru melakukannya sekali , dan memastikan itu hanya coba2 dan tidak akan pernah terulang lagi. Tapi yang namanya emosi kadang tidak bisa dikendalikan, istri mengamuk sejadinya dan membawa masalah ke ranah keluarga besar. Berabe.

Akupun terpaksa pindah ke tempat kos karena istri muak liat wajahku. Dalam keadaaan terlunta2 mental dan tertekan seperti ini, aku pun berusaha mencari pelarian dengan menginap di kantor dan merepotkan pegawai lainnya dengan sesekali nginap di rumah mereka.

Adalah rekan kerjaku sejak tahun 2016 kemarin, bernama Putri, seorang wanita kelahiran medan berdarah batak. Putri ini seorang alpha-woman-type, artinya keras kepala dan cenderung egois. Awal mula kehadirannya saja sudah langsung nyuruh2 orang lain jelasin peraturan/SOP ke dia, padahal jelas orang lain itu (aku) jauh lebih lama bekerja disini.

Soal perawakan, Putri tidak didukung wajah yang menarik. 3-size-measurement? Minus malah di bagian depan. Parahnya, putri lebih senang untuk tidak memakai make-up bahkan dalam situasi formal sekalipun. Makanya di usia nya yang menginjak 30 tahun ini, aku paham kenapa pacarnya mutusin dia. Padahal kalau memakai make up, Putri dapat kelihatan lebih menarik.

Kami sudah setim hampir 2 tahun lamanya. Baik profesional ataupun urusan personal sudah sering kami bahas. Makanya ketika dia tahu aku bertengkar dengan Wulan, dia langsung bertanya “Kau apain dia?” dengan gaya khas anak bataknya. Kalau sudah pake gaya begini, mendingan dijawab dengan serius atau langsung cabut, sebelum diajak debat yang ujungnya ngabisin energi.

Akupun menerangkan secara garis besar apa masalahnya. Kata2 bodat pun keluar dari mulutnya ditujukan padaku. Aku hanya bisa tersenyum meringis, membayangkan bahwa rekan kerja ku pun bakal memusuhiku (aku mengerti kenapa, kan dia diputusin pacarnya . Jadi dimata dia, aku sama brengseknya dengan mantan co nya). Hari aku menceritakan kasusku, adalah hari dimana Putri sama sekali tidak memperdulikanku. Untungnya kerjaan kami sedang tidak banyak dan mampu kuhandle sendiri. Tapi aku bertekad baikan sama dia, karena urusan kantor memang tidak boleh bercampur dengan urusan pribadi. Sangat mempengaruhi output dan kinerja.

Esoknya kubeli sebatang chunky bar dan sebungkus chitato besar. Berhubung meja kami sebelahan, gampang saja kutawarin dia makanan tersebut. Dengan pelototan dan jawaban ketus, dijawabnya tidak. Aku langsung ketawa2. Kuhimbau pada nya untuk tidak melarutkan masalahku ke profesionalisasi kami. Dia menatapku dan menjulurkan tangannya ke bungkus chitato. Yah, setidaknya rekan kerjaku tidak memusuhiku.

Untuk meredakan bencinya, kubiarkan dia sepanjang pagi itu merepet dan memaki ku atas tindakan ku kepada Wulan. Tidak sekalipun kusanggah, tidak sekalipun kutepis. Suaranya sampai bergetar, air mata mulai memupuk di matanya. Aku hanya bisa bilang maaf berulang kali. Siangnya, suasana sudah mulai berubah karena dia mulai bertanya di mana aku tinggal.

“sesekali di kantor” jawabku. “hah, tidur dimana kau?” tanya nya. “noh korsi2 itu kalo dijejer bisa buat tempat tidur. Yang penting punggungku nyandar aja”. Dia geleng2 kepala dan bilang aku gila. Padahal dia ga tau kalo tinggal di kantor dengan air bersih, listrik gratis, serta wifi dengan kuota gede itu menyenangkan <<< korupsi. Kami pun kembali fokus ke kerjaan masing2.

Selepas istirahat, darah batak yang mengalir di tubuhnya kembali menghangat. Tapi tidak memanas, hanya interogasi kecil yang ingin dituntaskannya.

Putri (P) : Kok bisa lah kau gituin dia rud?
Aku (A) : bah, masih belum puas?
P : bukan loh, ga abis pikir aku soalnya. Kalian (red:laki2) kek ga ada puas2nya. Ngebuang bunga demi sampah di jalan
A : Ini mau digimanain lagi coba? Aku kan dah minta maaf juga. Penyesalan kan selalu datang telat, kalo di awal kan namanya pendaftaran.

Berkat perkataan cuek ku, aku berhasil membuatnya tertawa. Mungkin, mungkin karena aku belum “menyentuh” wanita selama 3 minggu terakhir, tawa dan ekspresi Putri membuat nafsuku tidak stabil. Wanita rekan kerjaku selama ini yang kuliat biasa saja, bahkan cenderung tidak menarik perhatianku, membuat insting lelaki ku aktif. Tanpa sadar, aku memegang kedua tangannya yang bersila di paha nya. Kugenggam dan kutatap matanya sambil tersenyum.

Putri kaget dan langsung menarik tangannya. Aku kembali mengeluarkan perkataan cuek “Lumayan megang tangan cewek” sebelum dia berkata apa2. Putri langsung merespon “segitu pengennya ya?”, yang langsung kujawab “udah hampir sebulan loh. Bosen pake tangan sendiri”. Putri langsung melotot tajam “Jadi kau kira aku tempat pelampiasan?” dengan nada meninggi. Akupun langsung berkilah “enggak loh put. Bukan pelampiasan, kau tempat aku mencurahkan rinduku” disertai senyum seringaiku, berharap ini tidak jadi pembantaian umum.



Putri langsung menjawab “sama aja kampret” dan kembali menghadapi kerjaannya. Dalam artian lain, sebenarnya aku sudah di zona selamat karena berhasil mengalihkan pembicaraan kasus ku ke mesumku. Namun, sekarang otakku dipenuhi pikiran mesumku. Aku ingin bersetubuh. Tepatnya, aku ingin memasukkan alat kelaminku ke lubang kenikmatan Putri. Kupandangi tubuhnya terutama di bagian payudara. Sadar aku memperhatikan dirinya, Putri balas menatap tajam dan sedikit membentak “apa?”

Pikiranku langsung cepat bereaksi. Putri adalah seorang alpha-type, dia ga akan segampang itu peduli, meskipun kepada rekan kerjanya sendiri. Pikiranku berlanjut, Putri sudah lama tidak pacaran. Ini berarti taruhan 50-50. Aku harus mencoba, batinku berkata.

“Enggak. Aku cuma mau pijet2 badanmu aja” sergahku sambil mengarahkan kursi ku ke belakang nya dan sekaligus memegang bahu nya. Putri sedikit berteriak “apaan seh?” sambil menepis tanganku dari bahu nya. Langsung sigap kutangkap tangannya. Putri langsung melotot tajam sambil berkata “Rud, aku marah. Lepasin”.

Taruhanku sepertinya salah. Tapi otakku masih dipenuhi pikiran mesum. Dengan sedikit tercekat, aku mengeluarkan kata2 “Put, tolong aku put” sembari tidak menghiraukan perintahnya untuk melepaskan tangannya. Putri menjawab tegas “ENGGAK. LEPASIN”. “Put, bantuin napa. Ga usah sampe “kesana” deh. Bantuin aku “keluar” aja. Janji (janji? lol)” kataku dengan penuh harap sambil tetap memegang tangannya.

Putri terdiam sejenak. Disaat seperti ini, aku tidak membiarkannya berpikir. Aku langsung menyambung perkataanku “Iya ga sampe ngapa2in. Nanti aku bantuin juga kau deh” sambil menurunkan tangan kami berdua ke arah paha nya. Aku memanjangkan jari kelingkingku ke arah paha nya, sedikit membelai, berharap semoga rangsangan ini sampai. Putri tidak berkata apa2. Putri diam, seperti terpasrah. Aku celingak- celinguk liat keadaan, dan langsung menghambur ke depan memeluk putri seraya berkata “Makasih ya put”. Aroma rambutnya menelusuk hidung, bercampur dengan nafsu yang ingin segera kutuntaskan. Putri berbisik “jangan disini. dimana?”. Akupun berdiri, memberinya kode untuk mengikutiku ke ruang kesehatan.



Ruang kesehatan kantor kami terletak di ujung lantai 2. Ruang ini sederhana, hanya ada tempat tidur rawat, meja dan kursi kerja dokter, kursi tunggu dan AC. Ruangan ini serba praktis, sering dipakai untuk tempat istirahat ataupun tempat kongkow. Dan seperti biasa, kunci ruangan ini selalu tertinggal di dalam. Mungkin memang ada pegawai atau pejabat lain yang memakai nya seperti yang akan kulakukan. Tapi itu bukan urusanku.

Putri pun masuk. Aku langsung mengunci pintu dan mendekap dia dari belakang. Tangan kananku langsung menggerayangi payudaranya, sedang tangan kiriku membelai area wanita nya dari luar celana hitamnya. Kali ini putri tidak bisa terdiam. Suara lirihan kecil mulai terdengar di telinga kiriku. Putri langsung membalikkan badan dan menyambar mulutku dengan mulutnya. Bibir kami beradu, aku berusaha memasukkan lidahku ke mulutnya. Sedikit kuremas payudaranya barulah lidahku bertemu dengan lidahnya. Tangan kiriku bergerilya masuk kedalam celananya. Gila ya put, pikirku dalam hati. Kuyakin kau juga menginginkan hal ini. Kau juga merindukan diginiin. Buktinya dengan basahnya celana dalammu.

Jari tengahku menerobos masuk ke liang vaginanya. Ciuman Putri mulai tak teratur dan terlepas. Desahan tertahan keluar dari mulutnya, yang memancing ku untuk meneruskan foreplay ini lebih lanjut. Tangan kananku bergerak melolosi kancing kemejanya, hingga Bh hitamnya terpampang dan tanganku bebas merabanya. Lidahku sekarang bergerak di leher kiri Putri, tangan kananku memilin dan meremas apa yang dapat di raihnya dibalik Bh hitam tersebut. Tangan kiriku tetap dinamis mengorek isi dalam lubang itu. Pikiranku dipenuhi dengan nafsu. Aku yakin putri sudah lupa dengan janji ku (janji yang mana? hahaha)

Kudorong pelan Putri ke arah meja kerja dokter. Putri mengerti dan duduk diatas meja tersebut. Kutanggalkan celana Putri, kulepaskan celana dalamnya sehingga liang kenikmatan yang sudah basah itu terpampang di hadapanku. Putri terkangkang pasrah di hadapanku, hanya kemeja yang terbuka separuh dan Bh hitamnya yang melekat di badannya saat ini. Kumajukan kepalaku untuk melekatkan mulutku ke vagina Putri. Sepertinya Putri juga mengharapkan ini, terbukti dengan dijambaknya rambutku ketika cairan vaginanya mulai kuisapi. Desisan desisan nafsu ini semakin membangkitkan gairahku.

Aku menurunkan celanaku. Kuhisap kembali lidah Putri sambil melepaskan Bh hitamnya. Kupilin putingnya dan aku berbisik di telinganya “Enak sayang?”. Putri menggigit pundakku sebagai jawaban. Kuciumi lehernya, kupermainkan puting payudaranya, kutekan2 klitorisnya. Sepertinya Putri akan membantu ku keluar kali ini. Tangannya menggenggam k0ntolku, naek turun, dan mulai mengarahkannya ke vaginanya….tanpa kuminta. Aku harus membantu Putri juga. Kudorong perlahan batangku, sekujur badanku dipenuhi kenikmatan duniawi itu. Kudorong terus sampai melekat kelamin kami. Kutatap mata Putri, kami kembali berciuman, dan Putri kembali menggigit pundakku.

Kami saling menyangga dan mengkait ketika aku mulai menggerakkan batangku maju-mundur. Setiap hentakan yang kulakukan dibalas dengan baik oleh goyangan Putri. Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi apabila kami ketahuan. Putri pun sepertinya sama. Bunyi meja berderit, desahanku, desahan Putri aku rasa dapat menjelaskan keadaan kami pada orang yang mungkin sedang tepat ada di luar ruangan. Aku tidak peduli. Putri sekarang terlentang di atas meja, kaki kiri nya kuangkat ke pundakku yang barusan digigitnya. Kupacu kembali tempo tadi. Putri semakin belingsatan. Tangan kiriku menekan klitorisnya. Gerakan putri semakin tidak karuan. Aku tetap memaju-mundurkan batangku di dalam lubang yang semakin basah tersebut.

Kenikmatan ini ekstasi bagi kami. Putri sepertinya kelelahan setelah batangku dipijat vaginanya beberapa kali. Kedua kakinya kuangkat, kucium betis nya seraya kembali menghentakkan batangku. Aku hampir keluar. Kupercepat irama gerakan pinggulku sebisa yang aku mampu. Makin cepat dan tak terkendali, Putri sudah seperti kehabisan napas, deritan meja makin keras, aku mulai teriak, teriak kenikmatan yang kulepaskan seketika cairanku mengisi dalam lubang vagina itu. Aku goyangkan terus, meresapi sisa2 kenikmatan yang masih ada.

Putri bangkit duduk dan merangkul leher ku, mencium ku, dan berkata “Enak sayang”. Aku pun tersenyum dan menjawab “Makasi ya sayang. Benar2 nikmat abang rasa” (padahal kami seumuran. Aku memakai kata abang ke dia biar mesra soalnya. hahaha). Aku langsung mengambil tisu dan mengelap baik kelaminku dan kelamin Putri. Putri sedikit merasa geli ketika kusentuhkan tisu itu ke vaginanya. “Padahal tadi niatnya cuma pake tangan. Aku malah mau pake mulut. Ujung2 nya ngentot juga kita ya” Ujarnya sambil tersenyum cemberut. Aku tertawa dan berkata “Lain kali di tempat tidur yok put. Mau?” . Putri hanya tersenyum mengangguk. Kami berdua bergegas memakai pakaian kami dan meninggalkan ruangan tempat pengalaman pertama kami, dengan disertai rasa was was dan teliti agar tidak ada bukti yang tertinggal. (Bersambung?)